---“Saat
mulai belajar di Fakultas Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar, waktu itu
saya sudah menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas
Kairo, spesialis ilmu bedah. Bahkan sudah berkeluarga dan diterima bekerja di
sebuah rumah sakit. Jadi harus membagi waktu seefektif mungkin antara belajar,
karir, keluarga dan yang terpenting ibadah.
Suatu
hari saat mengemudi mobil sepulang kuliah, di gerbang Kampus saya mendapati
dosen kami Dr. Kamal Abdul ‘Azhim Al-Kinani tengah menunggu angkutan. Saya tawari
dosen sepuh yang tawadhu’ dan bersahaja itu untuk ikut di mobil saya, beliau
mengiyakan. Kehormatan besar berkhidmah pada seorang ulama Rabbani.
Dalam
perjalanan mengantar beliau menuju kediamannya, mobil melaju melalui ittijah
Rumah Sakit tempat saya bekerja. Saya teringat ada sedikit keperluan penting
yang harus saya selesaikan. Saya meminta ijin kepada Syaikh untuk mampir
sebentar saja di Hospital. Dengan senang hati ia mempersilakan. Saya bergegas masuk
Hospital, sementara ia menunggu di dalam mobil.
Tanpa
disangka, di dalam ada pasien masuk ruang operasi dan butuh bantuan dokter
tambahan. Dengan cepat saya turun tangan menjalankan amanah kerja. Proses
operasi berlangsung sekitar 2 jam. Usainya saya langsung teringat Syaikh dan minta
pamit kepada rekan-rekan dokter karena harus segera menghampirinya. Saya merasa
sangat bersalah dan ‘lancang’ membuat sang guru menunggu berjam-jam lamanya di terik
panas Kairo. Sebagai murid, saya siap menerima kalau nanti diomeli karena
keterlambatan ini.
Saya
percepat langkah menuju mobil dan langsung memohon maaf kepada Syaikh. Bukan
marah yang muncul, sebaliknya senyum manis tersemburat seraya menjawab: “Tidak
apa-apa. Alhamdulillah, selama 2 jam menunggumu saya berhasil mengkhotamkan
Al-Qur’an 30 juz.”---
Cerita
di atas barangkali terasa tidak rasional dan absurd. Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam
waktu sesingkat itu? Memang mustahil bagi kita, namun Allah ringankan bagi hamba
pilihan yang telah terpatri Al-Qur’an dalam hatinya karena hafalan luar kepala (‘ala
zhohri al-qolb) dan mumarosah terus-menerus, sehingga 6-ribuan ayat
suci yang termaktub ‘baina daffatai al-mushaf’ seakan satu baris di
depan mata.
Narator
kembali membagi pengalamannya: ---“Saat duduk di Masjid Nabawi Madinah, saya hendak
memulai membaca Al-Qur’an, seorang lansia di samping saya juga terlihat baru memulai
bacaan. Start kami sama dari Surat Al-Fātihah
dan mengalir sesuai susunan. A few hours later, orang tua itu sudah
menuntaskan sampai Surat An-Nās
ketika bacaan saya masih di Surat At-Taubah, padahal tempo bacaannya tanpa
mengurangi ketartilan. Orang tua ini sangat menjaga adab membaca Al-Qur’an. Ketika
saya membalik lembaran dengan air liur ujung lidah –seperti kebiasaan orang
membalik kertas-, orang tua itu menegur tindakan saya. Saya bersyukur ditegur,
saya sadar air liur termasuk Mustaqdzar yang tak pantas dilekatkan pada lembaran
Mushaf yang suci.”---
Kisah
di atas diceritakan Maulana Dr. Yusri Rusydi Gabr Al-Hasani dalam majelis Syarh
Kitab Al-Muwattho di Madyafah Syaikh Sa’id Imran Ad-Dah, kebetulan tema hadits
mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an. Pengalaman berharga ini diceritakan sebagai
dorongan agar waktu-waktu luang diisi dengan Al-Qur’an. Termasuk waktu luang
ketika menunggu.
Menunggu
memang menyebalkan, menyita waktu dan membuat mulut menggerutu. Suami kerap marah
ketika lama menanti istri belanja, pengantri acapkali kecewa ketika petugas
melayani tidak cekatan, penumpang dihinggapi stress ketika kendaraan
terjebak macet, apalagi indisipliner waktu di Mesir yang seringkali ngaret dan
berbelit-belit. Daripada meluapkan emosi, mengapa tidak waktu itu diisi dengan
hal-hal bermanfaat, membaca Al-Qur’an misalnya seperti Syaikh Kamal Al-Kinani
pada kisah di atass.
Syaikh
Yusri sendiri -selaku narator cerita- menerapkan pesan kisah di atas dalam
kehidupan sehari-hari di tengah kesibukan yang super padat. Seorang teman
Malaysia bercerita: “Ketika suatu hari rihlah bersama Syaikh Yusri, mobil yang
kami kendarai mengalami kerusakan. Sambil menunggu mobil ditangani tukang
servis, beliau mengajak kami –muridnya- membaca kitab Tasawuf Manāzilus Sāirin. Bersamaan
mobil selesai diperbaiki, kitab berhasil kami khotamkan.”
Bayangkan
berapa kelebihan dan ilmu berharga yang diperoleh ketimbang menunggu sambil bengong.
Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam memperingati:
نِعْمتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ
وَالفَرَاغُ
“Dua
nikmat tempat banyak orang terbuai, nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR.
Imam Bukhori).
_____________
“Living
with Al-Qur’an”. Prinsip itu yang aku pelajari dari Mertua Syaikh Usamah
Al-Azhari ini. Beliau menghafal Kitab Allah dengan mutqin, lengkap qiro’at
asyaroh dengan sanad bersambung dan selalu membacanya secara berkelanjutan
dalam shalat-shalatnya.
Berbeda
dengan kebanyakan Ulama Mesir lain yang menyelesaikan hafalan sejak belia, ia
baru mulai menghafal di usia 20-an saat menjadi mahasiswa. Berawal dari
kegalauan mencari kebenaran di tengah ramai lahir arus-arus pemikiran (at-tayyārot) yang
menarik simpati para anak muda pada tahun 1970-an. Jalan pertama adalah kembali
ke Al-Qur’an, karena disanalah kebenaran yang hakiki dan induk semua ilmu.
Setelah
rampung menghafal, ia mempelajari tafsir dari ulama-ulama besar, sambil menekuni
ilmu-ilmu bantu Bahasa Arab seperti Nahwu dan Balaghoh. Sebab seringkali arus
pemikiran ekstrim itu ditimbulkan salah pemahaman pada nash. Selanjutnya mendalami
ilmu hadits, menguasai fiqih empat madzhab, di bidang tasawuf menduduki mursyid
tertinggi thariqoh Ash-Shiddiqiah Ad-Darqawiyah Asy-Syadzuliyah.
Di Bulan
Ramadhan, bersama jama’ah di Masjid Asyrof Muqottom, semalam suntuk diisi
dengan ibadah qiyamullail membaca 3 juz dalam Tarawih permalam. Semenjak Fajar
menyingsing, usai shalat subuh, membaca wirid rutinan Thariqoh Siddiqiah yang dihimpun
dari al-ma’tsurāt,
lalu menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an, men-syarh Kitab Shahih
Al-Bukhari, ditutup dengan shalat Dhuha.
“Berada
di Masjid Asyrof setiap pagi, pahalanya sebesar pahala menunaikan umroh tāmman, tāmman, tāmman. Tanpa
beli tiket, tanpa menempuh perjalanan jauh, tanpa naik pesawat.” Seloroh
beliau membahagiakan muridnya sesuai Hadits Nabi.
Nampaknya
ini rahasia beliau menguasai banyak disiplin ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu
umum, karena waktu yang dilalui dimanfaatkan dengan sangat baik. Sebagai murid kami
meyakini, ilmu beliau banyak bersumber dari futuh karena ketaqwaannya, sesuai
janji Allah:
وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ الله
“Bertakwalah
kepada Allah, maka Allah langsung yang akan mengajarmu.” (Al-Baqarah:
182).
Aku
sempat disergap pikiran yang sering mengganjal setiap orang yang ingin memulai
langkah menghafal Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an menyita banyak waktu dan menelantarkan
pekerjaan-pekerjaan lain. “Al-Qur’an itu pencemburu” katanya. Harus diseriusin
dan tidak sibuk dengan hal lain. “Sehari kau tinggalkan Al-Qur’an, seminggu ia
meninggalkanmu. Seminggu kau tinggalkan, sebulan ia meninggalkanmu. Sebulan kau
tinggalkan, setahun ia meninggalkanmu.”
Pelajaran
dari guru tercinta ini kembali segar di ingatanku saat aku sedang bersusah
payah mengembalikan hafalan Al-Qur’an yang mulai remang-remang sebab tak pernah
dimuroja’ah sebulan lebih, selama menghadapi ujian semester di Al-Azhar. Dari beliau
aku belajar, relasi bersama Al-Qur’an harus tetap berjalan dengan baik tanpa
mengorbankan tugas-tugas waqi’iyyah.