القُرْآنُ نُزِلَ فِي مَكَّةَ وَقُرِأَ فِي مِصْرَ
“Al-Qur’an
diturunkan di Makkah dan dibaca di Mesir”.
Entah
benar atau tidak, setidaknya adagium di atas teramini dengan eksistensi
talaqqi-talaqi Al-Qur’an yang tersebar luas pada Masjid-Masjid di atas muka
Bumi Kinanah. Tahsin cara membaca dan menyetorkan hafalan face to
face di hadapan para Masyaikh Mesir yang handal dalam ketajaman hafalan dan
Qira’at dengan rantai sanad bersambung sampai Rasulullah SAW.
Konon
para masyaikh ini sangat baik dalam memperlakukan para muta’allim Al-Qur’an.
Dengan sabar membenarkan bacaan yang tidak tepat, menyalakan pijar api semangat
muridnya dalam jihad tahfizh, tak jarang bahkan memberi fasilitas berupa
makanan dan uang saku. Dengan potret Bi’ah (lingkungan) kondusif seperti
ini, rugilah Masisir yang tidak memanfaatkan keberadaannya disini untuk berakrab
ria dengan Kitab Suci, yang merupakan pesan cinta dari Tuhan yang Maha Cinta.
Bagi
yang tinggal di Darosah, bisa memilih ikut program tahfiz di Imam-Imam Masjid
Al-Azhar, Masjid Sayidina Husein RA, Masjid Shaleh Al-Ja’fari atau
tempat-tempat lainnya. Kendati demikian, Si Ujang lebih memilih belajar ngaji
sama Syaikh yang Andunisiy dulu. Selain agar mempermudah
komunikasi, ujang juga malu dengan bacaan yang masih sangat buruk dan tabungan
hafalan yang sedikit.
Setelah
maju mundur, Senin 26 Oktober 2015 Ujang menuju Sahah Indonesia tempat Ustadz
Ali Irham setia duduk dari pukul 8 pagi sampai Magrib menyimak satu persatu
yang datang sorogan. Program ini berjalan dua kali dalam sepekan, Senin dan
Rabu.
Tak
dinyana, dalam sorogan perdana itu, Ujang bagai anak yang baru belajar ngaji. Seratusan
kali Ustadz El membenarkan bacaannya dalam kekeliruan Makhorijul Huruf, Tajwid
dan Waqaf wal Ibtida’ sesuai pen-tathbiqan Qira’ah riwayat Imam
Hafs dari Imam ‘Ashim, jalur Imam Syatibi. Saat itu Ujang masih belum tuntas
menghafal Juz 1, sementara 10 juz terakhir yang pernah dihafal sudah 2 bulan tak
dimuroja’ah.
Setelah
Shadaqallah, sebelum Ujang melenggang pulang, Ustadz El berpesan kepada
Ujang agar mengatur strategi yang jitu dalam menghafal Al-Qur’an. Dimana menambah
hafalan (Al-Hifz) dan mengulang (Al-Muroja’ah) harus berjalan
serasi. Bahkan Muroja’ah muqoddamun ‘ala at-tahfiz. “Nambah hafalan itu
sunnah, Mas. Muroja’ahnya yang wajib.” Kata Ustadz El yang biasa memanggil
muridnya Mas Fulan.
Soal
mengatur strategi, hati Ujang tiba-tiba membayangkan, mengatur strategi dalam
menghafal Al-Qur’an seperti memasang taktik dalam permainan sepak bola saja.
Dalam permainan sepak bola, pelatih memiliki tiga opsi taktik yang bisa dipilih
demi kemenangan tim besutannya:
1.
Starategi Ofensiv (Menyerang)
Melancarkan serangan, habis-habisan
menggempur lawan demi mencetak gol yang banyak. Sedangkan kekuatan lini pertahanan
diabaikan. Kelemahan strategi ini, saat lengah, musuh bisa leluasa membobol
gawangnya. Alih-alih menang besar, kelemahan perhatanan justru menjadi petaka
kekalahan. Kecuali tim yang memang dihuni pemain berkelas.
Ini mengacu kepada
penghafal Al-Qur’an yang terlalu bersemangat menambah hafalan dan mengabaikan urgensi
muroja’ah. Merasakan kesuburannya ia kian bersemangat terus-menerus menambah. Alih-alih
cepat hafal 30 juz, setelah menyadari kekalutan hafalan yang tak pernah
dimuroja’ah, justru itu menjadi bumerang yang membawa keputus-asaan. Kecuali penghafal
dengan daya ingat yang memang kuat. Nas-alullah al-istiqomah wal mudawamah.
2.
Strategi Defensif
(Bertahan)
Sebaliknya dari ofensif. Para
pemain setia berdiri di garis pertahanan, bak parkiran Bus. Tidak berani
mengambil risiko dengan menyerang. Terlepas dari Counter-Attack, walaupun penganut
Defensifisme ini tidak kebobolan, tapi susah juga untuk mendapat kemenangan.
Mengacu kepada penghafal
Al-Qur’an yang takut beralih ke hafalan baru dan hanya bertahan dengan terus
mengulang hafalan lama. Berarti ga nambah-nambah dong.
3.
Strategi Balance
Inilah totalistas yang sesungguhnya. Penghafal
Al-Qur’an bisa menyeimbangkan waktu untuk hifzh dan muroja’ah. Metode
inilah yang seharusnya diterapkan bagi penghafal dengan daya otak standar. “Sebaik-baik
perkara adalah yang seimbang”.
Tak
dimungkiri, sulit memang menerapkan Balansis dalam perjalanan menghafal
Al-Qur’an. Butuh keseriusan menyediakan waktu khusus bersama Al-Qur’an. Dalam hal
ini, Ust El bilang “Satu hari 4 jam, itu minimal yang tidak bisa
ditawar-tawar.” Waktunya bisa diatur fleksibel sesuai kesibukan harian yang
lain. Adapun Ujang membaginya seperti ini;
a.
Satu jam setelah
shalat subuh untuk menambah 1 halaman
b.
Satu jam setelah
zuhur menambah 1 halaman lagi
c.
Satu jam setelah
Ashar mengokohkan yang tadinya ditambahkan
d.
Satu jam setelah
Isya untuk muroja’ah satu juz
Kalau
yang dihabiskan untuk Al-Qur’an hanya 4 jam saja dalam sehari, masih ada waktu
merdeka sepanjang 20 jam. Sebenarnya masih bisa ditambah.
Ujang
sendiri pada awal mula tiba di Mesir biasa mengikuti banyak talaqqi Kitab di samping
kewajiban Darul Lughoh. Mau tidak mau, kesibukan-kesibukan lain harus dipangkas
(bukan membabat habis). Karena bagi Ujang, menghafal Al-Qur’an adalah prioritas
utama untuk tahun pertama di Mesir. Apalagi setelah mendengar pendapat Ulama
muda Maroko, Syaikh Sa’id Al-Kamali mengatakan “Syarat minimum untuk menjadi
Ulama adalah harus hafal Al-Qur’an, tidak bisa ditawar.”
Singkat
cerita, dalam kurun 3 bulan, berkat ketegasan Ust El menerapkan taktik Balance pada
setiap muridnya, Ujang sudah bisa menambah 5 juz pertama. Sambil sesekali masih
bisa mereparasi hafalan lama.
Adapun
masalah proses, memang butuh waktu. Nikmati saja kelezatan sejati yang didapat
saat bercengkrama dengan Tuhan melalui pembacaan Kalam-Nya. Lupakan langkah
cepat, metode 3 bulan hafal 30 juz dan tajuk buru-buru sejenisnya. Yang Allah nilai
dari hamba-Nya bukan hasil, tapi bagaimana proses ia berjuang menggapai hasil.
Allah berfirman:
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى.
(النجم: 40-41)
Semoga
Allah meneguhkan hati kita untuk meraih cita-cita mulia ini dan memohon
kepada-Nya untuk meluruskan niat, Al-Qur’an bukan untuk orientasi (Aghrod) duniawi,
bukan untuk menjadi kebanggaan, atau untuk mencari harta. Akan tetapi semata
agar menjadi Hamba yang istimewa di Mata Allah. Sebagaimana bisyarah
yang dikhabarkan oleh Rasul-Nya:
أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُه
“Ahlul Qur’an (yang menghafal, membaca,
mentadabburi, mengamalkan dan mengajarkannya) mereka adalah para wali Allah dan
orang-orang special di sisi-Nya.” ~HR. Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah~
اللّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَشِفَاءَ صُدُوْرِنَا
وَنُوْرَ أَبْصَارِنَا وَذهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا, وَقَائِدَنَا وَدَلِيْلَنَا
إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيْم, ذكر منه ما نسينا, علمنا منه ماجهلنا.
اللهم وَفِّقْنَا لِحِفْظِ القرآن وأن نَتْلُوَهُ آناءَ الليل وأطراف
النهار على الوجه الذي يرضيك عنا, واجعلنا ممن يقيم حروفه وحدوده, نعوذ بك أن نكون
ممن يقيمون حروفه ويضيعون حدوده.

No comments:
Post a Comment