Monday, April 4, 2016

Tiga Ulama Idola

Mulai dari kemiripan fisik, wajah yang putih bersih memancarkan aura kesucian hati dan pola janggut yang putih tipis melingkari tepi muka. Usia mereka sebaya, 70 tahunan. Penampilan mereka berwibawa dan meyakinkan layaknya ahli ilmu. Sama-sama memiliki ilmu yang luas, juga gigih dan ikhlas dalam menyebarkannya. Akhlak-akhlak terpuji melekat pada pribadi mereka. Teguh berpegang pada credo Ahlussunnah wal Jama’ah, bermanhaj Wasathiy dan tegas membendung paham radikal dan liberal.
Itulah sekilas kesamaan yang saya tangkap dari tiga sosok Ulama yang dicintai, dikagumi dan diidolakan oleh semua pelajar di Mesir. Oleh semua yang mengenal mereka pada umumnya. Ulama Kibar yang membuat tanah Mesir yang gersang ini terasa Surga bagi penuntut ilmu.

·         Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Bai’its Al-Kattani

Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Ba'its Al-Kattani
Ayahanda Sayyid Muhammad Al-Kattani merupakan Ulama besar di Alexandria. Nasabnya bersambung sampai Nabi SAW melalui jalur Imam Husein RA Sayyid Syabab Ahlil Jannnah.
Ibunya wanita yang rajin ibadah, pendiam, giat membaca Al-Qur’an dan melantunkan shalawat, sering menangis karena takut kepada Allah, sangat setia kepada suami, ketaatannya bak seorang murid kepada guru, tidak pernah mengeraskan suara dan tidak pernah meminta macam-macam kepada suami. Dalam penantian kelahiran puteranya, wanita shalehah itu membeli kitab Shahih Bukhori untuk diwakafkan kepada para pelajar Hadis. Sedekah itu mengatas-namakan Muhammad, nama yang akan disematkan untuk puteranya.
Sayyid Muhammad Al-Kattani lahir pada Hari Senin, 27 Rajab 1365 H/1 Juli 1946 M, di Alexandria. Tumbuh di bawah asuhan istimewa orang tuanya. Tidak senang bermain seperti anak-anak kecil pada umumnya. Dari sejak kecil, ia menampakkan kecerdasan yang luar biasa, hafalan yang kuat dan gairah yang tinggi dalam belajar, terlebih dalam bidang Hadits An-Nabawi Asy-Syarif.
Berkat dorongan dan bimbingan ayahnya, di usia muda beliau hafal seluruh matan hadits dalam Shahih Hadits Bukhori (7.397 buah hadits) lengkap dengan sanadnya. Melihat kejeniusan puteranya, sang ayah sangat bangga, diungkapkan kebangganya dalam petikan syair:

أقر الله عيني يا محمدا    بتوفيق لشخصك في الأنام
ودمت بصحة دنيا ودينا    يحالفك النجاح بلا انصرام
ولا زلت المقدم في البرايا  بحب الله والهادي التهامي

Para penuntut ilmu memang layak memburu barokah ilmunya, apalagi beliau memegang sanad keilmuan yang tinggi, karena dapat mengambil sanad hadits dari Syaikh Sayyid Abdullah Shiddiq Al-Gumari, Syaikh Hafizh At-Tijani, Syaikh Shalih Al-Ja’fari dan ulama besar lainnya.
Karya tulis beliau memang tidak banyak, sebab kesibukan beliau yang sangat padat mengajar setiap harinya. Namun sedikit itu sangat luar biasa, bersumber dari pemikiran orisinil dan relevan dengan konteks problema yang muncul di zaman sekarang, serta dibutuhkan untuk membantah syubhat dan kebatilan. Diantara karya beliau, Ibra’u ad-Dzimmah bi tahqiqi al-Qouli haula iftiráqil Ummah dan Naqlu al-a’dha’ bainal hilyati wal hurmah, Raddul Mutasyabihat ilal Muhakkimat fi janibi khotamin nubuwwat  SAW.
Selain sibuk mengajar di kota tempat tinggalnya, beliau biasa menyempatkan waktu menuju Kairo setiap Selasa awal bulan mengobati kerinduan para muridnya . Dr. Shalah Hamid berkata: “Kalau berbicara tentang Hadits, seolah beliau telah meringkas sekian banyak pendapat ulama-ulama Hadits terdahulu. Dan jika berbicara tentang tafsir, beliau menyingkap wajah penafsiran yang belum pernah disebutkan oleh ulama sebelumnya.”

·         Prof. Dr. Syaikh Ahmad Umar Hasyim
Syaikh Ahmad Umar Hasyim

Imam Asy-Syaukani (w. 1255 H) penyusun kitab Nailul Authar, ketika ada yang menyarankan beliau mensyarah Kitab Shahih Bukhori, beliau enggan dan menjawab: “La hijrota ba’dal fathi.” Bahwa setelah adanya Kitab Fathul Bari milik Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), tidak dibutuhkan lagi syarah setelahnya, karena sangat komprehensif dan lengkap.
Kita patut bangga, diantara Masyaikh kita masih ada yang mengerahkan waktu dan tenaga untuk mensyarah kembali Kitab Shahih Bukhori dengan analitik. Beliau adalah Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim, pakar hadits dan ulum hadits di universitas Al-Azhar. Sebelum mulai melaukan proyek Faidhul Bari (16 jilid) yang berlangsung selama 14 tahun ini, beliau telah minta restu ke Makam Rasulullah SAW di Madinah, makam Imam Al-Bukhori di Rusia dan mendapat legitimasi langsung dari Imam Ibnu Hajar. Mengingat perlu adanya tajdid sesuai perkembangan zaman. Berkat kedalaman ilmu di bidang Hadits, juhud dalam mengajar serta getol membantah syubuhat kaum ingkar Sunnah, tidak berlebihan mereka menyematkan gelar Amirul Mukminin fil hadits hadzal ‘ashr.
Murid kesayangan Grand Syaikh Abdul Halim Mahmud ini lahir 6 Februari 1941, di Bani Amir, Zaqaziq. Kafa’ah yang beliau miliki dalam banyak hal, mengantar karir hidupnya dihiasi beberapa kedudukan bergengsi, diantaranya menjabat rektor Universitas Al-Azhar tahun 1995-2003.
Bahasanya sangat indah, fasih dan agitatif. Puluhan karya tulisnya dibukukan, menjadi diktat kuliah dan tersebar di berbagai jurnal. Walaupun kini fisik sudah mulai termakan usia. Beliau masih sibuk membaktikan hayatnya di jalan ilmu. Di samping kesibukan mengajar di beberapa Universitas, beliau juga aktif memberi ceramah di Televisi. Kami biasa menghadiri Majelis Syarah Bukhori di Masjid ‘Asyiroh Muhammadiyah setiap Hari Rabu sore dan setiap Malam Jumat di Masjid Al-Bathowiyah Nuzhah. Juga kerap menjadi Khotib Jumat di Masjid Ar-Rohman Ar-Rohim.

·         Prof. Dr. Syaikh Thaha Dusuqi Al-Hibisyi

Syaikh Thaha Dusuqi Hibisyi
Ajaib! Kata yang tepat untuk menggambarkan pribadi beliau. Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, beliau mampu menguasai berbagai fan keilmuan. Tafsir dan Hadits, aqidah, fiqih, tasawuf, ilmu politik, ilmu filsafat, hafal Al-Qur’an dan hafal banyak kitab, diantaranya kitab Ihya Ulumuddin. Beliau terhitung sebagai pemikir besar umat islam kontemporer. Karya-karya tulis menjadi saksi kredibilitas keilmuannya.
Tidak sekedar mengajar melalui lisan dan tulisan, tapi juga melalui perilaku. Beliau memberi kita teladan dalam spirit belajar dan mengajar. Di Madhyafah Syaikh Isma’il Shadiq Al-‘Adawi, setiap Rabu malam setelah Isya, beliau mengisi majlis syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin. Sementara Sabtu sore, mensyarah kitab Al-Hikam Al-‘Atha-iyyah milik Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Tidak absen kalau bukan karena kondisi yang sangat mendesak.
“Anak-anakku, saya harap kalian istiqomah menghadiri majlis pengajian ini. Jika alasan kalian adalah jarak, maka saya juga datang dari tempat yang jauh (Giza-Darosah). Kalian juga masih dalam nikmat yang sangat berharga, masa muda dan masih segar. (sedangkan usia beliau sendiri sudah cukup lanjut)”. Paparnya dalam suatu kesempatan, menyentil diantara kami yang inkonsisten menghadiri majlis yang penuh barokah itu.
Allah menganugerahkan beliau nikmat yang besar. Jika banyak orang membuat dosa dari nikmat mata, maka beliau terbebas dari pintu dosa ini. Allah berfirman dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Abu Hurairah RA:

مَنِ ابْتُلِيَ بِبَصَرِهِ فَصَبَرَ حَتَّى يَلْقَي اللهَ لَقِيَ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang diuji dengan hilang penglihatan, maka dia bersabar sampai meninggal, dia akan berjumpa dengan Allah ta’ala tanpa dihisab”.

Tidak cukupkah sebagai bukti kesabarannya, beliau tabah dan tetap berjuang fi sabilillah melalui jihad ilmiah.  
Ketua jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar ini hidup dalam kewara’an. Setiap ada donatur yang berniat untuk menghidangkan makanan untuk muridnya, beliau selektif dan harus meyakinkan sajian itu terjamin halal. Beliau khawatir aka nada barang yang tidak terjamin halal masuk ke perut muridnya, bagaimana dengan makanan untuk beliau sendiri dan keluarga. Ajaran tasawuf Imam Al-Ghozali benar-benar meresap dalam pribadinya.

Setelah selesai menguraikan makna-makna Ihya Ulumuddin dalam durasi sekitar 1 jam. Salah satu muridnya men-tarannumkan madh kepada Rasulullah SAW, beliau senang sekali mendengarkan puji-pujian untuk Nabi kecintaan, senyumnya merekah menandakan kalau madh itu telah berhasil mengusir lelahnya berbicara.

No comments:

Post a Comment