Tuesday, May 31, 2016

Doa Merangsang Kecerdasan

Pilihan mengenyam pendidikan di luar negeri seharusnya mendorong kita untuk siap berkompetisi lebih luas. Bukan sebatas kompetesi sesama pelajar Indonesia, tapi dengan semua wafidin dari berbagai penjuru dunia. Ulama Nusantara tempo doeloe itu luar biasa hebatnya, mereka bukan sekedar belajar di Masjidil Haram, tapi juga berhasil menjadi pengajar bahkan imam di kiblat Umat Islam itu, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib Minangkabawi, Syaikh Yasin Fadani dan Syaikh Hasyim Asy’ari misalnya.

Diantara putra Indonesia yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia belajar Internasional, yaitu Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid. Beliau memiliki daya saing yang tinggi dengan rekan-rekan belajarnya yang handal. Semasa belajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah, perguruan tinggi yang bergengsi kala itu di Hijaz, beliau satu kelas dengan Syaikh Zakaria Abdullah Bila.

Syaikh Zakaria Bila sendiri merupakan Ulama besar di Makkah Al-Mukarromah. Pangkat sebagai pengajar di Masjidil Haram, kitab-kitab yang ditelurkan dan murid-murid yang dicetak menjadi saksi kapabilitas keilmuannya. Namun selama belajar di Ash-Shaulatiyah, beliau hanya meraih ranking kedua di bawah mahasiswa asal pelosok Indonesia, bernama Zainuddin Abdul Majid.  Hal ini membuat Syaikh Zakaria menjadi ghibthoh (cemburu) terhadap raihan teman akrabnya itu. Beliaupun mulai men-stalking aktivitas sehari-sehari kawannya. Ternyata prestasi yang diraih Zainuddin memang tak lain berkat kegigihan berkutat dengan kitab-kitab, ia betah berlama-lama mendekam di perpustakaan melahap semua muqorror (diktat kuliah).

Diceritakan, Syaikh Zainuddin kalau sudah tenggelam dalam kenikmatan belajar, ia tidak menghiraukan makan minum atau apapun yang terjadi di sekitarnya. Pernah ketika beliau belajar, lentera belajarnya tersenggol dan menjalar ke pakaian yang dikenakan, tapi ia tetap saja asyik belajar. Bisa gawat kalau insiden itu tidak segera diketahui oleh kawannya. Memang benar keterangan Syaikh Abdul Fatah Abu Gudah dalam kitab “Qimatuzzaman ‘indal Ulama”, tentang bagaimana prestise waktu di mata orang-orang sukses.

Maka Syaikh Zakaria mempunyai ide untuk mengerjai mahasiswa kutu buku itu. Suatu malam menjelang imtihan, ia menyusup ke perpustakaan dan menyembunyikan semua muqorror yang biasa dibaca Zainuddin. Dengan demikian, Syaikh Zakaria menduga prestasi Zainuddin akan down pada imtihan kali ini karena tidak berkesempatan muzakaroh. Tapi ternyata prediksi itu meleset, lagi-lagi Zainuddin mendapat nilai mumtaz seperti biasa.

Artinya rahasia kejeniusan Syaikh Zainuddin tidak hanya diperoleh dari “Study Hard”, melainkan didukung oleh kedekatannya kepada Allah dan juga kekuatan doa. Beliau istiqomah mengamalkan doa-doa dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta doa-doa yang diterima dari para gurunya. Salah satu doa yang istiqomah beliau panjatkan yaitu petikan “Ad-Da’wah Ad-Dimyathiyah”, doa dahsyat berbentuk Qosidah yang disusun oleh Syaikh Nuruddin Ad-Dimyathi, asal Dimyat Mesir, sehingga beliau dianugerahi Allah ingatan yang kuat dan mudah memahami setiap ilmu yang dipelajari.

Rahmat Allah untuk kedua Ulama panutan kita ini. Syaikh Zakaria mengajarkan kita agar memiliki rasa cemburu kepada hamba Allah yang lebih baik ilmunya, sebagai Booster agar lebih semangat belajar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh iri kecuali pada dua tipe orang. Pertama, iri kepada lelaki yang Allah anugerahkan ilmu. Kedua, iri kepada lelaki yang Allah rezekikan harta untuk diinfakkan di jalan Allah.”


Rahmat Allah untuk Syaikh Zainuddin. Beliau memperlihatkan kepada kita kegigihan dalam belajar dan kekuatan hubungan dengan Sang Kholiq yang menjadi kunci mendapatkan ilmu nan luas dan barokah.

No comments:

Post a Comment