Seorang pengembara tengah berjalan seorang
diri di Padang Pasir nan luas. Kering, tak ada air apalagi tetumbuhan. Tak ada
yang menemaninya. Hanya seekor unta yang dikendarai dan bekal seadanya sebagai
tonggak hidup (survive).
Malangnya sang pengembara, ketika Matahari
telah terbenam dan malam datang. Tak ada secercahpun cahaya. Gelap gulita
bertindih-tindih. Sampai kulit pun tak terlihat. Pekatnya malam membuat ia tak
tau lagi arah melangkah. Diperparah unta yang menemaninya hilang. Saat perut
perih kelaparan, makanan dan minuman untuk menyambung hidupnya tak ia temukan.
Kondisi tragis ini mejadikannya tak tahu
lagi apa yang hendak dilakukan. Hatinya sudah putus asa untuk hidup. Bahkan
secara realistis, ia meyakini kebinasaan akan segera menyergapnya.
Dalam suasana mencekam itu, tiba-tiba sang
Purnama muncul. Dengan gagahnya menyemburatkan cahayanya yang terang benderang
dan indah. Sinar terangnya mensirnakan kegelapan, menghapus kesedihan dan
menggantinya dengan kegembiraan yang tiada tara. Dengan petunjuk cahaya itu,
kini ia tahu arah melangkah. Unta yang membawa bekalnya kembali ditemukan.
Tak terbayang betapa bahagianya, ia selamat
dari ancaman maut yang sudah dipelupuk mata berkat kepahlawanan Sang Bulan.
Dengan hati haru ia mendongak kepada Bulan yang sangat berjasa itu, hendak
mencoba mengucapkan kata terimakasih atas budinya. Tapi dengan apa?
“Wahai Purnama, Kau telah diciptakan Allah
begitu indah, menawan dan menerangi penjuru-penjuru ufuk.. Lalu apa yang bisa
kumohonkan lagi untukmu kepada Allah sebagai balas budiku?
Jika yang ku pinta, Semoga Allah
meninggikan derajatmu, derajatmu memang sudah ditinggikan!
Jika yang ku pinta, Semoga Allah
mencerahkanmu, Kau sendiri memang sudah sangat cerah!
Jika yang ku pinta, Semoga Allah
menghiasimu, Allah telah menghiasmu dengan bintang-gemintang cantik di
sekelilingmu.
Jika yang ku pinta, Semoga Allah
memperindahmu, Kau sudah sangat indah.
مَا ذَا أَقُوْلُ وَقَوْلِي
فِيْكَ ذُو قِصَرِ * وَقَدْ كَفَيْتَنِيْ
التَّفْصِيْلَ وَالْجُمَلَ
إِنْ قُلْتُ لَا زِلْتَ
مَرْفُوْعًا فَأَنْتَ كَذَا * أَوْ قُلْتُ زَانَكَ رَبِّي فَهُوَ قَدْ فَعَلَا
Kata apalagi yang bisa ku sematkan, ungkapanku padamu
sudah buntu…
Setiap uraian kata yang mendetailpun tak sepadan untuk
terimakasihku padamu…
Demikian tasybih (perumpamaan)
manusia, saat perjalanannya menghampiri kegelapan dan kejahiliahan, hingga
telah berada di ujung tanduk kehancuran, atau tepi jurang kebinasaan. Di
detik-detik krusial itu, lahir Baginda Nabi SAW, menerangi dunia dengan cahaya
Islam dan menyelamatkan manusia dari kehancuran.
Maka….
Wahai Sang Pemimpin! Sang Kekasih! Baginda
Kami, Muhammad ‘alaika afdhalushshalati wassalam! Kami kehabisan
kata-kata untuk berterimakasih. Doa apa lagi yang bisa kami panjatkan untukmu?
Tambahan apa lagi yang perlu ditambahkan?
Jika yang ku pinta, Semoga Allah
meninggikan derajatmu, derajatmu memang sudah ditinggikan. Melalui
Firman-Nya:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
(Setelah ayat ke-4 QS. Al-Insyirah ini
turun, Malaikat Jibril yang membawanya berkata kepada Sayyiduna Nabi SAW: ‘Wahai
Muhammad, tahukah gerangan maksud Allah mengangkat sebutan namamu? Sungguh,
Tuhan Semesta Alam Mengatakan kepadamu:
إنّني لا أذكر إلا
أذكر معك
‘Sesungguhnya Nama-Ku setiap kali disebut
akan sanantiasa diiringi dengan sebutan namamu!’
Maka kita mendengar dalam Azan, dalam
Shalat, nama beliau selalu disebut setelah nama Allah. Dengan perputaran waktu
dalam satu wilayah dengan wilayah yang lain, nama Allah dan Nabi Muhammad tidak
pernah sedetikpun terputus di seluruh dunia, belum lagi untaian shalawat yang
terus dilantunkan para shalihin sepanjang waktu. Bahkan pintu keimanan (dua
kalimat syahadat) tidak sah apabila tidak menyebut nama Muhammad).
Jika yang ku pinta, Semoga Allah menerangimu,
Allah telah menjadikan dirimulah cahaya yang menerangi. Melalui Firman-Nya:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ
اللهِ نُوْرٌ وَكِتَابٍ مُبِيْن
(Al-Kitab yang dimaksud dalam QS. Al-Maidah
ayat 15 di atas, yaitu Al-Qur’an. Sedangkan An-Nur, tiada lain yaitu Nabi
Muhammad SAW Khairul Mursalin.)
Jika yang ku pinta, Semoga Allah
mengindahkanmu, Allah telah memujimu dengan puncak keindahan. Melalui
Firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَى
خُلُقٍ عَظِيْم
Lilláhi darrul udaba’ haitsu Shana’a hadza
at-tasybih al-baligh..
Betapa cerdik sastrawan yang membuat
perumpamaan yang hebat ini. Menggambarkan kebahagiaan yang paling agung semesta
alam menyambut kelahiran Baginda Sayyidina wa Maulana wa Nabiyyuna Muhammad ‘Alaihisshalatuwassalam.
Bagaikan terbitnya sinar mentari yang menyingkirkan kegelapan, menghapus
kegelisahan dan kesedihan, dengan cahaya itu terbasmilah kekafiran dan kezhaliman.
Hasan bin Tsabit RA, Sahabat dari kalangan
Anshar mewakili perasaan para sahabat yang sangat berhutang budi kepada Baginda
Nabi SAW, menggubah madh (puji-pujian) yang sangat indah dalam bentuk
syair.
|
مِنَ اللَّهِ
مَشْهُودٌ يَلُوحُ ويُشْهَدُ
|
أغَرُّ، عَلَيْهِ لِلنُّبُوَّة
ِ خَاتَمٌ
|
|
إذا قَالَ في
الخَمْسِ المُؤذِّنُ أشْهَدُ
|
وضمَّ الإلهُ اسمَ
النبيّ إلى اسمهِ،
|
|
فذو العرشِ محمودٌ،
وهذا محمدُ
|
وشقّ لهُ منِ اسمهِ
ليجلهُ،
|
|
منَ الرسلِ،
والأوثانِ في الأرضِ تعبدُ
|
نَبيٌّ أتَانَا
بَعْدَ يَأسٍ وَفَتْرَة ٍ
|
|
،يَلُوحُ
كما لاحَ الصّقِيلُ المُهَنَّدُ
|
فَأمْسَى سِرَاجاً
مُسْتَنيراً وَهَادِياً
|
|
وعلمنا الإسلامَ،
فاللهَ نحمدُ
|
وأنذرنا ناراً، وبشرَ
جنة ً،
|
|
بذلكَ ما عمرتُ فيا
لناسِ أشهدُ
|
وأنتَ إلهَ الخلقِ
ربي وخالقي،
|
|
سِوَاكَ إلهاً، أنْتَ
أعْلَى وَأمْجَدُ
|
تَعَالَيْتَ رَبَّ
الناسِ عن قَوْل مَن دَعا
|
|
فإيّاكَ نَسْتَهْدي،
وإيّاكَ نَعْبُدُ
|
لكَ الخلقُ
والنعماءُ، والأمرُ كلهُ،
|
Saudara Umat Muhammad. Melalui momentum
Ihtifal Maulid Nabi Muhammad ‘Alaihishshalatuwassalam, marilah kita
renungi kembali sirah perjuangan beliau untuk kita para umatnya. Dengan
demikian kita bisa menyadari kewajiban kita kepada beliau, untuk setia
mengikutinya, mengamalkan sunnahnya, menjaga adab yang diajarkannya, menjauhi
yang beliau benci dan bershalat sebanyak-banyaknya. Para Ulama yang menyadari
betul Maqam beliau, tidak pernah kering lidahnya dari basahan Shalawat.
Sebut Imam Al-Baijuri, 10.000 kali setiap hari dan Imam As-Suyuthi, 5000 kali
setiap hari. Di dalam shalawat terangkum beberapa ibadah: dzikir, istigfar dan
doa.
Cuplikan Khutbah Prof. Dr. Syaikh Rabi’
Al-Ghafir, di Masjid Al-Azhar Cairo. Pada hari Al-Jum’ah Al-Fakhr, 6 Rabi’
Al-Awwal 1437 H/18 Desember 2015 M.
Disebut Jum’at Fakhr, karena selain di
Bulan Maulid Nabi, hari Jum’at ini bertepatan dengan hari bersejarah. Jum’at 18
Desember 1279 H adalah pertama kali Talaqqi Al-Azhar dimulai, menyebarkan
Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah Al-Wasathiyyah di bawah Daulah Shalahuddin
Al-Ayyubi dan berlangsung ribuan tahun sampai hari ini, dan In Sya Allah
madaz zaman.
![]() |
| Syaikh Prof. Dr. Rabi' Al-Ghafir |
