Thursday, October 19, 2017

Nasehat Mengefektifkan Waktu oleh Syaikh Hisyam

Kaidah mengatakan:

المَشْغُوْلُ لَا يُشْغَل
.
“Orang yang padat waktunya (dengan pekerjaan-pekerjaan baik), tak akan ada celah untuk disibukkan (dengan pekerjaan buruk)”.
.
Lebih jelasnya, kaidah di atas dijabarkan oleh Imam Asy-Syafi’i RA dalam ungkapan yang sangat masyhur:
.
جَالَسْتُ الزُّهَّادَ وَالْعُبَّادَ سِنِيْنَ, فَخَرَجْتُ مِنْهُمْ بِفَائِدَتَيْنِ.
الفَائِدَةِ الْأُوْلَى: النَّفْسُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ.
الفَائِدَةِ الثَّانِيَةِ: النَّفْسُ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ
.
“Aku bergumul bersama ahli zuhud dan ahli ibadah selama bertahun-tahun. Dari mereka aku mendapat dua pelajaran penting. Pertama, nafsu itu bak pedang, jika bukan kau yang menebasnya, pasti dia yang akan menebasmu. Kedua, nafsu jika tidak kau sibukkan dengan kebenaran, dia akan menyibukkanmu dengan kebathilan.”
.
Dengan memegang dua Faidah ini, Imam Syafi’i wafat dalam usia 54 tahun, namun dalam usia yang relatife muda itu beliau berhasil meninggalkan sumbangsih besar untuk umat. Beliau sudah ditahbiskan menjadi Imam Besar saat masih berusia 38 tahun (188 H), karena tak ada sekecilpun waktu yang ia buang. Beliau meletakkan pondasi ilmu ushul fiqh, merumuskan Madzhab Syafi’i dan menyebarkannya sendiri ke berbagai wilayah. Berbeda dengan Imam Malik yang menetap di Madinah dan Imam Abu Hanifah di Kufah, murid-muridnya lah yang menyebarkan madzhab mereka.
.
Sama halnya dengan Imam An-Nawawi, semenjak kecil ia tak pernah mengikuti anak-anak sebayanya riang bermain karena sibuk dengan belajar. Pernah suatu ketika ia bermain dan dibohongi oleh teman-temannya, ia menangis, tapi menangis bukannya merengek malah ia membaca Al-Qur’an, sebab ia tak mau ada waktunya yang sia-sia. Ketika sedang dibully, seorang ulama lewat dan mengusir anak-anak itu dan membawa An-Nawawi kecil kepada Ayahnya. Ulama itu berkata: “Jaga dan didik anakmu baik-baik, karena suatu saat nanti ia akan menjadi Ulama besar”.
.
Khodim beliau menceritakan, dalam sehari Imam An-Nawawi hanya makan satu suap dan minum satu teguk saja. Jika masuk hammam untuk Qodho’ Hajat, ia meminta khodimnya untuk membacakannya kitab dari luar.
.
Sebab keefesiensiannya menjaga waktu, Allah memberikan karomah terbesar baginya, dengan menyatukan hati umat –dari aliran apa saja- untuk mencintainya. Karomah lainnya, pernah suatu malam beliau tengah menulis, tiba-tiba lentera di hadapannya padam karena kehabisan minyak. Dengan mengangkat jari telunjuk, telunjuknya bersinar menerangi ruangan hingga kitab rampung dari penulisan.
.
Karomah sejenis sering terjadi pada banyak mujtahid, pernah Imam Ar-Rofi’i saking banyak kitab yang ia tulis, lenteranya padam. Ia berpindah duduk di bawah pohon anggur, tiba-tiba buah anggur disana menyala bagaikan lampu untuknya. Inilah bayaran indah yang dihadiahkan Allah kepada mereka yang bersungguh-sungguh dan melelahkan dirinya.
.
Seorang ulama dalam memuji karya salah satu Imam An-Nawawi berkata:
.
المُغْنِيْ لَا يُغْنِيْ, وَأَجُوْعُ وَأَشْتَرِيْ الْمَجْمُوْعَ
.
“Kitab Al-Mugni karangan Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali yang merupakan eksiklopedia Fiqih besar berjilid-jilid masih butuh pada kitab Al-Majmu’ syarah Al-Muhazzab karya Imam An-Nawawi. Tidak mengapa saya harus menahan lapar –karena menabung-, demi saya bisa membeli kitab Al-Majmu’.”
.
Memang begitulah, mereka yang selalu berusaha keras mengoptimalkan waktu berhak mendapatkan buah manis dari usahanya. Bisa jadi bekerja dalam waktu singkat, tapi hasilnya besar.
.
Kitab Syarh Arba’in yang kalian pegang ini –kata Syaikh Hisyam-, dulu saya tulis dalam jangka waktu 4 hari saja. Itupun setiap hari hanya memakan dua jam. 10 tahun lalu, ketika putera saya Mahmud masih di kelas 1 Ibtida’iy sedang ujian, saya mengantarnya ke sekolah, disana saya menunggu dia ujian sambil menulis syarah kitab ini. Begitu seterusnya sampai hari terakhir ujian. Setelah empat hari, Mahmud sudah selesai ujian, dan pekerjaan santaiku di halaman sekolah menulis syarah Arba’in Nawawi juga selesai. Dan Alhamdulillah kitab ini barokah dengan berulang-kali diadakan daurohnya.
.
Lâ tudhoyyi’ al-waqt ! Lâ tudhoyyi’ al-waqt !
.
Karena nikmat waktu kelak akan dimintai pertanggung-jawaban di yaumul Hisab. Allah SWt berfirman:
ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ
.
Saya berharap dalam kehidupan, kalian punya target..
.
Saya berharap kalian punya visi..
.
Saya berharap kalian punya tangga yang kalian naiki.. Bertekad dalam bulan ini akan membaca kitab A, bulan depan akan membaca kitab B, bulan selanjutnya kitab C, dan seterusnya.
.
Saya berharap maddah-maddah di kuliah kalian merujuk pada kitab klasik (turats).
.
Jika kalian telah menguasai kitab turats juga muqorror kuliah, kelak saat kembali ke tanah air, kalian akan menjadi madrasah yang berjalan di muka bumi.
.
~PETIKAN NASIHAT MAULANA SYAIKH DR. HISYAM KAMIL HAMID MUSA DALAM ACARA PEMBACAAN HADITS DAN TAKRIM AN-NAJIHIN DI KMNTB~

Kairo- Ahad, 5 November 2016


Muhammad Zainuddin Ruslan

No comments:

Post a Comment