Sunday, January 17, 2016

Ibunda Imam Al-Bukhari RA

Suami yang shalih, cerdas, belahan jiwa yang sangat ia cintai telah wafat meninggalkanya. Kini ia berstatus janda bersama putera yang masih belia bernama Muhammad bin Isma’il (194 H-256 H). Ummu Muhammad menaruh harapan besar puteranya kelak akan menjadi seperti sosok ayahnya sebagai Ulama. Di pelosok Uzbekistan, sendiri ia berjuang keras mengasuh, membesarkan dan menanamkan jiwa taqwa kepada anaknya sejak dini.
Namun, betapa sedih sang Ibu melihat putera semata wayang tiba-tiba hilang penglihatan. Kalau Muhammad buta, bagaimana ia bisa belajar agar impiannya terwujud?
Cobaan menyedihkan ini tak membuat wanita tangguh itu lantas putus asa. Ia justru ia mulai berdoa lebih keras. Satu-satunya tempat bersandar atas kesulitan dan tempat minta pertongan semata hanyalah Allah.
Mulailah setiap tengah malam ia bangkit Qiyamullail, sepanjang malam berdoa dengan penuh harap, penglihatan puteranya akan kembali dan kelak ia akan menjadi Ulama besar. Bahkan dengan muluk ia memanjatkan doa “Ya Allah, jadikan anakku berpengaruh besar bagi dunia!”. Tak pernah bosan dan letih dalam keheningan malam saat orang-orang tidur pulas ia berdoa dengan shighah itu.
Telah lama ia berdoa namun seolah tak ada respon. Sampailah suatu malam, ia berdoa dengan kucuran air mata yang deras. “Ya, Allah Engkau yang memerintahkan dalam QS. Ghafir hamba-Mu berdoa dan berjanji mengabulkan….”.
Tangisan membawanya rebah tertidur dan mendapatkan mimpi yang menjadi dambaan setiap Muslimin. Dalam mimpinya ia didatangi Rasulullah SAW membawa berita gembira, “Berbahagialah, Ummu Muhammad! Kini anakmu sudah melihat.” Ia terkejut seraya gembira. Segera ia membangunkan Al-Bukhari kecil dan ternyata benar, kini puteranya sudah bisa melihat.
Karena yang memberi kabar gembira adalah Nabi Muhammad SAW. Sang ibu berjanji akan mengabdikan anaknya dalam menjaga Sunnah Nabi. Belum lama ia menikmati masa kebersamaan bersama anaknya sejak bisa melihat. Esok harinya dengan tega ia mengatakan, “Pergilah wahai Muhammad! Aku tak ingin kau ada disampingku. Tinggallah belajar di Kuttab (Sejenis pondok pesantren) dan carilah Ulama yang mengajarkanmu Hadits”. Muhammad yang masih berusia 7 tahun pergi dari sisi ibunya menuju Kuttab.
Perkembangan ilmiahnya luar biasa, Al-Qur’an ia hafal di luar kepala. Masih usia 10 tahun, hafalan haditsnya membuat para Ulama tercengang. Tak menyia-nyiakan potensi itu, gurunya memerintahkan ia untuk mulai berkelana mencari hadits ke seluruh pusat-pusat ilmu pada waktu itu seperti Mekah, Khurasan, Iraq, Mesir dan Syiria. Dengan niat Ikhlas menjaga sunnah Rasul SAW, serta demi mewujudkan harapan Ibu tercinta.
Perjuangan selama 16 tahun berkelana menempuh ribuan kilo berbuah manis. Siapa yang tidak kenal Shahih Bukhori? Kitab yang dihargai oleh para Ulama dengan penghargaan yang begitu tinggi sebagai Ashahhu al-Kutub ba’da al-Qur’an. Para ahli Hadits menobatkannya sebagai Amirul Mukminin fil Hadits yang tsiqoh. Namanya yang akrab dengan laqab Al-Bukhari diperbincangkan di seluruh dunia, tak hanya oleh milyaran Muslim, non-muslim pun tahu namanya.
Itu semua tak lepas dari “a woman behind the scene”, sosok wanita di balik layar, yang bernama Ibu. Kisah Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari hanya sebagai salah satu contoh. Betapa banyak di dunia ini orang-orang besar berkat tangan emas seorang IBU, walau tanpa didampingi ayah. Sebut Imam Asy-Syafi’I yang yatim dan miskin. Peran besar Ibunda Imam Malik dalam melecutkan potensi anaknya. Ibunda Imam Ahmad yang selalu menggendong anaknya Shalat Subuh ke Masjid dan ikut berbagai majlis Taklim.
المرأة عماد البلاد إذا صلحت صلح البلاد وإذا فسدت فسد البلاد
“Wanita itu pondasinya Negara. Kebaikan suatu Negara tergantung pada kebaikan wanitanya. Kerusakan suatu Negara tergantung pada kerusakan rakyat wanitanya.”
Para akhwat, ingatlah peran krusial kalian terhadap anak ketika menjadi ibu.
Para ikhwan, hormati ibumu, minta doa restu selalu, di tangannya kunci suksesmu.
Ibu doakanlah kami!


***********************************************************
Dalam riwayat yang lebih terpercaya, yang ditemui oleh Ibu Imam Bukhari dalam mimpinya adalah Nabi Ibrahim a.s.

Wallahu A’lam.

Kisah ini diceritakan oleh Dr. Abdullah kepada kami, thullab Mustawa Mutaqaddim Awwal Qo’ah 17 Markaz Syaikh Zayed li Ta’lim Al-Lughah Al-‘Arabiyyah li Gheir An-Natiqin Biha..

No comments:

Post a Comment