Monday, January 18, 2016

Strategi Tahfizh ala Strategi Sepak Bola


القُرْآنُ نُزِلَ فِي مَكَّةَ وَقُرِأَ فِي مِصْرَ
“Al-Qur’an diturunkan di Makkah dan dibaca di Mesir”.

Entah benar atau tidak, setidaknya adagium di atas teramini dengan eksistensi talaqqi-talaqi Al-Qur’an yang tersebar luas pada Masjid-Masjid di atas muka Bumi Kinanah. Tahsin cara membaca dan menyetorkan hafalan face to face di hadapan para Masyaikh Mesir yang handal dalam ketajaman hafalan dan Qira’at dengan rantai sanad bersambung sampai Rasulullah SAW.
Konon para masyaikh ini sangat baik dalam memperlakukan para muta’allim Al-Qur’an. Dengan sabar membenarkan bacaan yang tidak tepat, menyalakan pijar api semangat muridnya dalam jihad tahfizh, tak jarang bahkan memberi fasilitas berupa makanan dan uang saku. Dengan potret Bi’ah (lingkungan) kondusif seperti ini, rugilah Masisir yang tidak memanfaatkan keberadaannya disini untuk berakrab ria dengan Kitab Suci, yang merupakan pesan cinta dari Tuhan yang Maha Cinta.
Bagi yang tinggal di Darosah, bisa memilih ikut program tahfiz di Imam-Imam Masjid Al-Azhar, Masjid Sayidina Husein RA, Masjid Shaleh Al-Ja’fari atau tempat-tempat lainnya. Kendati demikian, Si Ujang lebih memilih belajar ngaji sama Syaikh yang Andunisiy dulu. Selain agar mempermudah komunikasi, ujang juga malu dengan bacaan yang masih sangat buruk dan tabungan hafalan yang sedikit.
Setelah maju mundur, Senin 26 Oktober 2015 Ujang menuju Sahah Indonesia tempat Ustadz Ali Irham setia duduk dari pukul 8 pagi sampai Magrib menyimak satu persatu yang datang sorogan. Program ini berjalan dua kali dalam sepekan, Senin dan Rabu.
Tak dinyana, dalam sorogan perdana itu, Ujang bagai anak yang baru belajar ngaji. Seratusan kali Ustadz El membenarkan bacaannya dalam kekeliruan Makhorijul Huruf, Tajwid dan Waqaf wal Ibtida’ sesuai pen-tathbiqan Qira’ah riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim, jalur Imam Syatibi. Saat itu Ujang masih belum tuntas menghafal Juz 1, sementara 10 juz terakhir yang pernah dihafal sudah 2 bulan tak dimuroja’ah.
Setelah Shadaqallah, sebelum Ujang melenggang pulang, Ustadz El berpesan kepada Ujang agar mengatur strategi yang jitu dalam menghafal Al-Qur’an. Dimana menambah hafalan (Al-Hifz) dan mengulang (Al-Muroja’ah) harus berjalan serasi. Bahkan Muroja’ah muqoddamun ‘ala at-tahfiz. “Nambah hafalan itu sunnah, Mas. Muroja’ahnya yang wajib.” Kata Ustadz El yang biasa memanggil muridnya Mas Fulan.
Soal mengatur strategi, hati Ujang tiba-tiba membayangkan, mengatur strategi dalam menghafal Al-Qur’an seperti memasang taktik dalam permainan sepak bola saja. Dalam permainan sepak bola, pelatih memiliki tiga opsi taktik yang bisa dipilih demi kemenangan tim besutannya:
1.      Starategi Ofensiv (Menyerang)
Melancarkan serangan, habis-habisan menggempur lawan demi mencetak gol yang banyak. Sedangkan kekuatan lini pertahanan diabaikan. Kelemahan strategi ini, saat lengah, musuh bisa leluasa membobol gawangnya. Alih-alih menang besar, kelemahan perhatanan justru menjadi petaka kekalahan. Kecuali tim yang memang dihuni pemain berkelas.
Ini mengacu kepada penghafal Al-Qur’an yang terlalu bersemangat menambah hafalan dan mengabaikan urgensi muroja’ah. Merasakan kesuburannya ia kian bersemangat terus-menerus menambah. Alih-alih cepat hafal 30 juz, setelah menyadari kekalutan hafalan yang tak pernah dimuroja’ah, justru itu menjadi bumerang yang membawa keputus-asaan. Kecuali penghafal dengan daya ingat yang memang kuat. Nas-alullah al-istiqomah wal mudawamah.
2.      Strategi Defensif (Bertahan)
Sebaliknya dari ofensif. Para pemain setia berdiri di garis pertahanan, bak parkiran Bus. Tidak berani mengambil risiko dengan menyerang. Terlepas dari Counter-Attack, walaupun penganut Defensifisme ini tidak kebobolan, tapi susah juga untuk mendapat kemenangan.
Mengacu kepada penghafal Al-Qur’an yang takut beralih ke hafalan baru dan hanya bertahan dengan terus mengulang hafalan lama. Berarti ga nambah-nambah dong.
3.      Strategi Balance
Inilah totalistas yang sesungguhnya. Penghafal Al-Qur’an bisa menyeimbangkan waktu untuk hifzh dan muroja’ah. Metode inilah yang seharusnya diterapkan bagi penghafal dengan daya otak standar. “Sebaik-baik perkara adalah yang seimbang”.
Tak dimungkiri, sulit memang menerapkan Balansis dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Butuh keseriusan menyediakan waktu khusus bersama Al-Qur’an. Dalam hal ini, Ust El bilang “Satu hari 4 jam, itu minimal yang tidak bisa ditawar-tawar.” Waktunya bisa diatur fleksibel sesuai kesibukan harian yang lain. Adapun Ujang membaginya seperti ini;
a.      Satu jam setelah shalat subuh untuk menambah 1 halaman
b.      Satu jam setelah zuhur menambah 1 halaman lagi
c.       Satu jam setelah Ashar mengokohkan yang tadinya ditambahkan
d.     Satu jam setelah Isya untuk muroja’ah satu juz
Kalau yang dihabiskan untuk Al-Qur’an hanya 4 jam saja dalam sehari, masih ada waktu merdeka sepanjang 20 jam. Sebenarnya masih bisa ditambah.
Ujang sendiri pada awal mula tiba di Mesir biasa mengikuti banyak talaqqi Kitab di samping kewajiban Darul Lughoh. Mau tidak mau, kesibukan-kesibukan lain harus dipangkas (bukan membabat habis). Karena bagi Ujang, menghafal Al-Qur’an adalah prioritas utama untuk tahun pertama di Mesir. Apalagi setelah mendengar pendapat Ulama muda Maroko, Syaikh Sa’id Al-Kamali mengatakan “Syarat minimum untuk menjadi Ulama adalah harus hafal Al-Qur’an, tidak bisa ditawar.”
Singkat cerita, dalam kurun 3 bulan, berkat ketegasan Ust El menerapkan taktik Balance pada setiap muridnya, Ujang sudah bisa menambah 5 juz pertama. Sambil sesekali masih bisa mereparasi hafalan lama.
Adapun masalah proses, memang butuh waktu. Nikmati saja kelezatan sejati yang didapat saat bercengkrama dengan Tuhan melalui pembacaan Kalam-Nya. Lupakan langkah cepat, metode 3 bulan hafal 30 juz dan tajuk buru-buru sejenisnya. Yang Allah nilai dari hamba-Nya bukan hasil, tapi bagaimana proses ia berjuang menggapai hasil. Allah berfirman:
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى. (النجم: 40-41)

Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk meraih cita-cita mulia ini dan memohon kepada-Nya untuk meluruskan niat, Al-Qur’an bukan untuk orientasi (Aghrod) duniawi, bukan untuk menjadi kebanggaan, atau untuk mencari harta. Akan tetapi semata agar menjadi Hamba yang istimewa di Mata Allah. Sebagaimana bisyarah yang dikhabarkan oleh Rasul-Nya:
أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُه
“Ahlul Qur’an (yang menghafal, membaca, mentadabburi, mengamalkan dan mengajarkannya) mereka adalah para wali Allah dan orang-orang special di sisi-Nya.” ~HR. Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah~

اللّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَشِفَاءَ صُدُوْرِنَا وَنُوْرَ أَبْصَارِنَا وَذهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا, وَقَائِدَنَا وَدَلِيْلَنَا إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيْم, ذكر منه ما نسينا, علمنا منه ماجهلنا.

اللهم وَفِّقْنَا لِحِفْظِ القرآن وأن نَتْلُوَهُ آناءَ الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا, واجعلنا ممن يقيم حروفه وحدوده, نعوذ بك أن نكون ممن يقيمون حروفه ويضيعون حدوده.

No comments:

Post a Comment