Sunday, April 10, 2016

SYAIKH AL-LAHJI DAN UPAYA REVITALISASI TURATS

Prolog

Menelisik perkembangan Bahasa Arab, Maulana Syaikh Fathi Hijazi pernah menyebutkan bahwa kemurnian bahasa ini mulai terdeterminasi 150 tahun sebelum Rasulullah SAW diutus, setelah melalui penyaringan dari sekian lahjah kabilah-kabilah Arab. Dengan turunnya Al-Qur’an, standar keindahan itu semakin memuncak. Puncak kemurnian dan keindahan itu terus berlanjut hingga abad ke-3 Hijriah.
Di samping faktor pergumulan dengan Bangsa ‘Ajam, faktor eksternal juga turut memicu kerusakan media komunikasi Kaum Arab ini. Para pembenci Islam berupaya merusak kefasihan umat Islam demi menjauhkan mereka dari pedomannya, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bangsa Tartar misalnya, setelah membumi-hanguskan Bagdad dan membakar semua kitab peninggalan ilmuan Islam. Mereka menggalakkan penulisan dengan Bahasa Asing. Penulis  yang menjalankan misi ini dibayar mahal. Sementara peredaran tulisan berbahasa Arab dicekal.
Syaikh Fathi menambahkan, karya-karya sastra yang tercipta di atas abad ke-3 H mulai mengalami degradasi. Walau sebenarnya pada era ini muncul banyak penyair handal. Tetapi mi’yar kemunduran yang dimaksud tak semata dinilai dari kualitas uslub dan teknik, tapi mencakup motif penciptaan dan moral value yang dititip. Al-Mutanabbi misalnya, penyair papan atas di Era Abbasiah. Qosidah-qosidahnya yang bombastis kerap dijadikan referensi kaidah Sastra Arab. Sayang, kelihaian ini sampai menjebaknya pada keangkuhan, dengan jumawa dia berkata:

أَنَا الَّذِى نَظَّرَ الْأَعْمَى إِلَى أَدَبِي **** وَأَسْمَعْتُ كَلِمَاتِي مَنْ بِهِ صَمَمُ
الخَيْلُ وَاللَّيْلُ وَالْبَيْدَاءُ تَعْرِفُنِيْ **** وَالسَّيْفُ وَالرُّمْحُ وَالْقِرْطَاسُ وَالَقْلَمُ

“Akulah yang memelekkan orang buta pada bacaan sastra.. Akulah yang memperdengarkan kata-kataku pada orang tuli..
Kuda, malam, padang pasir, pedang, tombak, kertas dan pena.. Semuanya mengenal siapa aku (mengakui kemampuanku dan tunduk padaku)”

Suatu malam ketika ia dan puteranya menyeberangi kesunyian padang pasir, sekawanan perampok bersenjata tajam mencegat mereka dan merampas harta Al-Mutannabbi. Melihat Al-Mutanabbi menyerah, bocah yang menemani berkomentar: “Bukankah kau pernah bilang ‘Pedang, tombak, kertas dan pena semuanya mengenal siapa aku’. Lalu kenapa kau takut pada pedang mereka?”. Tak mau gengsinya runtuh, Al-Mutanabbi mengejar perampok itu. Ironisnya kenekatan itu berujung petaka, ia ditikam dan tewas. Sejarahpun mengecapnya sebagai salah satu penyair yang terbunuh oleh lidahnya sendiri. Rahmatullah ‘alaih wa magfiratuhu lahu.

Perubahan dan perkembangan memang sebuah keniscayaan. Setiap karya yang lahir di suatu masa merupakan representasi inovasi yang terjadi di masa itu, dan kini dunia tulis-menulis tengah berkembang pesat. Kita hidup dimana buku bisa terbit setiap hari, penulis produktif menjamur dengan berbagai nuansa tulisan, ilmiah, dakwah, pengembangan diri, fiksi dan non-fiksi. Potret ini menjadi angin segar yang layak disyukuri dan apresiasi. Namun patut disayangkan apabila tujuan penulisan ternyata untuk komersil, mencari popularitas, atau cuma jiplakan. Tidak heran tulisan tersebar banyak, namun jangkauan manfaat belum jauh membawa umat menuju kemajuan dan memperbaiki moral. Karena semua usaha diukur oleh Allah berdasarkan kadar keikhlasan. “Innama al-A’malu bi an-Niyyat.”
Disinilah letak perbedaan karya masa kini dengan kitab-kitab masa lampau yang kita kenal dengan Turats. Para ulama salaf berkarya berasaskan fithrah salimah, mengharap keridhaan Allah SWT, memenuhi panggilan jiwa untuk menebarkan manfaat dan menjadikannya ladang pahala. Tak ayal bubuhan tinta mereka telah memberi sumbangsing besar bagi kemajuan peradaban di dunia. Tidak dimungkiri, revolusi Eropa dari dark ages menuju renaissance (marhalah an-nahdloh al-Urubiyyah) tidak lepas dari pengaruh kitab Ulama Islam yang mereka kaji dengan mendalam.
Dr. Ahmad Sulaiman dalam artikel di Majalah Bulanan Al-Azhar berpendapat, untuk menggapai kembali kejayaan umat masa lalu, Umat Muslim harus merujuk kitab-kitab turats dan mengembangkannya sesuai tepat guna. Ulama menganalogikan, umat ini sedang mengidap penyakit, para dokter sudah berhasil mendiagnosa jenis penyakitnya, lalu memberikan resep obat. Obatnya ada di depan kita, yaitu menghidupkan peninggalan ulama kita yang terkubur debu-debu di rak perpustakaan. Harta berharga yang diwariskan dari Nabi melalui ulama generasi ke generasi, karena Nabi tidak mewariskan harta berbentuk emas dan perak. Maka ketika berkutat dengan kitab, sejatinya kita sedang menggali harta karun yang masih terpendam.

انَّ الْأنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا٬ وَإِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ٬ فَمَنْ أَخَذَ مِنْهُ أَخَذَ بِحَظَّ وَافِرٍ

“Para Nabi tidak mewariskan harta berupa dinar atau dirham. Mereka mewariskan ilmu yang banyak untuk umatnya. Siapa saja yang mengambil bagian dari warisan itu, sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.”

Syaikh Al-Lahji dan Kitab Turats

Diantara yang mencurahkan perhatian besar kepada Kitab Turats adalah Syaikh Abdullah Al-Lahji. Kedekatannya dengan turats berpengaruh banyak pada pribadinya, bahkan genre dan gaya Bahasa goresan pena beliau persis gaya kitab Turats, sebuah skill yang tidak banyak dimiliki orang di zaman mutakhir.
Al-Magfurulah Syaikh Zainuddin Abdul Majid pernah bertanya kepada salah seorang muridnya, “Menurutmu mana yang lebih baik antara Syaikh Isma’il Utsman Zain dibanding Syaikh Abdullah Al-Lahji?”. Murid yang ditanya tentu kaget. Bagi alumnus Madrasah Ash-Shaulatiyah pertanyaan dilematis tersebut kira-kira setara dengan pertanyaan kepada seorang Al-Azhari, “Mana yang lebih baik, Syaikh Ahmad At-Thayyib ataukah Syaikh Ali Jum’ah?” Dua guru yang mendapat perlabuhan cinta tersendiri di hati semua murid.
Ketika sang murid terpaksa memilih Syaikh Isma’il, Ulama besar Bumi Selaparang itu justru punya penilaian tersendiri, “Menurutku, Syaikh Abdullah Al-Lahji lebih top. Coba kau perhatikan uslub tulisannya! Sangat elegan, bergaya uslub turats yang sangat sulit ditiru oleh penulis di zaman ini.”
Diantara karya yang menjadi saksi keikhlasan dan keluasan ilmunya, yaitu Kitab Muntaha As-Sul yang merupakan syarah Kitab Wasa’ilul Wushul ila Syama-il Ar-Rasul karya Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Yusuf bin Isma’il An-Nabahani. Kitab yang mengajak kita berkenalan lebih dekat dengan kemuliaan akhlak, sifat, syama’il dan keseharian Baginda Rasulullah SAW.
Ketika Syaikh Al-Lahji terbaring sakit menjelang wafat, murid tercintanya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki datang menjenguk. Dengan kondisi lemah, beliau meminta Abuya Sayyid Muhammad membaca sebuah naskah yang beliau simpan. Mata Abuya berbinar membaca tulisan menawan hati yang belum dibaca sebelumnya. Abuya tidak membayangkan itu tulisan milik siapa dan tidak terpintas untuk bertanya. Setelah beliau wafat, barulah beliau tahu itu milik guru tercinta. Beliau mengumpulkan naskah itu dan dicetak atas kemurahan hati beliau lalu dibagikan secara gratis.
Pengarangnya sendiri memang tidak mendapat royalti atas buah jerih payahnya selama bertahun-tahun, namun pahala amal jariyah dengan izin Allah akan terus mengalir kepada ruhnya karena keikhlasan itu.

Mengenal Syaikh Abdullah Al-Lahji
Syaikh Abdullah Sa'id Al-Lahji bersama Syaikh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Syaikh Al-‘Allamah Al-Faqih Al-Muarrikh Abdullah bin Sa’id Al-Lahji Al-Hadhromi lahir di Kampung Lahj, Yaman, 1343 H. Setelah menyisir penjuru Bumi Aulia “Yaman” untuk belajar dari sekian Ulama’nya, beliau menuju Makkah tahun 1374 H, bermukim selama setahun lalu pulang ke Yaman. Beliau kembali ke Tanah kelahiran Nabi SAW itu tahun 1377 H dan menetap disana sampai beliau wafat.
Keilmuannya diakui oleh penduduk Makkah, beliau dijadikan rujukan dalam Fiqih dan diangkat sebagai mufti Madzhab Syafi’iy. Di samping bertugas sebagai pengajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah, Al-Azhar-nya daratan Hijaz, perguruan tinggi tertua dan ternama pada masa itu, beliau juga membentuk halaqah di Masjid Al-Harom. Dari Rahim halaqah ilmiahnya telah lahir banyak Ulama sekaliber Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dan setiap yang berkesempatan mukim di Tanah Suci masa itu tidak ketinggalan kecipratan barokah ilmunya.
Syaikh yang bersahaja ini menjadi guru yang spesial di mata murid. Selain karena ketajaman ilmu, beliau memiliki selera humor yang tinggi untuk menghibur mahasiswanya di Madrasah Ash-Shaulatiyah. Di siang bolong ketika terik panas Arab memuncak, perut murid tengah keroncongan, dan peraturan perkuliahan yang ketat, di waktu ini beliau menutup pelajaran dan mulai berguyon dengan cerita-cerita lucu hingga muridnya terpingkal-pingkal melupakan rasa lapar.
Walaupun hidup di zaman kemajuan teknologi, Syaikh Al-Lahji kurang tertarik menikmati fasilitas canggih, jarang mengendarai mobil dan tidak pernah menggunakan pesawat. Ketika beliau ditanya kenapa tidak mau naik pesawat, dengan santai beliau menjawab: “Saya takut nanti pesawatnya kehabisan bahan bakar ketika terbang, sedangkan di atas sana tidak ada SPBU. Atau jatuh bautnya, sedang di atas sana tidak ada bengkel.” Mendengar jawaban itu, sontak para santri tertawa.
Sejatinya sikap beliau itu bukan karena takut, melainkan cerminan kezuhudan, wara’, ketawadhu’an dan kewaspadaan dari rasa tinggi. Ketinggian berbentuk apapun berpotensi membuat seseorang merasa jumawa. Hal ini beliau singkap dalam Kitab Muntaha As-Sul pada uraian Hadits tentang kebiasaan Rasulullah SAW membaca “Allahu Akbar” menjelang Khotaman Al-Qur’an dan setiap menginjak dataran tinggi.
Sunnah ini menyiratkan pesan, ketika seorang berada di posisi atas, hendaknya dia segera mengikrarkan keagungan Allah agar ia segera menyadari kedhaifannya. Posisi puncak -seperti mendapat predikat mumtaz, menang dalam kompetisi, mendapat ribuan like di facebook, khotam Al-Qur’an dan Kutubussittah- bisa membuka celah menyusupnya rasa ujub dalam diri. Hikmah melafazhkan takbir diharap bisa menge-rem sifat yang berasal dari Iblis laknatullah itu.
Setelah lama mengabdikan hidupnya dengan jihad ilmiah, Syaikh Al-Lahji berpulang ke Rahmatullah pada malam Ahad 26 Jumadal Ula 1410 H, setelah menderita sakit ringan selama 2 atau 3 hari. Jenazahnya digiring ke Ma’la oleh massa besar yang terdiri dari Ulama, thullab dan pencinta beliau.
Syaikh Al-Lahji selalu berpesan kepada murid yang akan pulang ke negerinya usai menuntaskan akademik, “Pulanglah, dan jangan pisahkan dirimu dengan kitab-kitab turats!”
Allah SWT mendorong hamba-Nya agar berlomba meraih manfaat dari warisan yang berupa Kitab Al-Qur’an, Kitab-Kitab himpunan Hadits Nabawi dan Kitab-Kitab ulama salaf. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Fathir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذالِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْر

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”


Monday, April 4, 2016

Tiga Ulama Idola

Mulai dari kemiripan fisik, wajah yang putih bersih memancarkan aura kesucian hati dan pola janggut yang putih tipis melingkari tepi muka. Usia mereka sebaya, 70 tahunan. Penampilan mereka berwibawa dan meyakinkan layaknya ahli ilmu. Sama-sama memiliki ilmu yang luas, juga gigih dan ikhlas dalam menyebarkannya. Akhlak-akhlak terpuji melekat pada pribadi mereka. Teguh berpegang pada credo Ahlussunnah wal Jama’ah, bermanhaj Wasathiy dan tegas membendung paham radikal dan liberal.
Itulah sekilas kesamaan yang saya tangkap dari tiga sosok Ulama yang dicintai, dikagumi dan diidolakan oleh semua pelajar di Mesir. Oleh semua yang mengenal mereka pada umumnya. Ulama Kibar yang membuat tanah Mesir yang gersang ini terasa Surga bagi penuntut ilmu.

·         Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Bai’its Al-Kattani

Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Ba'its Al-Kattani
Ayahanda Sayyid Muhammad Al-Kattani merupakan Ulama besar di Alexandria. Nasabnya bersambung sampai Nabi SAW melalui jalur Imam Husein RA Sayyid Syabab Ahlil Jannnah.
Ibunya wanita yang rajin ibadah, pendiam, giat membaca Al-Qur’an dan melantunkan shalawat, sering menangis karena takut kepada Allah, sangat setia kepada suami, ketaatannya bak seorang murid kepada guru, tidak pernah mengeraskan suara dan tidak pernah meminta macam-macam kepada suami. Dalam penantian kelahiran puteranya, wanita shalehah itu membeli kitab Shahih Bukhori untuk diwakafkan kepada para pelajar Hadis. Sedekah itu mengatas-namakan Muhammad, nama yang akan disematkan untuk puteranya.
Sayyid Muhammad Al-Kattani lahir pada Hari Senin, 27 Rajab 1365 H/1 Juli 1946 M, di Alexandria. Tumbuh di bawah asuhan istimewa orang tuanya. Tidak senang bermain seperti anak-anak kecil pada umumnya. Dari sejak kecil, ia menampakkan kecerdasan yang luar biasa, hafalan yang kuat dan gairah yang tinggi dalam belajar, terlebih dalam bidang Hadits An-Nabawi Asy-Syarif.
Berkat dorongan dan bimbingan ayahnya, di usia muda beliau hafal seluruh matan hadits dalam Shahih Hadits Bukhori (7.397 buah hadits) lengkap dengan sanadnya. Melihat kejeniusan puteranya, sang ayah sangat bangga, diungkapkan kebangganya dalam petikan syair:

أقر الله عيني يا محمدا    بتوفيق لشخصك في الأنام
ودمت بصحة دنيا ودينا    يحالفك النجاح بلا انصرام
ولا زلت المقدم في البرايا  بحب الله والهادي التهامي

Para penuntut ilmu memang layak memburu barokah ilmunya, apalagi beliau memegang sanad keilmuan yang tinggi, karena dapat mengambil sanad hadits dari Syaikh Sayyid Abdullah Shiddiq Al-Gumari, Syaikh Hafizh At-Tijani, Syaikh Shalih Al-Ja’fari dan ulama besar lainnya.
Karya tulis beliau memang tidak banyak, sebab kesibukan beliau yang sangat padat mengajar setiap harinya. Namun sedikit itu sangat luar biasa, bersumber dari pemikiran orisinil dan relevan dengan konteks problema yang muncul di zaman sekarang, serta dibutuhkan untuk membantah syubhat dan kebatilan. Diantara karya beliau, Ibra’u ad-Dzimmah bi tahqiqi al-Qouli haula iftiráqil Ummah dan Naqlu al-a’dha’ bainal hilyati wal hurmah, Raddul Mutasyabihat ilal Muhakkimat fi janibi khotamin nubuwwat  SAW.
Selain sibuk mengajar di kota tempat tinggalnya, beliau biasa menyempatkan waktu menuju Kairo setiap Selasa awal bulan mengobati kerinduan para muridnya . Dr. Shalah Hamid berkata: “Kalau berbicara tentang Hadits, seolah beliau telah meringkas sekian banyak pendapat ulama-ulama Hadits terdahulu. Dan jika berbicara tentang tafsir, beliau menyingkap wajah penafsiran yang belum pernah disebutkan oleh ulama sebelumnya.”

·         Prof. Dr. Syaikh Ahmad Umar Hasyim
Syaikh Ahmad Umar Hasyim

Imam Asy-Syaukani (w. 1255 H) penyusun kitab Nailul Authar, ketika ada yang menyarankan beliau mensyarah Kitab Shahih Bukhori, beliau enggan dan menjawab: “La hijrota ba’dal fathi.” Bahwa setelah adanya Kitab Fathul Bari milik Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), tidak dibutuhkan lagi syarah setelahnya, karena sangat komprehensif dan lengkap.
Kita patut bangga, diantara Masyaikh kita masih ada yang mengerahkan waktu dan tenaga untuk mensyarah kembali Kitab Shahih Bukhori dengan analitik. Beliau adalah Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim, pakar hadits dan ulum hadits di universitas Al-Azhar. Sebelum mulai melaukan proyek Faidhul Bari (16 jilid) yang berlangsung selama 14 tahun ini, beliau telah minta restu ke Makam Rasulullah SAW di Madinah, makam Imam Al-Bukhori di Rusia dan mendapat legitimasi langsung dari Imam Ibnu Hajar. Mengingat perlu adanya tajdid sesuai perkembangan zaman. Berkat kedalaman ilmu di bidang Hadits, juhud dalam mengajar serta getol membantah syubuhat kaum ingkar Sunnah, tidak berlebihan mereka menyematkan gelar Amirul Mukminin fil hadits hadzal ‘ashr.
Murid kesayangan Grand Syaikh Abdul Halim Mahmud ini lahir 6 Februari 1941, di Bani Amir, Zaqaziq. Kafa’ah yang beliau miliki dalam banyak hal, mengantar karir hidupnya dihiasi beberapa kedudukan bergengsi, diantaranya menjabat rektor Universitas Al-Azhar tahun 1995-2003.
Bahasanya sangat indah, fasih dan agitatif. Puluhan karya tulisnya dibukukan, menjadi diktat kuliah dan tersebar di berbagai jurnal. Walaupun kini fisik sudah mulai termakan usia. Beliau masih sibuk membaktikan hayatnya di jalan ilmu. Di samping kesibukan mengajar di beberapa Universitas, beliau juga aktif memberi ceramah di Televisi. Kami biasa menghadiri Majelis Syarah Bukhori di Masjid ‘Asyiroh Muhammadiyah setiap Hari Rabu sore dan setiap Malam Jumat di Masjid Al-Bathowiyah Nuzhah. Juga kerap menjadi Khotib Jumat di Masjid Ar-Rohman Ar-Rohim.

·         Prof. Dr. Syaikh Thaha Dusuqi Al-Hibisyi

Syaikh Thaha Dusuqi Hibisyi
Ajaib! Kata yang tepat untuk menggambarkan pribadi beliau. Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, beliau mampu menguasai berbagai fan keilmuan. Tafsir dan Hadits, aqidah, fiqih, tasawuf, ilmu politik, ilmu filsafat, hafal Al-Qur’an dan hafal banyak kitab, diantaranya kitab Ihya Ulumuddin. Beliau terhitung sebagai pemikir besar umat islam kontemporer. Karya-karya tulis menjadi saksi kredibilitas keilmuannya.
Tidak sekedar mengajar melalui lisan dan tulisan, tapi juga melalui perilaku. Beliau memberi kita teladan dalam spirit belajar dan mengajar. Di Madhyafah Syaikh Isma’il Shadiq Al-‘Adawi, setiap Rabu malam setelah Isya, beliau mengisi majlis syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin. Sementara Sabtu sore, mensyarah kitab Al-Hikam Al-‘Atha-iyyah milik Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Tidak absen kalau bukan karena kondisi yang sangat mendesak.
“Anak-anakku, saya harap kalian istiqomah menghadiri majlis pengajian ini. Jika alasan kalian adalah jarak, maka saya juga datang dari tempat yang jauh (Giza-Darosah). Kalian juga masih dalam nikmat yang sangat berharga, masa muda dan masih segar. (sedangkan usia beliau sendiri sudah cukup lanjut)”. Paparnya dalam suatu kesempatan, menyentil diantara kami yang inkonsisten menghadiri majlis yang penuh barokah itu.
Allah menganugerahkan beliau nikmat yang besar. Jika banyak orang membuat dosa dari nikmat mata, maka beliau terbebas dari pintu dosa ini. Allah berfirman dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Abu Hurairah RA:

مَنِ ابْتُلِيَ بِبَصَرِهِ فَصَبَرَ حَتَّى يَلْقَي اللهَ لَقِيَ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang diuji dengan hilang penglihatan, maka dia bersabar sampai meninggal, dia akan berjumpa dengan Allah ta’ala tanpa dihisab”.

Tidak cukupkah sebagai bukti kesabarannya, beliau tabah dan tetap berjuang fi sabilillah melalui jihad ilmiah.  
Ketua jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar ini hidup dalam kewara’an. Setiap ada donatur yang berniat untuk menghidangkan makanan untuk muridnya, beliau selektif dan harus meyakinkan sajian itu terjamin halal. Beliau khawatir aka nada barang yang tidak terjamin halal masuk ke perut muridnya, bagaimana dengan makanan untuk beliau sendiri dan keluarga. Ajaran tasawuf Imam Al-Ghozali benar-benar meresap dalam pribadinya.

Setelah selesai menguraikan makna-makna Ihya Ulumuddin dalam durasi sekitar 1 jam. Salah satu muridnya men-tarannumkan madh kepada Rasulullah SAW, beliau senang sekali mendengarkan puji-pujian untuk Nabi kecintaan, senyumnya merekah menandakan kalau madh itu telah berhasil mengusir lelahnya berbicara.