Suami
yang shalih, cerdas, belahan jiwa yang sangat ia cintai telah wafat
meninggalkanya. Kini ia berstatus janda bersama putera yang masih belia bernama
Muhammad bin Isma’il (194 H-256 H). Ummu Muhammad menaruh harapan besar
puteranya kelak akan menjadi seperti sosok ayahnya sebagai Ulama. Di pelosok
Uzbekistan, sendiri ia berjuang keras mengasuh, membesarkan dan menanamkan jiwa
taqwa kepada anaknya sejak dini.
Namun,
betapa sedih sang Ibu melihat putera semata wayang tiba-tiba hilang
penglihatan. Kalau Muhammad buta, bagaimana ia bisa belajar agar impiannya
terwujud?
Cobaan
menyedihkan ini tak membuat wanita tangguh itu lantas putus asa. Ia justru ia
mulai berdoa lebih keras. Satu-satunya tempat bersandar atas kesulitan dan
tempat minta pertongan semata hanyalah Allah.
Mulailah
setiap tengah malam ia bangkit Qiyamullail, sepanjang malam berdoa
dengan penuh harap, penglihatan puteranya akan kembali dan kelak ia akan
menjadi Ulama besar. Bahkan dengan muluk ia memanjatkan doa “Ya Allah, jadikan
anakku berpengaruh besar bagi dunia!”. Tak pernah bosan dan letih dalam
keheningan malam saat orang-orang tidur pulas ia berdoa dengan shighah itu.
Telah
lama ia berdoa namun seolah tak ada respon. Sampailah suatu malam, ia berdoa
dengan kucuran air mata yang deras. “Ya, Allah Engkau yang memerintahkan
dalam QS. Ghafir hamba-Mu berdoa dan berjanji mengabulkan….”.
Tangisan
membawanya rebah tertidur dan mendapatkan mimpi yang menjadi dambaan setiap
Muslimin. Dalam mimpinya ia didatangi Rasulullah SAW membawa berita gembira, “Berbahagialah,
Ummu Muhammad! Kini anakmu sudah melihat.” Ia terkejut seraya gembira.
Segera ia membangunkan Al-Bukhari kecil dan ternyata benar, kini puteranya
sudah bisa melihat.
Karena
yang memberi kabar gembira adalah Nabi Muhammad SAW. Sang ibu berjanji akan
mengabdikan anaknya dalam menjaga Sunnah Nabi. Belum lama ia menikmati masa
kebersamaan bersama anaknya sejak bisa melihat. Esok harinya dengan tega ia
mengatakan, “Pergilah wahai Muhammad! Aku tak ingin kau ada disampingku.
Tinggallah belajar di Kuttab (Sejenis pondok pesantren) dan carilah Ulama yang
mengajarkanmu Hadits”. Muhammad yang masih berusia 7 tahun pergi dari sisi
ibunya menuju Kuttab.
Perkembangan
ilmiahnya luar biasa, Al-Qur’an ia hafal di luar kepala. Masih usia 10 tahun,
hafalan haditsnya membuat para Ulama tercengang. Tak menyia-nyiakan potensi
itu, gurunya memerintahkan ia untuk mulai berkelana mencari hadits ke seluruh
pusat-pusat ilmu pada waktu itu seperti Mekah, Khurasan, Iraq, Mesir dan Syiria.
Dengan niat Ikhlas menjaga sunnah Rasul SAW, serta demi mewujudkan harapan Ibu
tercinta.
Perjuangan
selama 16 tahun berkelana menempuh ribuan kilo berbuah manis. Siapa yang tidak
kenal Shahih Bukhori? Kitab yang dihargai oleh para Ulama dengan penghargaan
yang begitu tinggi sebagai Ashahhu al-Kutub ba’da al-Qur’an. Para ahli
Hadits menobatkannya sebagai Amirul Mukminin fil Hadits yang tsiqoh. Namanya
yang akrab dengan laqab Al-Bukhari diperbincangkan di seluruh dunia, tak hanya
oleh milyaran Muslim, non-muslim pun tahu namanya.
Itu
semua tak lepas dari “a woman behind the scene”, sosok wanita di balik
layar, yang bernama Ibu. Kisah Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari hanya
sebagai salah satu contoh. Betapa banyak di dunia ini orang-orang besar berkat tangan
emas seorang IBU, walau tanpa didampingi ayah. Sebut Imam Asy-Syafi’I yang
yatim dan miskin. Peran besar Ibunda Imam Malik dalam melecutkan potensi
anaknya. Ibunda Imam Ahmad yang selalu menggendong anaknya Shalat Subuh ke
Masjid dan ikut berbagai majlis Taklim.
المرأة عماد البلاد إذا صلحت صلح البلاد وإذا فسدت فسد البلاد
“Wanita itu
pondasinya Negara. Kebaikan suatu Negara tergantung pada kebaikan wanitanya. Kerusakan
suatu Negara tergantung pada kerusakan rakyat wanitanya.”
Para
akhwat, ingatlah peran krusial kalian terhadap anak ketika menjadi ibu.
Para
ikhwan, hormati ibumu, minta doa restu selalu, di tangannya kunci suksesmu.
Ibu
doakanlah kami!
***********************************************************
Dalam riwayat yang lebih
terpercaya, yang ditemui oleh Ibu Imam Bukhari dalam mimpinya adalah Nabi
Ibrahim a.s.
Wallahu A’lam.
Wallahu A’lam.
Kisah ini diceritakan oleh
Dr. Abdullah kepada kami, thullab Mustawa Mutaqaddim Awwal Qo’ah 17 Markaz
Syaikh Zayed li Ta’lim Al-Lughah Al-‘Arabiyyah li Gheir An-Natiqin Biha..
No comments:
Post a Comment