Mulai
dari kemiripan fisik, wajah yang putih bersih memancarkan aura kesucian hati
dan pola janggut yang putih tipis melingkari tepi muka. Usia mereka sebaya, 70
tahunan. Penampilan mereka berwibawa dan meyakinkan layaknya ahli ilmu. Sama-sama
memiliki ilmu yang luas, juga gigih dan ikhlas dalam menyebarkannya. Akhlak-akhlak
terpuji melekat pada pribadi mereka. Teguh berpegang pada credo Ahlussunnah
wal Jama’ah, bermanhaj Wasathiy dan tegas membendung paham radikal dan
liberal.
Itulah
sekilas kesamaan yang saya tangkap dari tiga sosok Ulama yang dicintai, dikagumi
dan diidolakan oleh semua pelajar di Mesir. Oleh semua yang mengenal mereka pada
umumnya. Ulama Kibar yang membuat tanah Mesir yang gersang ini terasa Surga
bagi penuntut ilmu.
·
Syaikh Muhammad
Ibrahim Abdul Bai’its Al-Kattani
![]() |
| Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Ba'its Al-Kattani |
Ibunya wanita yang
rajin ibadah, pendiam, giat membaca Al-Qur’an dan melantunkan shalawat, sering
menangis karena takut kepada Allah, sangat setia kepada suami, ketaatannya bak
seorang murid kepada guru, tidak pernah mengeraskan suara dan tidak pernah
meminta macam-macam kepada suami. Dalam penantian kelahiran puteranya, wanita
shalehah itu membeli kitab Shahih Bukhori untuk diwakafkan kepada para pelajar
Hadis. Sedekah itu mengatas-namakan Muhammad, nama yang akan disematkan untuk
puteranya.
Sayyid Muhammad
Al-Kattani lahir pada Hari Senin, 27 Rajab 1365 H/1 Juli 1946 M, di Alexandria.
Tumbuh di bawah asuhan istimewa orang tuanya. Tidak senang bermain seperti
anak-anak kecil pada umumnya. Dari sejak kecil, ia menampakkan kecerdasan yang
luar biasa, hafalan yang kuat dan gairah yang tinggi dalam belajar, terlebih
dalam bidang Hadits An-Nabawi Asy-Syarif.
Berkat dorongan dan
bimbingan ayahnya, di usia muda beliau hafal seluruh matan hadits dalam Shahih
Hadits Bukhori (7.397 buah hadits) lengkap dengan sanadnya. Melihat kejeniusan
puteranya, sang ayah sangat bangga, diungkapkan kebangganya dalam petikan syair:
أقر
الله عيني يا محمدا بتوفيق لشخصك في
الأنام
ودمت
بصحة دنيا ودينا يحالفك النجاح بلا
انصرام
ولا
زلت المقدم في البرايا بحب الله والهادي
التهامي
Para penuntut ilmu
memang layak memburu barokah ilmunya, apalagi beliau memegang sanad keilmuan
yang tinggi, karena dapat mengambil sanad hadits dari Syaikh Sayyid Abdullah
Shiddiq Al-Gumari, Syaikh Hafizh At-Tijani, Syaikh Shalih Al-Ja’fari dan ulama
besar lainnya.
Karya tulis beliau
memang tidak banyak, sebab kesibukan beliau yang sangat padat mengajar setiap
harinya. Namun sedikit itu sangat luar biasa, bersumber dari pemikiran orisinil
dan relevan dengan konteks problema yang muncul di zaman sekarang, serta dibutuhkan
untuk membantah syubhat dan kebatilan. Diantara karya beliau, Ibra’u
ad-Dzimmah bi tahqiqi al-Qouli haula iftiráqil Ummah dan Naqlu al-a’dha’
bainal hilyati wal hurmah, Raddul Mutasyabihat ilal Muhakkimat fi janibi
khotamin nubuwwat SAW.
Selain sibuk mengajar
di kota tempat tinggalnya, beliau biasa menyempatkan waktu menuju Kairo setiap
Selasa awal bulan mengobati kerinduan para muridnya . Dr. Shalah Hamid berkata:
“Kalau berbicara tentang Hadits, seolah beliau telah meringkas sekian banyak
pendapat ulama-ulama Hadits terdahulu. Dan jika berbicara tentang tafsir,
beliau menyingkap wajah penafsiran yang belum pernah disebutkan oleh ulama
sebelumnya.”
·
Prof. Dr. Syaikh
Ahmad Umar Hasyim
Imam
Asy-Syaukani (w. 1255 H) penyusun kitab Nailul Authar, ketika ada yang
menyarankan beliau mensyarah Kitab Shahih Bukhori, beliau enggan dan menjawab: “La
hijrota ba’dal fathi.” Bahwa setelah adanya Kitab Fathul Bari milik Imam
Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), tidak dibutuhkan lagi syarah setelahnya,
karena sangat komprehensif dan lengkap.
Kita
patut bangga, diantara Masyaikh kita masih ada yang mengerahkan waktu dan
tenaga untuk mensyarah kembali Kitab Shahih Bukhori dengan analitik. Beliau
adalah Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim, pakar hadits dan ulum hadits di universitas
Al-Azhar. Sebelum mulai melaukan proyek Faidhul Bari (16 jilid) yang
berlangsung selama 14 tahun ini, beliau telah minta restu ke Makam Rasulullah
SAW di Madinah, makam Imam Al-Bukhori di Rusia dan mendapat legitimasi langsung
dari Imam Ibnu Hajar. Mengingat perlu adanya tajdid sesuai perkembangan zaman.
Berkat kedalaman ilmu di bidang Hadits, juhud dalam mengajar serta getol
membantah syubuhat kaum ingkar Sunnah, tidak berlebihan mereka menyematkan
gelar Amirul Mukminin fil hadits hadzal ‘ashr.
Murid
kesayangan Grand Syaikh Abdul Halim Mahmud ini lahir 6 Februari 1941, di Bani
Amir, Zaqaziq. Kafa’ah yang beliau miliki dalam banyak hal, mengantar karir
hidupnya dihiasi beberapa kedudukan bergengsi, diantaranya menjabat rektor
Universitas Al-Azhar tahun 1995-2003.
Bahasanya
sangat indah, fasih dan agitatif. Puluhan karya tulisnya dibukukan, menjadi
diktat kuliah dan tersebar di berbagai jurnal. Walaupun kini fisik sudah mulai termakan
usia. Beliau masih sibuk membaktikan hayatnya di jalan ilmu. Di samping
kesibukan mengajar di beberapa Universitas, beliau juga aktif memberi ceramah
di Televisi. Kami biasa menghadiri Majelis Syarah Bukhori di Masjid ‘Asyiroh
Muhammadiyah setiap Hari Rabu sore dan setiap Malam Jumat di Masjid Al-Bathowiyah
Nuzhah. Juga kerap menjadi Khotib Jumat di Masjid Ar-Rohman Ar-Rohim.
·
Prof. Dr. Syaikh
Thaha Dusuqi Al-Hibisyi
![]() |
| Syaikh Thaha Dusuqi Hibisyi |
Tidak sekedar
mengajar melalui lisan dan tulisan, tapi juga melalui perilaku. Beliau memberi
kita teladan dalam spirit belajar dan mengajar. Di Madhyafah Syaikh Isma’il
Shadiq Al-‘Adawi, setiap Rabu malam setelah Isya, beliau mengisi majlis syarah
Kitab Ihya’ Ulumuddin. Sementara Sabtu sore, mensyarah kitab Al-Hikam
Al-‘Atha-iyyah milik Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Tidak absen kalau
bukan karena kondisi yang sangat mendesak.
“Anak-anakku,
saya harap kalian istiqomah menghadiri majlis pengajian ini. Jika alasan kalian
adalah jarak, maka saya juga datang dari tempat yang jauh (Giza-Darosah).
Kalian juga masih dalam nikmat yang sangat berharga, masa muda dan masih segar.
(sedangkan usia beliau sendiri sudah cukup lanjut)”. Paparnya
dalam suatu kesempatan, menyentil diantara kami yang inkonsisten menghadiri
majlis yang penuh barokah itu.
Allah menganugerahkan
beliau nikmat yang besar. Jika banyak orang membuat dosa dari nikmat mata, maka
beliau terbebas dari pintu dosa ini. Allah berfirman dalam hadits Qudsi yang
diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Abu Hurairah RA:
مَنِ
ابْتُلِيَ بِبَصَرِهِ فَصَبَرَ حَتَّى يَلْقَي اللهَ لَقِيَ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang diuji dengan hilang
penglihatan, maka dia bersabar sampai meninggal, dia akan berjumpa dengan Allah
ta’ala tanpa dihisab”.
Tidak cukupkah
sebagai bukti kesabarannya, beliau tabah dan tetap berjuang fi sabilillah melalui
jihad ilmiah.
Ketua jurusan Aqidah
dan Filsafat Universitas Al-Azhar ini hidup dalam kewara’an. Setiap ada donatur
yang berniat untuk menghidangkan makanan untuk muridnya, beliau selektif dan
harus meyakinkan sajian itu terjamin halal. Beliau khawatir aka nada barang
yang tidak terjamin halal masuk ke perut muridnya, bagaimana dengan makanan
untuk beliau sendiri dan keluarga. Ajaran tasawuf Imam Al-Ghozali benar-benar
meresap dalam pribadinya.
Setelah selesai
menguraikan makna-makna Ihya Ulumuddin dalam durasi sekitar 1 jam. Salah satu
muridnya men-tarannumkan madh kepada Rasulullah SAW, beliau senang
sekali mendengarkan puji-pujian untuk Nabi kecintaan, senyumnya merekah menandakan
kalau madh itu telah berhasil mengusir lelahnya berbicara.




No comments:
Post a Comment