Monday, March 14, 2016

AL-AZHAR DAN MODERASI ISLAM

Kalau Al-Azhar hanya sekedar institusi keilmuan, yang dihuni oleh para ulama bintang dan dikelilingi para pelajar yang dahaga akan ilmu. Di belahan negeri manapun, banyak institusi yang lebih hebat dan unggul ketimbang Universitas Al-Azhar.
Kalau Al-Azhar hanya sekedar khazanah literatur-literatur ilmiah. Di luar sana banyak perpustakaan yang jauh lebih besar dan lebih komplit menampung kitab ketimbang Maktabah Al-Azhar.
Kalau Al-Azhar hanya sekedar nama besar dan brand terkenal. Banyak yang bisa menandingi dan lebih bergengsi ketimbang popularitas Al-Azhar.
Lha… Memangnya apa yang membuat Al-Azhar begitu tinggi kedudukannya, berharga nilainya dan tetap berdiri kokoh seiring perguliran masa?
Sir-nya adalah karena keteguhan Al-Azhar berpegang pada manhaj al-I’tidal (Seimbang) dan benar-benar menjiwai Islam Wasathiyah (Moderat). Wasathiyah inilah manhaj yang sesungguhnya paling ampuh untuk menebarkan keindahan Islam dan keanggunan syari’at yang dibaliknya sarat hikmah dan maslahat, yang kebaikannya kembali ke manusia itu sendiri.
Dengan wasathiyah ini, Allah menjaga eksistensi dan kekelan umat Islam. Dengan wasathiyah-nya, umat ini dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla di hari kebangkitan kelak menjadi saksi bagi umat-umat terdahulu. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاس....

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilhan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia….”

Wasathiyah yang selalu dikibarkan Al-Azhar bukanlah omong-kosong belaka, melainkan berupa penerapan nyata yang selalu diaplikasikan dalam memecahkan berbagai persoalan krusial dalam Islam. Dari awal semenjak berperan vital dalam menyumbangkan pemikiran, Al-Azhar selalu berdiri teguh dengan pandangan yang netral. Misalnya dalam menyikapi perpecahan umat pasca al-Fitnah al-Kubro yang menjadi cobaan berat di abad pertama perkembangan Islam. Prinsip Al-Azhar terkait hal ini:
Pertama, Al-Azhar menyuarakan dengan lantang akan kewajiban memuliakan kedudukan para Sahabat -Ridhwanulla’alaihim Jami’a- dan menghukumi bahwa Sahabat semuanya adil, serta membela mereka dari setiap hinaan dan tuduhan keji. Berlandaskan Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam:

لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِي

“Janganlah kalian melempar celaan kepada para Sahabatku!”

أَصْحَابِي كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِم اقْتَدَيْتُمْ اهْتَدَيْتُمْ

“Para Sahabatku seperti bintang-bintang, siapapun mereka yang kalian jadikan panutan, niscaya kalian mendapatkan petunjuk.”

Prinsip kedua, Al-Azhar mengajak kaum muslimin untuk tutup mulut (baca: tidak berkomentar) terkait pertikaian yang terjadi di kalangan Sahabat RA, berdasarkan Qaul bijak yang terkenal dari Ulama as-Salaf ash-Shalih: “Karena Allah telah menjauhkan kita untuk ikut berperang bersama mereka, maka jangan mengotori  mulut kita untuk ikut-ikutan mencampuri permasalahan mereka.”
Prinsip ketiga, senantiasa melakukan pengecekan dan penelitian dalam meluruskan literatur-literatur sejarah yang didistorsi oleh setiap tangan tak bertanggung jawab, yang berusaha mencoreng kehormatan para Sahabat atas dasar kebencian, kedengkian dan fanatisme buta.
Netralitas pendirian juga diperlihatkan Al-Azhar dalam menyikapi perbedaan Madzhab Fiqih. Sejarah membuktikan bagaimana usaha Al-Azhar membangun kerukunan antar-madzhab. Berjuang mewujudkan kekompakan di tengah hantaman badai politik yang menggoncang keutuhan umat. Siasat busuk yang berulang kali mencoba memanfaatkan celah perbedaan madzhab sebagai penyulut permusuhan antar saudara seiman. Jalan persatuan inilah yang sejatinya ditempuh dan diperjuangkan semua madzhab.
Dari awal mengkristalkan pemikirannya, Al-Azhar menentukan konsep dalam mensinkronisasikan antara dalil Naql dan penalaran akal. Berpegang pada konsep Imam Al-Ghazali yang mengatakan:

لا معادة بين مقتضيات الشرائع وموجبات العقول

“Tidak ada kontradiksi antara ketentuan-ketentuan syariat dengan logika yang sehat”.

Hujjatul Islam juga berkonsep yang senada:

العقل كالبصر السليم, والقرآن والسنة كالشمس المنتشرة الضياء, ولا غنى لأحدهما عن الآخر

“Akal bagaikan mata yang sehat. Sedangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bagaikan Matahari yang memancarkan cahaya terang benderang. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.”

Dengan kenetralan ini, Al-Azhar yang melimpah ruah dengan literatur-literatul klasik (turats), sejalan pula dengan penalaran turats yang sistematis. Al-Azhar tidak condong atau berpihak pada arus tertentu, yang rentan menggiring akal secara pelan-pelan kepada batas saling kafir-mengkafirkan; atau kepada pergulatan logika yang berpotensi menjebak kita dalam memahami  keindahan Islam, kepada pemikiran yang tak terkendali bermoduskan gerakan modernisasi atau sekularisme yang fatal.
Semenjak mengkristalkan pemikirannya, Al-Azhar berjuang membentengi Agama dan Syariat dari serangan-serangan yang menerjang dari berbagai penjuru. Pertahanan Al-Azhar begitu kuat dalam meng-counter serangan kaum sekuler terhadap Islam, tehadap aneka upaya memporak-porandakan Islam dengan bermacam permainan dan manuver politik, upaya pengaburan dustur Syari’at yang memicu perang pemikiran di tubuh umat Islam. Walhasil perpecahan ini berefek sikap antipati pada Islam. Menyadari tantangan ini, Al-Azhar menawarkan sikap bijak dan toleransi dalam menyikapi perbedaan.
Deskripsi Moderasi seperti di atas, dalam sejarah panjangnya dipilih dan dipertahankan oleh Al-Azhar Asy-Syarif. Al-Azhar ingin menampakkan wajah Islam yang sebenarnya, yang murni, yang sangat indah, yang harum citranya!!
Al-Azhar dalam menghadapi permasalahan tidak pernah asal-asalan dan rancau, melainkan berdasarkan proses ijtihad yang terarah sehingga menghasilkan konsep yang solutif. Namun perlu diingat, Al-Azhar dalam cita-cita Wasathiyyah ini tidak pernah keras dan ngotot memaksakan konsepnya diterima oleh kelompok yang berseberangan karena merasa paling benar.
Moderasi ini bukan sekedar hasil kompromi dangkal dalam menyatukan kelompok-kelompok yang berseteru, sehingga Al-Azhar tidak mudah dieksploitasi oleh kelompok tertentu sebagai penyokong mencapai misi pribadinya. Justru Moderasi Al-Azhar selamanya berupa pendirian yang jelas dan pandangan yang berlandaskan pada sumber-sumber hukum Islam yang Qath’iy, semata demi mewujudkan kemaslahatan Umat Muslim, dan berharap Wasathiyah ini menjadi solusi yang bisa menuntun umat di kala tersesat jalan atau saat terpecah belah karena hawa nafsu.

======================================
Disadur dari artikel Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhil Al-Qushi
(Anggota Persatuan Ulama Senior dan Mantan Menteri Perwaqafan)
Judul asli: Ru’yah Islamiyyah fii Qadhaya Al-‘Ashr
Publikasi oleh: Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional, Maktabah Darus Salam

Terjemah oleh: M. Zain (Pembelajar Bahasa Arab Tingkat Pemula)

Thursday, March 3, 2016

Ucapan Selamat Ulang Tahun Mamik

بينما أنا أتمتع أمام الفيسبوك في لحظة بعد رجوعي من الدراسة٬ إذ وجدت في الصفحة متوافرا من التهنئات٬ يلقيها زملائي لمناسبة ذكرى ميلاد مولانا وتاج رؤوسنا فضيلة الإمام علي جمعة حفظه الله٬  من أبرز علماء المسلمين المعاصر٬ حامل ميراث النبوة المحمدي٬ ناصر أهل السنة والجماعة٬ صاحب المألفات العديدة النافعة٬.

فكم تفاجئت لما لفت نظري إلى تاريخ ميلاد هذا الإمام –الذي ولد في الثالث من مارس- حيث يوافق وقوعه بتاريخ ميلاد أحب رجل إليّ٬ وأعظم أبطال في حياتي٬ ألا وهو أبي الحبيب الكريم٬ الذي لا يزال فخري بشخصيته يزداد كلما تغيرت الأيام. وأصبح ما وجدت هذا لأول مرة مزيدا على هذا الافتخار الطبيعي.

فوقفت متحيرا بعد ما وعيت عن تصادف ميلاده اليوم٬ فماذا أفعل؟ الحفلة والتهنئة في يوم الميلاد ليست من عادة أسرتنا٬ بل هي أمر ينسى على الدوام.

بيد أني الآن٬ أودّ أن أوجّه كلمات قصيرة بَسِيطَة بصدد هذه الكتابة٬ تحفة له وإبرادا على شدة شوقي بعد لم أراه منذ نصف سنة. رغم أني لست من أصحاب الموهبة في مجال الكتابة٬ ولست من أهل البلاغة٬ ولست بارعا في دقة اختيار الكلمة الرائعة. ولكن ذرني أكتب حسبما ينبع من أعمق فؤاد الولد الحقير تلقاء والده الجليل.

يا أبتِ...

أولا٬ أشكر ربنا تبارك وتعالى على فضله و مَنِّه العظيم٬ إذ أذن لي أن أُنجب من الوالدين المسلمين المطيعين لله ورسوله والمشفقين للأبناء٬ ونشأت في كنفهما فرسَّخ في قلبي حب الله وحب حبيبه المصطفى صلى الله عليه وسلم٬ وتربيت تحت أحضانهما بالتربية الحسنة والشفقة الخالصة والرعاية الفائقة.

و أشكر أباك -جدي حفظه الله- وأمك –جدتي طيب الله ثراها-٬ إذ جهزاك أن تكون أبا متفوقا لأبنائه.

يا أبتِ...

ما أحلى الحبّ الذي ذقته منك منذ نعومة أظفاري حتى الآن٬ أينما كنتُ و لو أيّ مدَى مسافة كانت تفرق جسدنا٬ لا ينفك قلبي من شعور قربك وقوة محبتك وعجائب دعائك

*أنت كالشمس مجراها بعيد*
*وضَوْؤُها قريب وقلبي بالبعيد موكّل*

عذرا على قصري في جزاء حبك وعلى عجزي أن أكون ولدا بارّا وقرة عين لك. و ما أنا بقادر على أن أقول أشياء كثيرة. كفى العينين التين ذرفتا بالدموع شهيدا على عشقي٬ وكفى الدعاء مكافئة على كل القصر..

اللهم اغفر لي ولوالدي وارحمها كما ربياني صغيرا..

اللهم إنك تعلم أنه الآن قد بلغ سنّ انتقال رسولك صلى الله عليه وسلم إلى جوارك٬ بفضلك وكرمك أطل له بقاءً بجورانا٬ فإننا لانزال في شدة الحاجة إلى الإستفادة منه ولا نستغني من أنشاطه. وأَلْبِسْه الصحة والعافية في طاعتك٬ واملأ قلبه بالإيمان والتقوى٬ وزيِّن أخلاقه٬ واحفظه من جميع الآفات والمكروه٬ واحرسه في كل خطوة تخطها في خدمة الأمة المحمدية٬ ويسر له في قياد زمام معهد دار الكمال٬ ووفقه إلى كل خير في وظائفه مصلحا ومنهضا للشباب..

إنك على ما تشاء قدير وبالإجابة جدير. وصلى الله على صفوة الخلق نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين.