Ustadz
Muhanna Abdur Rasyad
~Pengajar
al-Qawa’id wa al-Balaghah di Mustawa Mutawassith Tsani Markaz Lughoh~
وَاللهِ
إِنِّي أٌحِبُّكُمْ لِلهِ وَإِنِّي لَا أُرِيْدُ صِلَةُ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ تَنْحَصِرُ
فِيْ هَذِهِ الْقَاعَةَ فَحَسْبُ......الخ
Demikian
petikan ungkapan yang beliau sampaikan dalam
salah satu muhadharah-nya. Terasa magnetis dan berkesan. Ungkapan yang
ku rasa tulus berasal dari hatinya.
“Demi Allah, anak-anakku! Sungguh, Saya
mencintai kalian karena Allah. Saya tidak mau hubungan kita hanya sebatas
intraksi belajar di dalam ruang ini saja. Silahkan, di manapun kita bertemu
sapalah saya. Sampai kapanpun, saya bersedia menjadi mitra belajar kalian.
Tanya kepada saya apa saja yang berkaitan dengan Ilmu Syariah, Tafsir, Hadits
dan lainnya. Saya akan sangat gembira, dan akan menjawabnya selama saya mampu.”
Dari
deskripsi gurat mukanya, aku membaca usia beliau sepertinya sudah mencapai kepala
5. Tapi pergaulan beliau sangat cair dengan kami para anak muda, seolah tak ada
sekat. Katanya, itu karena khibrah (pengalaman) selama
bertahun-tahun mendidik dan bergumul langsung bersama anak muda dengan berbagai
karakternya.
Lulusan
pascasarjana Cairo University ini memiliki ciri khas yang cukup menarik dalam
mengajar. Sebelum memulai materi pelajaran Qawa’id dan Balaghah,
sempatnya meluangkan waktu 10 menit untuk memberi nasihat-nasihat indah dan
berharga sebagai pegangan hidup bagi kami. Uniknya, setiap nasihat dijadikan Madkhol
(pintu masuk) karena di ujung nasihat itu, kami tercengang cara beliau
tiba-tiba sampai di maudhu’ yang akan kita pelajari hari itu.
Rasanya
amat rugi diri yang haus pelajaran hidup ini jika membiarkan poin-poin nasihat
beliau berlalu begitu saja dan sia-sia. Lebih celaka lagi, kalau nama beliau
nanti bisa-bisanya hilang dari ingatan. Walaupun hanya 40 hari, In Sya Allah
sarat barakah dan berpengaruh besar dalam mempositifkan cara pandangku pada kehidupan.
Athalallahu
‘umrahu wa albasahu ash-shihhah wal ‘afiyah thula hayatih, Ustadz
Muhanna. Melalui tulisan ini, aku ingin mengabadikan namanya agar ku kenang
sampai akhir hayat. Tak hanya nama, yang terpenting nasihat-nasihatnya, yang tak
seluruhnya bisa ku rekam dengan baik disini.
1.
Pentingnya Mencatat
Pelajaran
Di awal pertemuan, Ustadz
yang kerap masuk tanpa bawa muqorror ini sama sekali tak memperkenalkan
diri atau memberi keterangan sepintas seputar kehidupan pribadinya. Kharismanya
membuat kami malu bertanya. Jadi, namanya saja baru kami ketahui setelah
beberapa minggu.
Di hari pertama beliau
masuk, Ustadz berkepala pelontos ini langsung menekankan kepada kami akan pentingnya
men-tasjil pelajaran. “Kalian ini sedang berburu, jadi harus
mempersiapkan ikatan untuk mengikat buruan yang kalian dapatkan! Daya ingat
manusia itu terbatas. Maka tidak bisa diandalkan sebagai pengingat secara
permanen. Sabda Rasul SAW:
اسْتَعِنْ
عَلَي حِفْظِكَ بِيَمِيْنِكَ
“Bantulah ingatanmu dengan catatan tangan kananmu!”
Maka
saya terapkan aturan:
a. Dalam
setiap pertemuan kalian harus menulis apa yang saya tulis di papan,
b. Jangan
lupa tulis hari dan tanggal,
c. Sebagai
adab, tulisan di papan itu jangan ditulis ketika saya sedang menjelaskan,
kecuali kalian mengutip dari pembicaraan saya apa yang kalian anggap penting.
Dan
kesadaran akan pentingnya mencatat ini, tidak hanya saat bersama saya. Dimanapun,
ketika menemukan ilmu atau pengalaman, catatlah! Fa bi at-tali, kalian
perlu membawa ini kemana saja (sambil menunjukkan pulpen di sakunya). Semakin
sering kalian menulis, juga akan membuat estetika tulisan (Khat) kalian
menjadi lebih indah.
2.
Penutup Pelajaran
Di setiap akhir pelajaran, sebelum wada’, beliau
tidak pernah lupa memimpin kami membaca doa Kaffaratul Majlis “Subhanakallahumma
bi hamdika asyhadu an la Ilaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaika” dan
membaca Surat Al-Ashr.
Ketika ditanya kenapa
Surat Al-Ashr? Jawabnya, karena surat pendek ini memuat pesan yang sangat luas hanya
dalam 3 ayat.
3.
Kaifa
‘Alaqatukum Bi Rabbikum?
Setelah bertanya “Keif
halukum, Ya Syabab?” Lalu beliau bertanya, “Bagaimana kabar hubungan kalian
dengan Tuhan kalian?” Beliau berjanji akan terus menanyakan ini kepada kami di
setiap pertemuan. Sebagaimana halnya
Rasulullah kerap menanyakan itu kepada setiap sahabat beliau.
“Man faqodallah fama wajad, waman wajadallah
fama faqod.”
Jika kau merasa dirimu
sudah jauh dari Allah, segeralah kembali untuk mendekat. Allah selalu menunggu.
“Mataqarraba ilayya ‘abdi…” Ukuran baiknya hubungan seorang hamba dengan
Tuhannya, di samping menjalankan hal-hal yang wajib harus dengan amalan Sunnah.
Seperti berikut,
-
Shalat Subuh
berjama’ah
Kalau orang-orang tau keutamaannya,
semuanya akan mendatangi masjid untuk shalat subuh walau dengan merangkak.
Setiap hari kehadiran kami Shalat Subuh di
Masjid ditanyakan secara serius.
-
Shalat 12 Rokaat
dalam sehari
Membaca hadits “Barang siapa memelihara
Shalat 12 Rokaat selain Fardhu, dibangunkan baginya rumah di Surga.
-
Puasa Senin dan
Kamis
Setiap masuk hari Senin dan Kamis, selalu
menanyakan siapa yang puasa. Pernah membawa cokelat kurma High Quality, dibagikan
ke yang berpuasa untuk berbuka.
4.
Sosok Pekerja Keras
Belum tahu pasti dimana
tempatnya tinggal. Beliau menceritakan, usai shalat subuh harus segera
berangkat, dan sepanjang hari mengajar Bahasa Arab pada mahasiswa asing. Kembali
ke rumah malam hari dan masih harus berkutat dengan tugas semacam membuat laporan
mengajar. Kegaptekan mengharuskan untuk menyelesaikan tugas itu secara manual tulis
tangan. Makanya usai shalat, beliau sering mencuri waktu tidur di masjid walau beberapa
menit.
Setiap harinya dengan
pekerjaan sepadat itu. Rasanya saya sendiri yang masih muda tidak sanggup.
Dikasi PR sedikit saja langsung mengeluh.
Memang di dunia ini
waktunya untuk beramal. Terus isi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.
Jangan perhitungan. Akan ada saatnya waktu yang indah untuk menikmati hasil
usaha. “Al-Yauma lil-‘amal wa Gadan al-Hisab”.
5.
Man
arada ar-rahah taraka ar-rahah
Sebelum masuk ke maudhu’
Fi’il Madih, kami diajak membayangkan keindahan Surga dengan bidadarinya. Untuk
meraih kenikmatan itu, ujiannya harus meninggalkan kenikmatan-kenikmatan dunia,
seperti kesenangan anak muda melirik wanita cantik, atau segala bentuk hura-hura
yang tercela. Jalani hidup dengan wara’.
“Man arada ar-rahah
taraka ar-rahah.” Barang siapa yang menginginkan kesenangan (di Akhirat),
dia harus meninggalkan kesenangan (di Dunia).
6.
Kekuatan umat
muslim diukur dari sejauh mana kedekatannya dengan Allah
Beberapa kali Ustadz
Muhanna membahas tentang konflik yang terus berkelanjutan di tubuh umat Muslim
akhir-akhir ini. Negara-negara Arab bukannya berperang melawan penjajah mereka,
malah berperang sesama muslim dan senegara. Saling bunuh membunuh sudah biasa,
padahal nilai satu nyawa di Mata Allah lebih berharga dari dunia. “Ashbahal
muslimu arkhosu daman.”(Darah orang Muslim sekarang menjadi sangat murah).
Menurutnya, ini terjadi
karena kerenggangan hubungan umat Muslim dengan Tuhannya. Di saat saudara
muslimnya tertindas, yang lain seolah tak peduli, malah tidur nyenyak dan makan
lahap. Walau tak memungkinkan untuk berada bersama mereka. Seharusnya tetap
simpati cukup dengan berdo’a. Luangkan waktu Qiyamullail untuk mendekatkan
diri kepada-Nya dan memohon kedamaian umat Muslim. Jangan remehkan do’a, karena
do’a adalah senjata ampuh bagi orang mukmin.
Semakin kuat hubungan
kedekatan umat Muslim kepada Allah Ta’ala, maka semakin kuat persatuannya dari
kejahatan musuh yang tak henti mencoba menjatuhkan Islam.
7.
Kisah 3 Pemuda
dalam QS. Al-Qalam ayat 17-33
Untuk menguji Maharah Istima’,
beliau meminta kami mendengar dengan baik kisah tentang 3 orang pemuda yang
mewarisi kekayaan harta ayah yang dermawan, tapi mereka malah kikir kepada
orang miskin, akhirnya datanglah Azab berupa api yang melalap harta itu.
Ada banyak pelajaran yang
bisa dipetik dari kisah ini, Ustadz menguji kami untuk menyebutkannya. Saat itu
aku bisa menyebut dua, dan cara beliau memuji jawaban siswanya sangat
mengesankan untuk menambah kepercayaan diri. Ya, kepercayaan diri sebagai modal
terpenting berani berbicara Bahasa Arab,
8.
Jangan Remehkan
dosa
لًا تَنْظُرْ
صَغِيْرَ الْمَعْصِيَّة وَلَكِن انْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْت, فَإِنَّهُ لَا
صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ وَلَا كَبِيْرَةَ مَعَ الْإِسْتِغْفَار
“Jangan memandang pada kecilnya dosa, tapi
sadarilah kepada Siapa kau sedang berbuat pelanggaran. Sesungguhnya bukan dosa
kecil kalau dikerjakan terus menerus dan bukan dosa besar apabila dibarengi
dengan Istigfar.
Sekecil apapun dosa,
tetaplah itu pelanggaran kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Agung. Jaga diri
untuk tidak ternoda oleh dosa sekecil apapun. Sayyidina Ali Karramallahuwajhah
ketika ditanya tentang hari raya yang sebenarnya, beliau menjawab:
اليَوْمُ الَّذِي لَا
أَعْصِي اللهَ فِيْهِ فَهُوَ الْعِيْدَ
‘Hari yang tidak ku kotori dengan maksiat
kepada Allah, bagiku itulah hari raya yang berbahagia.”
9.
Musim dingin musim
yang indah
Saat mulai memasuki musim
dingin, beliau memberi kewaspadaan agar semangat kami tak kendor untuk belajar
dan beribadah. Sebaliknya ditingkatkan, pertama kalinya aku mendengar ungkapan
ini dari beliau:
الشِّتَاءُ رَبِيْعٌ
لِلْمُؤْمِنِيْن, لِأَنَّ لَيْلَهُ طَوِيْلٌ لَلٍقَيَامِ وَ نَهَارُهُ قَصِيْرٌ
لِلصِّيَامِ
“Musim dingin itu indah bagi orang-orang
mukmin, karena malamnya panjang untuk berjaga dan siangnya pendek untuk
berpuasa.”
10. Aina Antum Minal Qur’an?
Keunggulan yang menjadi nilai Plus
para Ustadz di Darul Lughoh, hampir semua hafal Al-Qur’an. Ustadz Muhanna,
setiap mendatangkan dalil dari Ayat Suci, dibaca sepotong agar kami yang
melanjutkan. Kalau tidak ada dari kami yang bisa menyambung, penggemar Syaikh
Sya’rowi ini akan menggertak “Mana hafalan Al-Qur’an kalian?”. Katanya
sambil melotot. “Mau jadi Cendikiawan Islam, kok ga hafal Al-Qur’an. Kalian
harus selalu bawa ini agar bisa tetap baca dan hafal.” Sambungnya sambil
menunjukkan mushaf saku yang selalu menyertai kantong di dadanya.
![]() |
| Ustadz Muhanna dan Ustadz Muhammad Kamal a.k.a Mr. Klimis :-D |

No comments:
Post a Comment