Sunday, January 17, 2016

Ustadz Muhanna dan Wejangan Segarnya

Ustadz Muhanna Abdur Rasyad
~Pengajar al-Qawa’id wa al-Balaghah di Mustawa Mutawassith Tsani Markaz Lughoh~

وَاللهِ إِنِّي أٌحِبُّكُمْ لِلهِ وَإِنِّي لَا أُرِيْدُ صِلَةُ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ تَنْحَصِرُ فِيْ هَذِهِ الْقَاعَةَ فَحَسْبُ......الخ
Demikian petikan ungkapan yang beliau sampaikan dalam  salah satu muhadharah-nya. Terasa magnetis dan berkesan. Ungkapan yang ku rasa tulus berasal dari hatinya.
 “Demi Allah, anak-anakku! Sungguh, Saya mencintai kalian karena Allah. Saya tidak mau hubungan kita hanya sebatas intraksi belajar di dalam ruang ini saja. Silahkan, di manapun kita bertemu sapalah saya. Sampai kapanpun, saya bersedia menjadi mitra belajar kalian. Tanya kepada saya apa saja yang berkaitan dengan Ilmu Syariah, Tafsir, Hadits dan lainnya. Saya akan sangat gembira, dan akan menjawabnya selama saya mampu.”
Dari deskripsi gurat mukanya, aku membaca usia beliau sepertinya sudah mencapai kepala 5. Tapi pergaulan beliau sangat cair dengan kami para anak muda, seolah tak ada sekat. Katanya, itu karena khibrah (pengalaman) selama bertahun-tahun mendidik dan bergumul langsung bersama anak muda dengan berbagai karakternya.
Lulusan pascasarjana Cairo University ini memiliki ciri khas yang cukup menarik dalam mengajar. Sebelum memulai materi pelajaran Qawa’id dan Balaghah, sempatnya meluangkan waktu 10 menit untuk memberi nasihat-nasihat indah dan berharga sebagai pegangan hidup bagi kami. Uniknya, setiap nasihat dijadikan Madkhol (pintu masuk) karena di ujung nasihat itu, kami tercengang cara beliau tiba-tiba sampai di maudhu’ yang akan kita pelajari hari itu.
Rasanya amat rugi diri yang haus pelajaran hidup ini jika membiarkan poin-poin nasihat beliau berlalu begitu saja dan sia-sia. Lebih celaka lagi, kalau nama beliau nanti bisa-bisanya hilang dari ingatan. Walaupun hanya 40 hari, In Sya Allah sarat barakah dan berpengaruh besar dalam mempositifkan cara pandangku pada kehidupan.
Athalallahu ‘umrahu wa albasahu ash-shihhah wal ‘afiyah thula hayatih, Ustadz Muhanna. Melalui tulisan ini, aku ingin mengabadikan namanya agar ku kenang sampai akhir hayat. Tak hanya nama, yang terpenting nasihat-nasihatnya, yang tak seluruhnya bisa ku rekam dengan baik disini.

1.      Pentingnya Mencatat Pelajaran
Di awal pertemuan, Ustadz yang kerap masuk tanpa bawa muqorror ini sama sekali tak memperkenalkan diri atau memberi keterangan sepintas seputar kehidupan pribadinya. Kharismanya membuat kami malu bertanya. Jadi, namanya saja baru kami ketahui setelah beberapa minggu.
Di hari pertama beliau masuk, Ustadz berkepala pelontos ini langsung menekankan kepada kami akan pentingnya men-tasjil pelajaran. “Kalian ini sedang berburu, jadi harus mempersiapkan ikatan untuk mengikat buruan yang kalian dapatkan! Daya ingat manusia itu terbatas. Maka tidak bisa diandalkan sebagai pengingat secara permanen. Sabda Rasul SAW:

اسْتَعِنْ عَلَي حِفْظِكَ بِيَمِيْنِكَ
“Bantulah ingatanmu dengan catatan tangan kananmu!”
Maka saya terapkan aturan:
a.      Dalam setiap pertemuan kalian harus menulis apa yang saya tulis di papan,
b.      Jangan lupa tulis hari dan tanggal,
c.       Sebagai adab, tulisan di papan itu jangan ditulis ketika saya sedang menjelaskan, kecuali kalian mengutip dari pembicaraan saya apa yang kalian anggap penting.
Dan kesadaran akan pentingnya mencatat ini, tidak hanya saat bersama saya. Dimanapun, ketika menemukan ilmu atau pengalaman, catatlah! Fa bi at-tali, kalian perlu membawa ini kemana saja (sambil menunjukkan pulpen di sakunya). Semakin sering kalian menulis, juga akan membuat estetika tulisan (Khat) kalian menjadi lebih indah.
2.      Penutup Pelajaran
Di setiap akhir pelajaran, sebelum wada’, beliau tidak pernah lupa memimpin kami membaca doa Kaffaratul Majlis “Subhanakallahumma bi hamdika asyhadu an la Ilaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaika” dan membaca Surat Al-Ashr.
Ketika ditanya kenapa Surat Al-Ashr? Jawabnya, karena surat pendek ini memuat pesan yang sangat luas hanya dalam 3 ayat.
3.      Kaifa ‘Alaqatukum Bi Rabbikum?
Setelah bertanya “Keif halukum, Ya Syabab?” Lalu beliau bertanya, “Bagaimana kabar hubungan kalian dengan Tuhan kalian?” Beliau berjanji akan terus menanyakan ini kepada kami di setiap  pertemuan. Sebagaimana halnya Rasulullah kerap menanyakan itu kepada setiap sahabat beliau.
 “Man faqodallah fama wajad, waman wajadallah fama faqod.”
Jika kau merasa dirimu sudah jauh dari Allah, segeralah kembali untuk mendekat. Allah selalu menunggu. “Mataqarraba ilayya ‘abdi…” Ukuran baiknya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, di samping menjalankan hal-hal yang wajib harus dengan amalan Sunnah. Seperti berikut,
-          Shalat Subuh berjama’ah
Kalau orang-orang tau keutamaannya, semuanya akan mendatangi masjid untuk shalat subuh walau dengan merangkak.
Setiap hari kehadiran kami Shalat Subuh di Masjid ditanyakan secara serius.
-          Shalat 12 Rokaat dalam sehari
Membaca hadits “Barang siapa memelihara Shalat 12 Rokaat selain Fardhu, dibangunkan baginya rumah di Surga.
-          Puasa Senin dan Kamis
Setiap masuk hari Senin dan Kamis, selalu menanyakan siapa yang puasa. Pernah membawa cokelat kurma High Quality, dibagikan ke yang berpuasa untuk berbuka.

4.      Sosok Pekerja Keras
Belum tahu pasti dimana tempatnya tinggal. Beliau menceritakan, usai shalat subuh harus segera berangkat, dan sepanjang hari mengajar Bahasa Arab pada mahasiswa asing. Kembali ke rumah malam hari dan masih harus berkutat dengan tugas semacam membuat laporan mengajar. Kegaptekan mengharuskan untuk menyelesaikan tugas itu secara manual tulis tangan. Makanya usai shalat, beliau sering mencuri waktu tidur di masjid walau beberapa menit.
Setiap harinya dengan pekerjaan sepadat itu. Rasanya saya sendiri yang masih muda tidak sanggup. Dikasi PR sedikit saja langsung mengeluh.
Memang di dunia ini waktunya untuk beramal. Terus isi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat. Jangan perhitungan. Akan ada saatnya waktu yang indah untuk menikmati hasil usaha. “Al-Yauma lil-‘amal wa Gadan al-Hisab”.
5.      Man arada ar-rahah taraka ar-rahah
Sebelum masuk ke maudhu’ Fi’il Madih, kami diajak membayangkan keindahan Surga dengan bidadarinya. Untuk meraih kenikmatan itu, ujiannya harus meninggalkan kenikmatan-kenikmatan dunia, seperti kesenangan anak muda melirik wanita cantik, atau segala bentuk hura-hura yang tercela. Jalani hidup dengan wara’.
Man arada ar-rahah taraka ar-rahah.” Barang siapa yang menginginkan kesenangan (di Akhirat), dia harus meninggalkan kesenangan (di Dunia).
6.      Kekuatan umat muslim diukur dari sejauh mana kedekatannya dengan Allah
Beberapa kali Ustadz Muhanna membahas tentang konflik yang terus berkelanjutan di tubuh umat Muslim akhir-akhir ini. Negara-negara Arab bukannya berperang melawan penjajah mereka, malah berperang sesama muslim dan senegara. Saling bunuh membunuh sudah biasa, padahal nilai satu nyawa di Mata Allah lebih berharga dari dunia. “Ashbahal muslimu arkhosu daman.”(Darah orang Muslim sekarang menjadi sangat murah).
Menurutnya, ini terjadi karena kerenggangan hubungan umat Muslim dengan Tuhannya. Di saat saudara muslimnya tertindas, yang lain seolah tak peduli, malah tidur nyenyak dan makan lahap. Walau tak memungkinkan untuk berada bersama mereka. Seharusnya tetap simpati cukup dengan berdo’a. Luangkan waktu Qiyamullail untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memohon kedamaian umat Muslim. Jangan remehkan do’a, karena do’a adalah senjata ampuh bagi orang mukmin.
Semakin kuat hubungan kedekatan umat Muslim kepada Allah Ta’ala, maka semakin kuat persatuannya dari kejahatan musuh yang tak henti mencoba menjatuhkan Islam.
7.      Kisah 3 Pemuda dalam QS. Al-Qalam ayat 17-33
Untuk menguji Maharah Istima’, beliau meminta kami mendengar dengan baik kisah tentang 3 orang pemuda yang mewarisi kekayaan harta ayah yang dermawan, tapi mereka malah kikir kepada orang miskin, akhirnya datanglah Azab berupa api yang melalap harta itu.
Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini, Ustadz menguji kami untuk menyebutkannya. Saat itu aku bisa menyebut dua, dan cara beliau memuji jawaban siswanya sangat mengesankan untuk menambah kepercayaan diri. Ya, kepercayaan diri sebagai modal terpenting berani berbicara Bahasa Arab,
8.      Jangan Remehkan dosa
لًا تَنْظُرْ صَغِيْرَ الْمَعْصِيَّة وَلَكِن انْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْت, فَإِنَّهُ لَا صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ وَلَا كَبِيْرَةَ مَعَ الْإِسْتِغْفَار
“Jangan memandang pada kecilnya dosa, tapi sadarilah kepada Siapa kau sedang berbuat pelanggaran. Sesungguhnya bukan dosa kecil kalau dikerjakan terus menerus dan bukan dosa besar apabila dibarengi dengan Istigfar.
Sekecil apapun dosa, tetaplah itu pelanggaran kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Agung. Jaga diri untuk tidak ternoda oleh dosa sekecil apapun. Sayyidina Ali Karramallahuwajhah ketika ditanya tentang hari raya yang sebenarnya, beliau menjawab:
اليَوْمُ الَّذِي لَا أَعْصِي اللهَ فِيْهِ فَهُوَ الْعِيْدَ
‘Hari yang tidak ku kotori dengan maksiat kepada Allah, bagiku itulah hari raya yang berbahagia.”
9.      Musim dingin musim yang indah
Saat mulai memasuki musim dingin, beliau memberi kewaspadaan agar semangat kami tak kendor untuk belajar dan beribadah. Sebaliknya ditingkatkan, pertama kalinya aku mendengar ungkapan ini dari beliau:
الشِّتَاءُ رَبِيْعٌ لِلْمُؤْمِنِيْن, لِأَنَّ لَيْلَهُ طَوِيْلٌ لَلٍقَيَامِ وَ نَهَارُهُ قَصِيْرٌ لِلصِّيَامِ
“Musim dingin itu indah bagi orang-orang mukmin, karena malamnya panjang untuk berjaga dan siangnya pendek untuk berpuasa.”
10.  Aina Antum Minal Qur’an?

Keunggulan yang menjadi nilai Plus para Ustadz di Darul Lughoh, hampir semua hafal Al-Qur’an. Ustadz Muhanna, setiap mendatangkan dalil dari Ayat Suci, dibaca sepotong agar kami yang melanjutkan. Kalau tidak ada dari kami yang bisa menyambung, penggemar Syaikh Sya’rowi ini akan menggertak “Mana hafalan Al-Qur’an kalian?”. Katanya sambil melotot. “Mau jadi Cendikiawan Islam, kok ga hafal Al-Qur’an. Kalian harus selalu bawa ini agar bisa tetap baca dan hafal.” Sambungnya sambil menunjukkan mushaf saku yang selalu menyertai kantong di dadanya.
Ustadz Muhanna dan Ustadz Muhammad Kamal a.k.a Mr. Klimis :-D

No comments:

Post a Comment