Kondisi
seseorang saat tidur hampir sama dengan kondisi kematian. Tergeletak tubuhnya, matanya
terpejam, ruhnya melayang dan tak sadarkan diri.
Wajar
ketika ia bangun dan bangkit, terasa tubuhnya lemah gemulai. Di cermin ia
mendapati wajahnya pucat pasi, rambutnya semerawut, tampak menyerupai mayat. Di
saat itu seyogyanya ia berdzikir mengingat nikmat Allah, bersyukur
karena ruhnya masih Allah izinkan kembali ke jasadnya.
Maka,
agar jasadnya betul-betul menyatu dengan ruh dan semangatnya kembali pulih,
orang yang baru bangkit dari Maut Shugra ini disunnahkan segera mengambil
air wudhu. Sebab, Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَجَعَلْنَا
مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيّ
“Dari air,
kami jadikan segala sesuatu hidup..” Air wudhu inilah sebagai
penyiram jiwanya yang sedang kering karena sempat mati.
Kemudian
setelah merasa jasmaniahnya kembali hidup, disunnahkan baginya untuk Shalat
sebarang dua raka’at saja. Shalat akan membuat hati seseorang connect
(Ittishal) kepada Allah SWT, menyalakan listrik rohaninya untuk berkinerja dengan
baik sesuai sistem keimanan.
Dengan
begitu, jika seorang bangun tidur lalu berdzikir, berwudhu dan shalat,
maka kembalilah nyawa lahir dan bathinnya. Denyut semangat dan imannya kembali
aktif.
Nasihat
ini, saya dengar dari Syaikh Prof. Dr. Fathi Hijazi ketika menghadiri Dars
mingguan beliau Syarh Kitab Ibnu ‘Aqil di Ruwaq Magharibah, Sabtu
(21/11/15). Beliau mengutip ungkapan guru beliau Syaikh Shalih Al-Ja’fari RA.
Ketika
suatu hari iseng membuka kitab Al-Bayan lima Yusygilu Al-Adzhan karya Syaikh
Prof. Dr. Ali Jum’ah, saya menemukan sebuah Hadits, dimana pernyataan Syaikh
Shalih Ja’fari di atas sejalan dengan hadits ini:
يَعْقِدُ
الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ,
يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ, فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ
اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ, فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ, فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ
عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ, وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ
كَسْلَانَ
“Ketika seorang tidur,
syaithan menjerat lehernya dengan tiga ikatan, syaithan meninabobokkan agar dia
tidur sepuasnya sepanjang malam (tidak mau bangun shalat malam). Maka apabila
dia bangun kemudian berdzikir, terbukalah satu ikatan. Apabila dia berwudhu,
terlepaslah ikatan kedua. Apabila dia shalat, terlepaslah ikatan yang ketiga. Sehingga
dia menyambut pagi dengan semangat dan jiwa yang segar. Jika tidak (dzikir,
wudhu dan shalat), paginya terasa galau dan malas.” (HR.
Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Walláhu Subhanahu wa Ta’ala
A’la wa A’lam..

No comments:
Post a Comment