Monday, January 18, 2016

Strategi Tahfizh ala Strategi Sepak Bola


القُرْآنُ نُزِلَ فِي مَكَّةَ وَقُرِأَ فِي مِصْرَ
“Al-Qur’an diturunkan di Makkah dan dibaca di Mesir”.

Entah benar atau tidak, setidaknya adagium di atas teramini dengan eksistensi talaqqi-talaqi Al-Qur’an yang tersebar luas pada Masjid-Masjid di atas muka Bumi Kinanah. Tahsin cara membaca dan menyetorkan hafalan face to face di hadapan para Masyaikh Mesir yang handal dalam ketajaman hafalan dan Qira’at dengan rantai sanad bersambung sampai Rasulullah SAW.
Konon para masyaikh ini sangat baik dalam memperlakukan para muta’allim Al-Qur’an. Dengan sabar membenarkan bacaan yang tidak tepat, menyalakan pijar api semangat muridnya dalam jihad tahfizh, tak jarang bahkan memberi fasilitas berupa makanan dan uang saku. Dengan potret Bi’ah (lingkungan) kondusif seperti ini, rugilah Masisir yang tidak memanfaatkan keberadaannya disini untuk berakrab ria dengan Kitab Suci, yang merupakan pesan cinta dari Tuhan yang Maha Cinta.
Bagi yang tinggal di Darosah, bisa memilih ikut program tahfiz di Imam-Imam Masjid Al-Azhar, Masjid Sayidina Husein RA, Masjid Shaleh Al-Ja’fari atau tempat-tempat lainnya. Kendati demikian, Si Ujang lebih memilih belajar ngaji sama Syaikh yang Andunisiy dulu. Selain agar mempermudah komunikasi, ujang juga malu dengan bacaan yang masih sangat buruk dan tabungan hafalan yang sedikit.
Setelah maju mundur, Senin 26 Oktober 2015 Ujang menuju Sahah Indonesia tempat Ustadz Ali Irham setia duduk dari pukul 8 pagi sampai Magrib menyimak satu persatu yang datang sorogan. Program ini berjalan dua kali dalam sepekan, Senin dan Rabu.
Tak dinyana, dalam sorogan perdana itu, Ujang bagai anak yang baru belajar ngaji. Seratusan kali Ustadz El membenarkan bacaannya dalam kekeliruan Makhorijul Huruf, Tajwid dan Waqaf wal Ibtida’ sesuai pen-tathbiqan Qira’ah riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim, jalur Imam Syatibi. Saat itu Ujang masih belum tuntas menghafal Juz 1, sementara 10 juz terakhir yang pernah dihafal sudah 2 bulan tak dimuroja’ah.
Setelah Shadaqallah, sebelum Ujang melenggang pulang, Ustadz El berpesan kepada Ujang agar mengatur strategi yang jitu dalam menghafal Al-Qur’an. Dimana menambah hafalan (Al-Hifz) dan mengulang (Al-Muroja’ah) harus berjalan serasi. Bahkan Muroja’ah muqoddamun ‘ala at-tahfiz. “Nambah hafalan itu sunnah, Mas. Muroja’ahnya yang wajib.” Kata Ustadz El yang biasa memanggil muridnya Mas Fulan.
Soal mengatur strategi, hati Ujang tiba-tiba membayangkan, mengatur strategi dalam menghafal Al-Qur’an seperti memasang taktik dalam permainan sepak bola saja. Dalam permainan sepak bola, pelatih memiliki tiga opsi taktik yang bisa dipilih demi kemenangan tim besutannya:
1.      Starategi Ofensiv (Menyerang)
Melancarkan serangan, habis-habisan menggempur lawan demi mencetak gol yang banyak. Sedangkan kekuatan lini pertahanan diabaikan. Kelemahan strategi ini, saat lengah, musuh bisa leluasa membobol gawangnya. Alih-alih menang besar, kelemahan perhatanan justru menjadi petaka kekalahan. Kecuali tim yang memang dihuni pemain berkelas.
Ini mengacu kepada penghafal Al-Qur’an yang terlalu bersemangat menambah hafalan dan mengabaikan urgensi muroja’ah. Merasakan kesuburannya ia kian bersemangat terus-menerus menambah. Alih-alih cepat hafal 30 juz, setelah menyadari kekalutan hafalan yang tak pernah dimuroja’ah, justru itu menjadi bumerang yang membawa keputus-asaan. Kecuali penghafal dengan daya ingat yang memang kuat. Nas-alullah al-istiqomah wal mudawamah.
2.      Strategi Defensif (Bertahan)
Sebaliknya dari ofensif. Para pemain setia berdiri di garis pertahanan, bak parkiran Bus. Tidak berani mengambil risiko dengan menyerang. Terlepas dari Counter-Attack, walaupun penganut Defensifisme ini tidak kebobolan, tapi susah juga untuk mendapat kemenangan.
Mengacu kepada penghafal Al-Qur’an yang takut beralih ke hafalan baru dan hanya bertahan dengan terus mengulang hafalan lama. Berarti ga nambah-nambah dong.
3.      Strategi Balance
Inilah totalistas yang sesungguhnya. Penghafal Al-Qur’an bisa menyeimbangkan waktu untuk hifzh dan muroja’ah. Metode inilah yang seharusnya diterapkan bagi penghafal dengan daya otak standar. “Sebaik-baik perkara adalah yang seimbang”.
Tak dimungkiri, sulit memang menerapkan Balansis dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Butuh keseriusan menyediakan waktu khusus bersama Al-Qur’an. Dalam hal ini, Ust El bilang “Satu hari 4 jam, itu minimal yang tidak bisa ditawar-tawar.” Waktunya bisa diatur fleksibel sesuai kesibukan harian yang lain. Adapun Ujang membaginya seperti ini;
a.      Satu jam setelah shalat subuh untuk menambah 1 halaman
b.      Satu jam setelah zuhur menambah 1 halaman lagi
c.       Satu jam setelah Ashar mengokohkan yang tadinya ditambahkan
d.     Satu jam setelah Isya untuk muroja’ah satu juz
Kalau yang dihabiskan untuk Al-Qur’an hanya 4 jam saja dalam sehari, masih ada waktu merdeka sepanjang 20 jam. Sebenarnya masih bisa ditambah.
Ujang sendiri pada awal mula tiba di Mesir biasa mengikuti banyak talaqqi Kitab di samping kewajiban Darul Lughoh. Mau tidak mau, kesibukan-kesibukan lain harus dipangkas (bukan membabat habis). Karena bagi Ujang, menghafal Al-Qur’an adalah prioritas utama untuk tahun pertama di Mesir. Apalagi setelah mendengar pendapat Ulama muda Maroko, Syaikh Sa’id Al-Kamali mengatakan “Syarat minimum untuk menjadi Ulama adalah harus hafal Al-Qur’an, tidak bisa ditawar.”
Singkat cerita, dalam kurun 3 bulan, berkat ketegasan Ust El menerapkan taktik Balance pada setiap muridnya, Ujang sudah bisa menambah 5 juz pertama. Sambil sesekali masih bisa mereparasi hafalan lama.
Adapun masalah proses, memang butuh waktu. Nikmati saja kelezatan sejati yang didapat saat bercengkrama dengan Tuhan melalui pembacaan Kalam-Nya. Lupakan langkah cepat, metode 3 bulan hafal 30 juz dan tajuk buru-buru sejenisnya. Yang Allah nilai dari hamba-Nya bukan hasil, tapi bagaimana proses ia berjuang menggapai hasil. Allah berfirman:
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى. (النجم: 40-41)

Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk meraih cita-cita mulia ini dan memohon kepada-Nya untuk meluruskan niat, Al-Qur’an bukan untuk orientasi (Aghrod) duniawi, bukan untuk menjadi kebanggaan, atau untuk mencari harta. Akan tetapi semata agar menjadi Hamba yang istimewa di Mata Allah. Sebagaimana bisyarah yang dikhabarkan oleh Rasul-Nya:
أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُه
“Ahlul Qur’an (yang menghafal, membaca, mentadabburi, mengamalkan dan mengajarkannya) mereka adalah para wali Allah dan orang-orang special di sisi-Nya.” ~HR. Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah~

اللّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَشِفَاءَ صُدُوْرِنَا وَنُوْرَ أَبْصَارِنَا وَذهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا, وَقَائِدَنَا وَدَلِيْلَنَا إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيْم, ذكر منه ما نسينا, علمنا منه ماجهلنا.

اللهم وَفِّقْنَا لِحِفْظِ القرآن وأن نَتْلُوَهُ آناءَ الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا, واجعلنا ممن يقيم حروفه وحدوده, نعوذ بك أن نكون ممن يقيمون حروفه ويضيعون حدوده.

Yang Pertama dilakukan Pasca Bangun Tidur

Kondisi seseorang saat tidur hampir sama dengan kondisi kematian. Tergeletak tubuhnya, matanya terpejam, ruhnya melayang dan tak sadarkan diri.
Wajar ketika ia bangun dan bangkit, terasa tubuhnya lemah gemulai. Di cermin ia mendapati wajahnya pucat pasi, rambutnya semerawut, tampak menyerupai mayat. Di saat itu seyogyanya ia berdzikir mengingat nikmat Allah, bersyukur karena ruhnya masih Allah izinkan kembali ke jasadnya.
Maka, agar jasadnya betul-betul menyatu dengan ruh dan semangatnya kembali pulih, orang yang baru bangkit dari Maut Shugra ini disunnahkan segera mengambil air wudhu. Sebab, Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيّ
“Dari air, kami jadikan segala sesuatu hidup..” Air wudhu inilah sebagai penyiram jiwanya yang sedang kering karena sempat mati.
Kemudian setelah merasa jasmaniahnya kembali hidup, disunnahkan baginya untuk Shalat sebarang dua raka’at saja. Shalat akan membuat hati seseorang connect (Ittishal) kepada Allah SWT, menyalakan listrik rohaninya untuk berkinerja dengan baik sesuai sistem keimanan.
Dengan begitu, jika seorang bangun tidur lalu berdzikir, berwudhu dan shalat, maka kembalilah nyawa lahir dan bathinnya. Denyut semangat dan imannya kembali aktif.
Nasihat ini, saya dengar dari Syaikh Prof. Dr. Fathi Hijazi ketika menghadiri Dars mingguan beliau Syarh Kitab Ibnu ‘Aqil di Ruwaq Magharibah, Sabtu (21/11/15). Beliau mengutip ungkapan guru beliau Syaikh Shalih Al-Ja’fari RA.
Ketika suatu hari iseng membuka kitab Al-Bayan lima Yusygilu Al-Adzhan karya Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, saya menemukan sebuah Hadits, dimana pernyataan Syaikh Shalih Ja’fari di atas sejalan dengan hadits ini:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ, يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ, فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ, فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ, فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ, وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Ketika seorang tidur, syaithan menjerat lehernya dengan tiga ikatan, syaithan meninabobokkan agar dia tidur sepuasnya sepanjang malam (tidak mau bangun shalat malam). Maka apabila dia bangun kemudian berdzikir, terbukalah satu ikatan. Apabila dia berwudhu, terlepaslah ikatan kedua. Apabila dia shalat, terlepaslah ikatan yang ketiga. Sehingga dia menyambut pagi dengan semangat dan jiwa yang segar. Jika tidak (dzikir, wudhu dan shalat), paginya terasa galau dan malas.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Walláhu Subhanahu wa Ta’ala A’la wa A’lam..

Sunday, January 17, 2016

Ustadz Muhanna dan Wejangan Segarnya

Ustadz Muhanna Abdur Rasyad
~Pengajar al-Qawa’id wa al-Balaghah di Mustawa Mutawassith Tsani Markaz Lughoh~

وَاللهِ إِنِّي أٌحِبُّكُمْ لِلهِ وَإِنِّي لَا أُرِيْدُ صِلَةُ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ تَنْحَصِرُ فِيْ هَذِهِ الْقَاعَةَ فَحَسْبُ......الخ
Demikian petikan ungkapan yang beliau sampaikan dalam  salah satu muhadharah-nya. Terasa magnetis dan berkesan. Ungkapan yang ku rasa tulus berasal dari hatinya.
 “Demi Allah, anak-anakku! Sungguh, Saya mencintai kalian karena Allah. Saya tidak mau hubungan kita hanya sebatas intraksi belajar di dalam ruang ini saja. Silahkan, di manapun kita bertemu sapalah saya. Sampai kapanpun, saya bersedia menjadi mitra belajar kalian. Tanya kepada saya apa saja yang berkaitan dengan Ilmu Syariah, Tafsir, Hadits dan lainnya. Saya akan sangat gembira, dan akan menjawabnya selama saya mampu.”
Dari deskripsi gurat mukanya, aku membaca usia beliau sepertinya sudah mencapai kepala 5. Tapi pergaulan beliau sangat cair dengan kami para anak muda, seolah tak ada sekat. Katanya, itu karena khibrah (pengalaman) selama bertahun-tahun mendidik dan bergumul langsung bersama anak muda dengan berbagai karakternya.
Lulusan pascasarjana Cairo University ini memiliki ciri khas yang cukup menarik dalam mengajar. Sebelum memulai materi pelajaran Qawa’id dan Balaghah, sempatnya meluangkan waktu 10 menit untuk memberi nasihat-nasihat indah dan berharga sebagai pegangan hidup bagi kami. Uniknya, setiap nasihat dijadikan Madkhol (pintu masuk) karena di ujung nasihat itu, kami tercengang cara beliau tiba-tiba sampai di maudhu’ yang akan kita pelajari hari itu.
Rasanya amat rugi diri yang haus pelajaran hidup ini jika membiarkan poin-poin nasihat beliau berlalu begitu saja dan sia-sia. Lebih celaka lagi, kalau nama beliau nanti bisa-bisanya hilang dari ingatan. Walaupun hanya 40 hari, In Sya Allah sarat barakah dan berpengaruh besar dalam mempositifkan cara pandangku pada kehidupan.
Athalallahu ‘umrahu wa albasahu ash-shihhah wal ‘afiyah thula hayatih, Ustadz Muhanna. Melalui tulisan ini, aku ingin mengabadikan namanya agar ku kenang sampai akhir hayat. Tak hanya nama, yang terpenting nasihat-nasihatnya, yang tak seluruhnya bisa ku rekam dengan baik disini.

1.      Pentingnya Mencatat Pelajaran
Di awal pertemuan, Ustadz yang kerap masuk tanpa bawa muqorror ini sama sekali tak memperkenalkan diri atau memberi keterangan sepintas seputar kehidupan pribadinya. Kharismanya membuat kami malu bertanya. Jadi, namanya saja baru kami ketahui setelah beberapa minggu.
Di hari pertama beliau masuk, Ustadz berkepala pelontos ini langsung menekankan kepada kami akan pentingnya men-tasjil pelajaran. “Kalian ini sedang berburu, jadi harus mempersiapkan ikatan untuk mengikat buruan yang kalian dapatkan! Daya ingat manusia itu terbatas. Maka tidak bisa diandalkan sebagai pengingat secara permanen. Sabda Rasul SAW:

اسْتَعِنْ عَلَي حِفْظِكَ بِيَمِيْنِكَ
“Bantulah ingatanmu dengan catatan tangan kananmu!”
Maka saya terapkan aturan:
a.      Dalam setiap pertemuan kalian harus menulis apa yang saya tulis di papan,
b.      Jangan lupa tulis hari dan tanggal,
c.       Sebagai adab, tulisan di papan itu jangan ditulis ketika saya sedang menjelaskan, kecuali kalian mengutip dari pembicaraan saya apa yang kalian anggap penting.
Dan kesadaran akan pentingnya mencatat ini, tidak hanya saat bersama saya. Dimanapun, ketika menemukan ilmu atau pengalaman, catatlah! Fa bi at-tali, kalian perlu membawa ini kemana saja (sambil menunjukkan pulpen di sakunya). Semakin sering kalian menulis, juga akan membuat estetika tulisan (Khat) kalian menjadi lebih indah.
2.      Penutup Pelajaran
Di setiap akhir pelajaran, sebelum wada’, beliau tidak pernah lupa memimpin kami membaca doa Kaffaratul Majlis “Subhanakallahumma bi hamdika asyhadu an la Ilaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaika” dan membaca Surat Al-Ashr.
Ketika ditanya kenapa Surat Al-Ashr? Jawabnya, karena surat pendek ini memuat pesan yang sangat luas hanya dalam 3 ayat.
3.      Kaifa ‘Alaqatukum Bi Rabbikum?
Setelah bertanya “Keif halukum, Ya Syabab?” Lalu beliau bertanya, “Bagaimana kabar hubungan kalian dengan Tuhan kalian?” Beliau berjanji akan terus menanyakan ini kepada kami di setiap  pertemuan. Sebagaimana halnya Rasulullah kerap menanyakan itu kepada setiap sahabat beliau.
 “Man faqodallah fama wajad, waman wajadallah fama faqod.”
Jika kau merasa dirimu sudah jauh dari Allah, segeralah kembali untuk mendekat. Allah selalu menunggu. “Mataqarraba ilayya ‘abdi…” Ukuran baiknya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, di samping menjalankan hal-hal yang wajib harus dengan amalan Sunnah. Seperti berikut,
-          Shalat Subuh berjama’ah
Kalau orang-orang tau keutamaannya, semuanya akan mendatangi masjid untuk shalat subuh walau dengan merangkak.
Setiap hari kehadiran kami Shalat Subuh di Masjid ditanyakan secara serius.
-          Shalat 12 Rokaat dalam sehari
Membaca hadits “Barang siapa memelihara Shalat 12 Rokaat selain Fardhu, dibangunkan baginya rumah di Surga.
-          Puasa Senin dan Kamis
Setiap masuk hari Senin dan Kamis, selalu menanyakan siapa yang puasa. Pernah membawa cokelat kurma High Quality, dibagikan ke yang berpuasa untuk berbuka.

4.      Sosok Pekerja Keras
Belum tahu pasti dimana tempatnya tinggal. Beliau menceritakan, usai shalat subuh harus segera berangkat, dan sepanjang hari mengajar Bahasa Arab pada mahasiswa asing. Kembali ke rumah malam hari dan masih harus berkutat dengan tugas semacam membuat laporan mengajar. Kegaptekan mengharuskan untuk menyelesaikan tugas itu secara manual tulis tangan. Makanya usai shalat, beliau sering mencuri waktu tidur di masjid walau beberapa menit.
Setiap harinya dengan pekerjaan sepadat itu. Rasanya saya sendiri yang masih muda tidak sanggup. Dikasi PR sedikit saja langsung mengeluh.
Memang di dunia ini waktunya untuk beramal. Terus isi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat. Jangan perhitungan. Akan ada saatnya waktu yang indah untuk menikmati hasil usaha. “Al-Yauma lil-‘amal wa Gadan al-Hisab”.
5.      Man arada ar-rahah taraka ar-rahah
Sebelum masuk ke maudhu’ Fi’il Madih, kami diajak membayangkan keindahan Surga dengan bidadarinya. Untuk meraih kenikmatan itu, ujiannya harus meninggalkan kenikmatan-kenikmatan dunia, seperti kesenangan anak muda melirik wanita cantik, atau segala bentuk hura-hura yang tercela. Jalani hidup dengan wara’.
Man arada ar-rahah taraka ar-rahah.” Barang siapa yang menginginkan kesenangan (di Akhirat), dia harus meninggalkan kesenangan (di Dunia).
6.      Kekuatan umat muslim diukur dari sejauh mana kedekatannya dengan Allah
Beberapa kali Ustadz Muhanna membahas tentang konflik yang terus berkelanjutan di tubuh umat Muslim akhir-akhir ini. Negara-negara Arab bukannya berperang melawan penjajah mereka, malah berperang sesama muslim dan senegara. Saling bunuh membunuh sudah biasa, padahal nilai satu nyawa di Mata Allah lebih berharga dari dunia. “Ashbahal muslimu arkhosu daman.”(Darah orang Muslim sekarang menjadi sangat murah).
Menurutnya, ini terjadi karena kerenggangan hubungan umat Muslim dengan Tuhannya. Di saat saudara muslimnya tertindas, yang lain seolah tak peduli, malah tidur nyenyak dan makan lahap. Walau tak memungkinkan untuk berada bersama mereka. Seharusnya tetap simpati cukup dengan berdo’a. Luangkan waktu Qiyamullail untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memohon kedamaian umat Muslim. Jangan remehkan do’a, karena do’a adalah senjata ampuh bagi orang mukmin.
Semakin kuat hubungan kedekatan umat Muslim kepada Allah Ta’ala, maka semakin kuat persatuannya dari kejahatan musuh yang tak henti mencoba menjatuhkan Islam.
7.      Kisah 3 Pemuda dalam QS. Al-Qalam ayat 17-33
Untuk menguji Maharah Istima’, beliau meminta kami mendengar dengan baik kisah tentang 3 orang pemuda yang mewarisi kekayaan harta ayah yang dermawan, tapi mereka malah kikir kepada orang miskin, akhirnya datanglah Azab berupa api yang melalap harta itu.
Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini, Ustadz menguji kami untuk menyebutkannya. Saat itu aku bisa menyebut dua, dan cara beliau memuji jawaban siswanya sangat mengesankan untuk menambah kepercayaan diri. Ya, kepercayaan diri sebagai modal terpenting berani berbicara Bahasa Arab,
8.      Jangan Remehkan dosa
لًا تَنْظُرْ صَغِيْرَ الْمَعْصِيَّة وَلَكِن انْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْت, فَإِنَّهُ لَا صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ وَلَا كَبِيْرَةَ مَعَ الْإِسْتِغْفَار
“Jangan memandang pada kecilnya dosa, tapi sadarilah kepada Siapa kau sedang berbuat pelanggaran. Sesungguhnya bukan dosa kecil kalau dikerjakan terus menerus dan bukan dosa besar apabila dibarengi dengan Istigfar.
Sekecil apapun dosa, tetaplah itu pelanggaran kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Agung. Jaga diri untuk tidak ternoda oleh dosa sekecil apapun. Sayyidina Ali Karramallahuwajhah ketika ditanya tentang hari raya yang sebenarnya, beliau menjawab:
اليَوْمُ الَّذِي لَا أَعْصِي اللهَ فِيْهِ فَهُوَ الْعِيْدَ
‘Hari yang tidak ku kotori dengan maksiat kepada Allah, bagiku itulah hari raya yang berbahagia.”
9.      Musim dingin musim yang indah
Saat mulai memasuki musim dingin, beliau memberi kewaspadaan agar semangat kami tak kendor untuk belajar dan beribadah. Sebaliknya ditingkatkan, pertama kalinya aku mendengar ungkapan ini dari beliau:
الشِّتَاءُ رَبِيْعٌ لِلْمُؤْمِنِيْن, لِأَنَّ لَيْلَهُ طَوِيْلٌ لَلٍقَيَامِ وَ نَهَارُهُ قَصِيْرٌ لِلصِّيَامِ
“Musim dingin itu indah bagi orang-orang mukmin, karena malamnya panjang untuk berjaga dan siangnya pendek untuk berpuasa.”
10.  Aina Antum Minal Qur’an?

Keunggulan yang menjadi nilai Plus para Ustadz di Darul Lughoh, hampir semua hafal Al-Qur’an. Ustadz Muhanna, setiap mendatangkan dalil dari Ayat Suci, dibaca sepotong agar kami yang melanjutkan. Kalau tidak ada dari kami yang bisa menyambung, penggemar Syaikh Sya’rowi ini akan menggertak “Mana hafalan Al-Qur’an kalian?”. Katanya sambil melotot. “Mau jadi Cendikiawan Islam, kok ga hafal Al-Qur’an. Kalian harus selalu bawa ini agar bisa tetap baca dan hafal.” Sambungnya sambil menunjukkan mushaf saku yang selalu menyertai kantong di dadanya.
Ustadz Muhanna dan Ustadz Muhammad Kamal a.k.a Mr. Klimis :-D

Ibunda Imam Al-Bukhari RA

Suami yang shalih, cerdas, belahan jiwa yang sangat ia cintai telah wafat meninggalkanya. Kini ia berstatus janda bersama putera yang masih belia bernama Muhammad bin Isma’il (194 H-256 H). Ummu Muhammad menaruh harapan besar puteranya kelak akan menjadi seperti sosok ayahnya sebagai Ulama. Di pelosok Uzbekistan, sendiri ia berjuang keras mengasuh, membesarkan dan menanamkan jiwa taqwa kepada anaknya sejak dini.
Namun, betapa sedih sang Ibu melihat putera semata wayang tiba-tiba hilang penglihatan. Kalau Muhammad buta, bagaimana ia bisa belajar agar impiannya terwujud?
Cobaan menyedihkan ini tak membuat wanita tangguh itu lantas putus asa. Ia justru ia mulai berdoa lebih keras. Satu-satunya tempat bersandar atas kesulitan dan tempat minta pertongan semata hanyalah Allah.
Mulailah setiap tengah malam ia bangkit Qiyamullail, sepanjang malam berdoa dengan penuh harap, penglihatan puteranya akan kembali dan kelak ia akan menjadi Ulama besar. Bahkan dengan muluk ia memanjatkan doa “Ya Allah, jadikan anakku berpengaruh besar bagi dunia!”. Tak pernah bosan dan letih dalam keheningan malam saat orang-orang tidur pulas ia berdoa dengan shighah itu.
Telah lama ia berdoa namun seolah tak ada respon. Sampailah suatu malam, ia berdoa dengan kucuran air mata yang deras. “Ya, Allah Engkau yang memerintahkan dalam QS. Ghafir hamba-Mu berdoa dan berjanji mengabulkan….”.
Tangisan membawanya rebah tertidur dan mendapatkan mimpi yang menjadi dambaan setiap Muslimin. Dalam mimpinya ia didatangi Rasulullah SAW membawa berita gembira, “Berbahagialah, Ummu Muhammad! Kini anakmu sudah melihat.” Ia terkejut seraya gembira. Segera ia membangunkan Al-Bukhari kecil dan ternyata benar, kini puteranya sudah bisa melihat.
Karena yang memberi kabar gembira adalah Nabi Muhammad SAW. Sang ibu berjanji akan mengabdikan anaknya dalam menjaga Sunnah Nabi. Belum lama ia menikmati masa kebersamaan bersama anaknya sejak bisa melihat. Esok harinya dengan tega ia mengatakan, “Pergilah wahai Muhammad! Aku tak ingin kau ada disampingku. Tinggallah belajar di Kuttab (Sejenis pondok pesantren) dan carilah Ulama yang mengajarkanmu Hadits”. Muhammad yang masih berusia 7 tahun pergi dari sisi ibunya menuju Kuttab.
Perkembangan ilmiahnya luar biasa, Al-Qur’an ia hafal di luar kepala. Masih usia 10 tahun, hafalan haditsnya membuat para Ulama tercengang. Tak menyia-nyiakan potensi itu, gurunya memerintahkan ia untuk mulai berkelana mencari hadits ke seluruh pusat-pusat ilmu pada waktu itu seperti Mekah, Khurasan, Iraq, Mesir dan Syiria. Dengan niat Ikhlas menjaga sunnah Rasul SAW, serta demi mewujudkan harapan Ibu tercinta.
Perjuangan selama 16 tahun berkelana menempuh ribuan kilo berbuah manis. Siapa yang tidak kenal Shahih Bukhori? Kitab yang dihargai oleh para Ulama dengan penghargaan yang begitu tinggi sebagai Ashahhu al-Kutub ba’da al-Qur’an. Para ahli Hadits menobatkannya sebagai Amirul Mukminin fil Hadits yang tsiqoh. Namanya yang akrab dengan laqab Al-Bukhari diperbincangkan di seluruh dunia, tak hanya oleh milyaran Muslim, non-muslim pun tahu namanya.
Itu semua tak lepas dari “a woman behind the scene”, sosok wanita di balik layar, yang bernama Ibu. Kisah Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari hanya sebagai salah satu contoh. Betapa banyak di dunia ini orang-orang besar berkat tangan emas seorang IBU, walau tanpa didampingi ayah. Sebut Imam Asy-Syafi’I yang yatim dan miskin. Peran besar Ibunda Imam Malik dalam melecutkan potensi anaknya. Ibunda Imam Ahmad yang selalu menggendong anaknya Shalat Subuh ke Masjid dan ikut berbagai majlis Taklim.
المرأة عماد البلاد إذا صلحت صلح البلاد وإذا فسدت فسد البلاد
“Wanita itu pondasinya Negara. Kebaikan suatu Negara tergantung pada kebaikan wanitanya. Kerusakan suatu Negara tergantung pada kerusakan rakyat wanitanya.”
Para akhwat, ingatlah peran krusial kalian terhadap anak ketika menjadi ibu.
Para ikhwan, hormati ibumu, minta doa restu selalu, di tangannya kunci suksesmu.
Ibu doakanlah kami!


***********************************************************
Dalam riwayat yang lebih terpercaya, yang ditemui oleh Ibu Imam Bukhari dalam mimpinya adalah Nabi Ibrahim a.s.

Wallahu A’lam.

Kisah ini diceritakan oleh Dr. Abdullah kepada kami, thullab Mustawa Mutaqaddim Awwal Qo’ah 17 Markaz Syaikh Zayed li Ta’lim Al-Lughah Al-‘Arabiyyah li Gheir An-Natiqin Biha..