Wednesday, January 18, 2017

MENUNGGU MENYEBALKAN?

---“Saat mulai belajar di Fakultas Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar, waktu itu saya sudah menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo, spesialis ilmu bedah. Bahkan sudah berkeluarga dan diterima bekerja di sebuah rumah sakit. Jadi harus membagi waktu seefektif mungkin antara belajar, karir, keluarga dan yang terpenting ibadah.
Suatu hari saat mengemudi mobil sepulang kuliah, di gerbang Kampus saya mendapati dosen kami Dr. Kamal Abdul ‘Azhim Al-Kinani tengah menunggu angkutan. Saya tawari dosen sepuh yang tawadhu’ dan bersahaja itu untuk ikut di mobil saya, beliau mengiyakan. Kehormatan besar berkhidmah pada seorang ulama Rabbani.
Dalam perjalanan mengantar beliau menuju kediamannya, mobil melaju melalui ittijah Rumah Sakit tempat saya bekerja. Saya teringat ada sedikit keperluan penting yang harus saya selesaikan. Saya meminta ijin kepada Syaikh untuk mampir sebentar saja di Hospital. Dengan senang hati ia mempersilakan. Saya bergegas masuk Hospital, sementara ia menunggu di dalam mobil.
Tanpa disangka, di dalam ada pasien masuk ruang operasi dan butuh bantuan dokter tambahan. Dengan cepat saya turun tangan menjalankan amanah kerja. Proses operasi berlangsung sekitar 2 jam. Usainya saya langsung teringat Syaikh dan minta pamit kepada rekan-rekan dokter karena harus segera menghampirinya. Saya merasa sangat bersalah dan ‘lancang’ membuat sang guru menunggu berjam-jam lamanya di terik panas Kairo. Sebagai murid, saya siap menerima kalau nanti diomeli karena keterlambatan ini.
Saya percepat langkah menuju mobil dan langsung memohon maaf kepada Syaikh. Bukan marah yang muncul, sebaliknya senyum manis tersemburat seraya menjawab: “Tidak apa-apa. Alhamdulillah, selama 2 jam menunggumu saya berhasil mengkhotamkan Al-Qur’an 30 juz.”---
Cerita di atas barangkali terasa tidak rasional dan absurd. Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu sesingkat itu? Memang mustahil bagi kita, namun Allah ringankan bagi hamba pilihan yang telah terpatri Al-Qur’an dalam hatinya karena hafalan luar kepala (‘ala zhohri al-qolb) dan mumarosah terus-menerus, sehingga 6-ribuan ayat suci yang termaktub ‘baina daffatai al-mushaf’ seakan satu baris di depan mata.
Narator kembali membagi pengalamannya: ---“Saat duduk di Masjid Nabawi Madinah, saya hendak memulai membaca Al-Qur’an, seorang lansia di samping saya juga terlihat baru memulai bacaan. Start kami sama dari Surat Al-Fātihah dan mengalir sesuai susunan. A few hours later, orang tua itu sudah menuntaskan sampai Surat An-Nās ketika bacaan saya masih di Surat At-Taubah, padahal tempo bacaannya tanpa mengurangi ketartilan. Orang tua ini sangat menjaga adab membaca Al-Qur’an. Ketika saya membalik lembaran dengan air liur ujung lidah –seperti kebiasaan orang membalik kertas-, orang tua itu menegur tindakan saya. Saya bersyukur ditegur, saya sadar air liur termasuk Mustaqdzar yang tak pantas dilekatkan pada lembaran Mushaf yang suci.”---
Kisah di atas diceritakan Maulana Dr. Yusri Rusydi Gabr Al-Hasani dalam majelis Syarh Kitab Al-Muwattho di Madyafah Syaikh Sa’id Imran Ad-Dah, kebetulan tema hadits mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an. Pengalaman berharga ini diceritakan sebagai dorongan agar waktu-waktu luang diisi dengan Al-Qur’an. Termasuk waktu luang ketika menunggu.
Menunggu memang menyebalkan, menyita waktu dan membuat mulut menggerutu. Suami kerap marah ketika lama menanti istri belanja, pengantri acapkali kecewa ketika petugas melayani tidak cekatan, penumpang dihinggapi stress ketika kendaraan terjebak macet, apalagi indisipliner waktu di Mesir yang seringkali ngaret dan berbelit-belit. Daripada meluapkan emosi, mengapa tidak waktu itu diisi dengan hal-hal bermanfaat, membaca Al-Qur’an misalnya seperti Syaikh Kamal Al-Kinani pada kisah di atass.
Syaikh Yusri sendiri -selaku narator cerita- menerapkan pesan kisah di atas dalam kehidupan sehari-hari di tengah kesibukan yang super padat. Seorang teman Malaysia bercerita: “Ketika suatu hari rihlah bersama Syaikh Yusri, mobil yang kami kendarai mengalami kerusakan. Sambil menunggu mobil ditangani tukang servis, beliau mengajak kami –muridnya- membaca kitab Tasawuf Manāzilus Sāirin. Bersamaan mobil selesai diperbaiki, kitab berhasil kami khotamkan.”
Bayangkan berapa kelebihan dan ilmu berharga yang diperoleh ketimbang menunggu sambil bengong. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam memperingati:

نِعْمتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dua nikmat tempat banyak orang terbuai, nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Imam Bukhori).
_____________
“Living with Al-Qur’an”. Prinsip itu yang aku pelajari dari Mertua Syaikh Usamah Al-Azhari ini. Beliau menghafal Kitab Allah dengan mutqin, lengkap qiro’at asyaroh dengan sanad bersambung dan selalu membacanya secara berkelanjutan dalam shalat-shalatnya.
Berbeda dengan kebanyakan Ulama Mesir lain yang menyelesaikan hafalan sejak belia, ia baru mulai menghafal di usia 20-an saat menjadi mahasiswa. Berawal dari kegalauan mencari kebenaran di tengah ramai lahir arus-arus pemikiran (at-tayyārot) yang menarik simpati para anak muda pada tahun 1970-an. Jalan pertama adalah kembali ke Al-Qur’an, karena disanalah kebenaran yang hakiki dan induk semua ilmu.
Setelah rampung menghafal, ia mempelajari tafsir dari ulama-ulama besar, sambil menekuni ilmu-ilmu bantu Bahasa Arab seperti Nahwu dan Balaghoh. Sebab seringkali arus pemikiran ekstrim itu ditimbulkan salah pemahaman pada nash. Selanjutnya mendalami ilmu hadits, menguasai fiqih empat madzhab, di bidang tasawuf menduduki mursyid tertinggi thariqoh Ash-Shiddiqiah Ad-Darqawiyah Asy-Syadzuliyah.
Di Bulan Ramadhan, bersama jama’ah di Masjid Asyrof Muqottom, semalam suntuk diisi dengan ibadah qiyamullail membaca 3 juz dalam Tarawih permalam. Semenjak Fajar menyingsing, usai shalat subuh, membaca wirid rutinan Thariqoh Siddiqiah yang dihimpun dari al-ma’tsurāt, lalu menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an, men-syarh Kitab Shahih Al-Bukhari, ditutup dengan shalat Dhuha.
“Berada di Masjid Asyrof setiap pagi, pahalanya sebesar pahala menunaikan umroh tāmman, tāmman, tāmman. Tanpa beli tiket, tanpa menempuh perjalanan jauh, tanpa naik pesawat.” Seloroh beliau membahagiakan muridnya sesuai Hadits Nabi.
Nampaknya ini rahasia beliau menguasai banyak disiplin ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum, karena waktu yang dilalui dimanfaatkan dengan sangat baik. Sebagai murid kami meyakini, ilmu beliau banyak bersumber dari futuh karena ketaqwaannya, sesuai janji Allah:

وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ الله

“Bertakwalah kepada Allah, maka Allah langsung yang akan mengajarmu.” (Al-Baqarah: 182).
Aku sempat disergap pikiran yang sering mengganjal setiap orang yang ingin memulai langkah menghafal Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an menyita banyak waktu dan menelantarkan pekerjaan-pekerjaan lain. “Al-Qur’an itu pencemburu” katanya. Harus diseriusin dan tidak sibuk dengan hal lain. “Sehari kau tinggalkan Al-Qur’an, seminggu ia meninggalkanmu. Seminggu kau tinggalkan, sebulan ia meninggalkanmu. Sebulan kau tinggalkan, setahun ia meninggalkanmu.”

Pelajaran dari guru tercinta ini kembali segar di ingatanku saat aku sedang bersusah payah mengembalikan hafalan Al-Qur’an yang mulai remang-remang sebab tak pernah dimuroja’ah sebulan lebih, selama menghadapi ujian semester di Al-Azhar. Dari beliau aku belajar, relasi bersama Al-Qur’an harus tetap berjalan dengan baik tanpa mengorbankan tugas-tugas waqi’iyyah.