Friday, December 25, 2015

Bagaimana Kami Berterima Kasih Padamu, Ya Rasulallah!

Seorang pengembara tengah berjalan seorang diri di Padang Pasir nan luas. Kering, tak ada air apalagi tetumbuhan. Tak ada yang menemaninya. Hanya seekor unta yang dikendarai dan bekal seadanya sebagai tonggak hidup (survive).
Malangnya sang pengembara, ketika Matahari telah terbenam dan malam datang. Tak ada secercahpun cahaya. Gelap gulita bertindih-tindih. Sampai kulit pun tak terlihat. Pekatnya malam membuat ia tak tau lagi arah melangkah. Diperparah unta yang menemaninya hilang. Saat perut perih kelaparan, makanan dan minuman untuk menyambung hidupnya tak ia temukan.
Kondisi tragis ini mejadikannya tak tahu lagi apa yang hendak dilakukan. Hatinya sudah putus asa untuk hidup. Bahkan secara realistis, ia meyakini kebinasaan akan segera menyergapnya.
Dalam suasana mencekam itu, tiba-tiba sang Purnama muncul. Dengan gagahnya menyemburatkan cahayanya yang terang benderang dan indah. Sinar terangnya mensirnakan kegelapan, menghapus kesedihan dan menggantinya dengan kegembiraan yang tiada tara. Dengan petunjuk cahaya itu, kini ia tahu arah melangkah. Unta yang membawa bekalnya kembali ditemukan.
Tak terbayang betapa bahagianya, ia selamat dari ancaman maut yang sudah dipelupuk mata berkat kepahlawanan Sang Bulan. Dengan hati haru ia mendongak kepada Bulan yang sangat berjasa itu, hendak mencoba mengucapkan kata terimakasih atas budinya. Tapi dengan apa?
“Wahai Purnama, Kau telah diciptakan Allah begitu indah, menawan dan menerangi penjuru-penjuru ufuk.. Lalu apa yang bisa kumohonkan lagi untukmu kepada Allah sebagai balas budiku?
Jika yang ku pinta, Semoga Allah meninggikan derajatmu, derajatmu memang sudah ditinggikan!
Jika yang ku pinta, Semoga Allah mencerahkanmu, Kau sendiri memang sudah sangat cerah!
Jika yang ku pinta, Semoga Allah menghiasimu, Allah telah menghiasmu dengan bintang-gemintang cantik di sekelilingmu.
Jika yang ku pinta, Semoga Allah memperindahmu, Kau sudah sangat indah.

مَا ذَا أَقُوْلُ وَقَوْلِي فِيْكَ ذُو قِصَرِ  * وَقَدْ كَفَيْتَنِيْ التَّفْصِيْلَ وَالْجُمَلَ
إِنْ قُلْتُ لَا زِلْتَ مَرْفُوْعًا فَأَنْتَ كَذَا * أَوْ قُلْتُ زَانَكَ رَبِّي فَهُوَ قَدْ فَعَلَا
Kata apalagi yang bisa ku sematkan, ungkapanku padamu sudah buntu…
Setiap uraian kata yang mendetailpun tak sepadan untuk terimakasihku padamu…

Demikian tasybih (perumpamaan) manusia, saat perjalanannya menghampiri kegelapan dan kejahiliahan, hingga telah berada di ujung tanduk kehancuran, atau tepi jurang kebinasaan. Di detik-detik krusial itu, lahir Baginda Nabi SAW, menerangi dunia dengan cahaya Islam dan menyelamatkan manusia dari kehancuran.
Maka….
Wahai Sang Pemimpin! Sang Kekasih! Baginda Kami, Muhammad ‘alaika afdhalushshalati wassalam! Kami kehabisan kata-kata untuk berterimakasih. Doa apa lagi yang bisa kami panjatkan untukmu? Tambahan apa lagi yang perlu ditambahkan?
Jika yang ku pinta, Semoga Allah meninggikan derajatmu, derajatmu memang sudah ditinggikan. Melalui Firman-Nya:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
(Setelah ayat ke-4 QS. Al-Insyirah ini turun, Malaikat Jibril yang membawanya berkata kepada Sayyiduna Nabi SAW: ‘Wahai Muhammad, tahukah gerangan maksud Allah mengangkat sebutan namamu? Sungguh, Tuhan Semesta Alam Mengatakan kepadamu:
إنّني لا أذكر إلا أذكر معك
‘Sesungguhnya Nama-Ku setiap kali disebut akan sanantiasa diiringi dengan sebutan namamu!’
Maka kita mendengar dalam Azan, dalam Shalat, nama beliau selalu disebut setelah nama Allah. Dengan perputaran waktu dalam satu wilayah dengan wilayah yang lain, nama Allah dan Nabi Muhammad tidak pernah sedetikpun terputus di seluruh dunia, belum lagi untaian shalawat yang terus dilantunkan para shalihin sepanjang waktu. Bahkan pintu keimanan (dua kalimat syahadat) tidak sah apabila tidak menyebut nama Muhammad).

Jika yang ku pinta, Semoga Allah menerangimu, Allah telah menjadikan dirimulah cahaya yang menerangi. Melalui Firman-Nya:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ وَكِتَابٍ مُبِيْن
(Al-Kitab yang dimaksud dalam QS. Al-Maidah ayat 15 di atas, yaitu Al-Qur’an. Sedangkan An-Nur, tiada lain yaitu Nabi Muhammad SAW Khairul Mursalin.)
Jika yang ku pinta, Semoga Allah mengindahkanmu, Allah telah memujimu dengan puncak keindahan. Melalui Firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْم


Lilláhi darrul udaba’ haitsu Shana’a hadza at-tasybih al-baligh..
Betapa cerdik sastrawan yang membuat perumpamaan yang hebat ini. Menggambarkan kebahagiaan yang paling agung semesta alam menyambut kelahiran Baginda Sayyidina wa Maulana wa Nabiyyuna Muhammad ‘Alaihisshalatuwassalam. Bagaikan terbitnya sinar mentari yang menyingkirkan kegelapan, menghapus kegelisahan dan kesedihan, dengan cahaya itu terbasmilah kekafiran dan kezhaliman.
Hasan bin Tsabit RA, Sahabat dari kalangan Anshar mewakili perasaan para sahabat yang sangat berhutang budi kepada Baginda Nabi SAW, menggubah madh (puji-pujian) yang sangat indah dalam bentuk syair.
مِنَ اللَّهِ مَشْهُودٌ يَلُوحُ ويُشْهَدُ
أغَرُّ، عَلَيْهِ لِلنُّبُوَّة ِ خَاتَمٌ
إذا قَالَ في الخَمْسِ المُؤذِّنُ أشْهَدُ
وضمَّ الإلهُ اسمَ النبيّ إلى اسمهِ،
فذو العرشِ محمودٌ، وهذا محمدُ
وشقّ لهُ منِ اسمهِ ليجلهُ،
منَ الرسلِ، والأوثانِ في الأرضِ تعبدُ
نَبيٌّ أتَانَا بَعْدَ يَأسٍ وَفَتْرَة ٍ
،يَلُوحُ كما لاحَ الصّقِيلُ المُهَنَّدُ
فَأمْسَى سِرَاجاً مُسْتَنيراً وَهَادِياً
وعلمنا الإسلامَ، فاللهَ نحمدُ
وأنذرنا ناراً، وبشرَ جنة ً،
بذلكَ ما عمرتُ فيا لناسِ أشهدُ
وأنتَ إلهَ الخلقِ ربي وخالقي،
سِوَاكَ إلهاً، أنْتَ أعْلَى وَأمْجَدُ
تَعَالَيْتَ رَبَّ الناسِ عن قَوْل مَن دَعا
فإيّاكَ نَسْتَهْدي، وإيّاكَ نَعْبُدُ
لكَ الخلقُ والنعماءُ، والأمرُ كلهُ،

Saudara Umat Muhammad. Melalui momentum Ihtifal Maulid Nabi Muhammad ‘Alaihishshalatuwassalam, marilah kita renungi kembali sirah perjuangan beliau untuk kita para umatnya. Dengan demikian kita bisa menyadari kewajiban kita kepada beliau, untuk setia mengikutinya, mengamalkan sunnahnya, menjaga adab yang diajarkannya, menjauhi yang beliau benci dan bershalat sebanyak-banyaknya. Para Ulama yang menyadari betul Maqam beliau, tidak pernah kering lidahnya dari basahan Shalawat. Sebut Imam Al-Baijuri, 10.000 kali setiap hari dan Imam As-Suyuthi, 5000 kali setiap hari. Di dalam shalawat terangkum beberapa ibadah: dzikir, istigfar dan doa.

Cuplikan Khutbah Prof. Dr. Syaikh Rabi’ Al-Ghafir, di Masjid Al-Azhar Cairo. Pada hari Al-Jum’ah Al-Fakhr, 6 Rabi’ Al-Awwal 1437 H/18 Desember 2015 M.

Disebut Jum’at Fakhr, karena selain di Bulan Maulid Nabi, hari Jum’at ini bertepatan dengan hari bersejarah. Jum’at 18 Desember 1279 H adalah pertama kali Talaqqi Al-Azhar dimulai, menyebarkan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah Al-Wasathiyyah di bawah Daulah Shalahuddin Al-Ayyubi dan berlangsung ribuan tahun sampai hari ini, dan In Sya Allah madaz zaman.
Syaikh Prof. Dr. Rabi' Al-Ghafir

No comments:

Post a Comment