Pilihan mengenyam pendidikan
di luar negeri seharusnya mendorong kita untuk siap berkompetisi lebih luas. Bukan
sebatas kompetesi sesama pelajar Indonesia, tapi dengan semua wafidin dari berbagai
penjuru dunia. Ulama Nusantara tempo doeloe itu luar biasa hebatnya, mereka
bukan sekedar belajar di Masjidil Haram, tapi juga berhasil menjadi pengajar
bahkan imam di kiblat Umat Islam itu, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib
Minangkabawi, Syaikh Yasin Fadani dan Syaikh Hasyim Asy’ari misalnya.
Diantara putra Indonesia
yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia belajar Internasional,
yaitu Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid. Beliau memiliki daya saing yang
tinggi dengan rekan-rekan belajarnya yang handal. Semasa belajar di Madrasah
Ash-Shaulatiyah, perguruan tinggi yang bergengsi kala itu di Hijaz, beliau satu
kelas dengan Syaikh Zakaria Abdullah Bila.
Syaikh Zakaria Bila sendiri merupakan
Ulama besar di Makkah Al-Mukarromah. Pangkat sebagai pengajar di Masjidil Haram,
kitab-kitab yang ditelurkan dan murid-murid yang dicetak menjadi saksi
kapabilitas keilmuannya. Namun selama belajar di Ash-Shaulatiyah, beliau hanya
meraih ranking kedua di bawah mahasiswa asal pelosok Indonesia, bernama
Zainuddin Abdul Majid. Hal ini membuat Syaikh
Zakaria menjadi ghibthoh (cemburu) terhadap raihan teman akrabnya itu.
Beliaupun mulai men-stalking aktivitas sehari-sehari kawannya. Ternyata
prestasi yang diraih Zainuddin memang tak lain berkat kegigihan berkutat dengan
kitab-kitab, ia betah berlama-lama mendekam di perpustakaan melahap semua
muqorror (diktat kuliah).
Diceritakan, Syaikh
Zainuddin kalau sudah tenggelam dalam kenikmatan belajar, ia tidak menghiraukan
makan minum atau apapun yang terjadi di sekitarnya. Pernah ketika beliau
belajar, lentera belajarnya tersenggol dan menjalar ke pakaian yang dikenakan,
tapi ia tetap saja asyik belajar. Bisa gawat kalau insiden itu tidak segera
diketahui oleh kawannya. Memang benar keterangan Syaikh Abdul Fatah Abu Gudah
dalam kitab “Qimatuzzaman ‘indal Ulama”, tentang bagaimana prestise
waktu di mata orang-orang sukses.
Maka Syaikh Zakaria
mempunyai ide untuk mengerjai mahasiswa kutu buku itu. Suatu malam menjelang
imtihan, ia menyusup ke perpustakaan dan menyembunyikan semua muqorror yang
biasa dibaca Zainuddin. Dengan demikian, Syaikh Zakaria menduga prestasi
Zainuddin akan down pada imtihan kali ini karena tidak berkesempatan muzakaroh.
Tapi ternyata prediksi itu meleset, lagi-lagi Zainuddin mendapat nilai mumtaz
seperti biasa.
Artinya rahasia kejeniusan
Syaikh Zainuddin tidak hanya diperoleh dari “Study Hard”, melainkan didukung
oleh kedekatannya kepada Allah dan juga kekuatan doa. Beliau istiqomah
mengamalkan doa-doa dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta doa-doa yang diterima dari
para gurunya. Salah satu doa yang istiqomah beliau panjatkan yaitu petikan “Ad-Da’wah
Ad-Dimyathiyah”, doa dahsyat berbentuk Qosidah yang disusun oleh Syaikh
Nuruddin Ad-Dimyathi, asal Dimyat Mesir, sehingga beliau dianugerahi Allah
ingatan yang kuat dan mudah memahami setiap ilmu yang dipelajari.
Rahmat Allah untuk kedua
Ulama panutan kita ini. Syaikh Zakaria mengajarkan kita agar memiliki rasa
cemburu kepada hamba Allah yang lebih baik ilmunya, sebagai Booster agar lebih semangat
belajar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh iri
kecuali pada dua tipe orang. Pertama, iri kepada lelaki yang Allah anugerahkan
ilmu. Kedua, iri kepada lelaki yang Allah rezekikan harta untuk diinfakkan di
jalan Allah.”
Rahmat Allah untuk Syaikh
Zainuddin. Beliau memperlihatkan kepada kita kegigihan dalam belajar dan
kekuatan hubungan dengan Sang Kholiq yang menjadi kunci mendapatkan ilmu nan
luas dan barokah.

No comments:
Post a Comment