Kaidah mengatakan:
المَشْغُوْلُ لَا يُشْغَل
.
“Orang yang padat waktunya (dengan
pekerjaan-pekerjaan baik), tak akan ada celah untuk disibukkan (dengan pekerjaan
buruk)”.
Lebih
jelasnya, kaidah di atas dijabarkan oleh Imam Asy-Syafi’i RA dalam ungkapan
yang sangat masyhur:
.
جَالَسْتُ الزُّهَّادَ وَالْعُبَّادَ سِنِيْنَ, فَخَرَجْتُ مِنْهُمْ بِفَائِدَتَيْنِ.
الفَائِدَةِ الْأُوْلَى: النَّفْسُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ
قَطَعَكَ.
الفَائِدَةِ الثَّانِيَةِ: النَّفْسُ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ
شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ
.
“Aku
bergumul bersama ahli zuhud dan ahli ibadah selama bertahun-tahun. Dari mereka
aku mendapat dua pelajaran penting. Pertama, nafsu itu bak pedang, jika bukan kau
yang menebasnya, pasti dia yang akan menebasmu. Kedua, nafsu jika tidak kau
sibukkan dengan kebenaran, dia akan menyibukkanmu dengan kebathilan.”
.
Dengan
memegang dua Faidah ini, Imam Syafi’i wafat dalam usia 54 tahun, namun dalam
usia yang relatife muda itu beliau berhasil meninggalkan sumbangsih besar untuk
umat. Beliau sudah ditahbiskan menjadi Imam Besar saat masih berusia 38 tahun
(188 H), karena tak ada sekecilpun waktu yang ia buang. Beliau meletakkan
pondasi ilmu ushul fiqh, merumuskan Madzhab Syafi’i dan menyebarkannya sendiri
ke berbagai wilayah. Berbeda dengan Imam Malik yang menetap di Madinah dan Imam
Abu Hanifah di Kufah, murid-muridnya lah yang menyebarkan madzhab mereka.
.
Sama
halnya dengan Imam An-Nawawi, semenjak kecil ia tak pernah mengikuti anak-anak sebayanya
riang bermain karena sibuk dengan belajar. Pernah suatu ketika ia bermain dan
dibohongi oleh teman-temannya, ia menangis, tapi menangis bukannya merengek
malah ia membaca Al-Qur’an, sebab ia tak mau ada waktunya yang sia-sia. Ketika sedang
dibully, seorang ulama lewat dan mengusir anak-anak itu dan membawa An-Nawawi
kecil kepada Ayahnya. Ulama itu berkata: “Jaga dan didik anakmu baik-baik,
karena suatu saat nanti ia akan menjadi Ulama besar”.
.
Khodim
beliau menceritakan, dalam sehari Imam An-Nawawi hanya makan satu suap dan
minum satu teguk saja. Jika masuk hammam untuk Qodho’ Hajat, ia meminta
khodimnya untuk membacakannya kitab dari luar.
.
Sebab
keefesiensiannya menjaga waktu, Allah memberikan karomah terbesar baginya,
dengan menyatukan hati umat –dari aliran apa saja- untuk mencintainya. Karomah
lainnya, pernah suatu malam beliau tengah menulis, tiba-tiba lentera di
hadapannya padam karena kehabisan minyak. Dengan mengangkat jari telunjuk,
telunjuknya bersinar menerangi ruangan hingga kitab rampung dari penulisan.
.
Karomah
sejenis sering terjadi pada banyak mujtahid, pernah Imam Ar-Rofi’i saking
banyak kitab yang ia tulis, lenteranya padam. Ia berpindah duduk di bawah pohon
anggur, tiba-tiba buah anggur disana menyala bagaikan lampu untuknya. Inilah bayaran
indah yang dihadiahkan Allah kepada mereka yang bersungguh-sungguh dan
melelahkan dirinya.
.
Seorang
ulama dalam memuji karya salah satu Imam An-Nawawi berkata:
.
المُغْنِيْ لَا يُغْنِيْ, وَأَجُوْعُ وَأَشْتَرِيْ الْمَجْمُوْعَ
.
“Kitab Al-Mugni karangan Imam Ibnu Qudamah
Al-Hanbali yang merupakan eksiklopedia Fiqih besar berjilid-jilid masih butuh
pada kitab Al-Majmu’ syarah Al-Muhazzab karya Imam An-Nawawi. Tidak mengapa saya
harus menahan lapar –karena menabung-, demi saya bisa membeli kitab Al-Majmu’.”
.
Memang
begitulah, mereka yang selalu berusaha keras mengoptimalkan waktu berhak
mendapatkan buah manis dari usahanya. Bisa jadi bekerja dalam waktu singkat,
tapi hasilnya besar.
.
Kitab
Syarh Arba’in yang kalian pegang ini –kata Syaikh Hisyam-, dulu saya tulis
dalam jangka waktu 4 hari saja. Itupun setiap hari hanya memakan dua jam. 10
tahun lalu, ketika putera saya Mahmud masih di kelas 1 Ibtida’iy sedang ujian,
saya mengantarnya ke sekolah, disana saya menunggu dia ujian sambil menulis
syarah kitab ini. Begitu seterusnya sampai hari terakhir ujian. Setelah empat
hari, Mahmud sudah selesai ujian, dan pekerjaan santaiku di halaman sekolah
menulis syarah Arba’in Nawawi juga selesai. Dan Alhamdulillah kitab ini barokah
dengan berulang-kali diadakan daurohnya.
.
Lâ
tudhoyyi’ al-waqt ! Lâ tudhoyyi’ al-waqt !
.
Karena
nikmat waktu kelak akan dimintai pertanggung-jawaban di yaumul Hisab. Allah SWt
berfirman:
ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ
.
Saya
berharap dalam kehidupan, kalian punya target..
.
Saya
berharap kalian punya visi..
.
Saya
berharap kalian punya tangga yang kalian naiki.. Bertekad dalam bulan ini akan
membaca kitab A, bulan depan akan membaca kitab B, bulan selanjutnya kitab C,
dan seterusnya.
.
Saya
berharap maddah-maddah di kuliah kalian merujuk pada kitab klasik (turats).
.
Jika
kalian telah menguasai kitab turats juga muqorror kuliah, kelak saat kembali ke
tanah air, kalian akan menjadi madrasah yang berjalan di muka bumi.
.
~PETIKAN
NASIHAT MAULANA SYAIKH DR. HISYAM KAMIL HAMID MUSA DALAM ACARA PEMBACAAN HADITS
DAN TAKRIM AN-NAJIHIN DI KMNTB~
Kairo-
Ahad, 5 November 2016
Muhammad
Zainuddin Ruslan

No comments:
Post a Comment