Thursday, October 19, 2017

Peringatan Maulid KM-NTB Mesir

(Kairo, 9/12) Acara Peringatan Maulid Nabi SAW yang dirangkaikan Penutupan Kegiatan Termin I KMNTB Mesir dihadiri oleh Fadhilatus Syaikh Abdul Karim Basyarhil Al-Yamani, Musyrif Sahah Yamaniah di Kawasan Husein. Acara ini diisi dengan pembacaan Maulid Ad-Diba’i, kitab yang memuat siroh ringkas dan manaqib Nabi SAW yang disajikan dalam bentuk natsr menawan oleh Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Ali Ad-Diba’. Setiap perpindahan fasal disela lantunan madih yang diiringi tabuhan rebana oleh Tim Hadroh NW Mesir.
-
Di penghujung acara, Syaikh menyampaikan pesan-pesan berharga mengenai Mahabbah kepada Rasul dan nasihat menjelang Pagelaran Ikhtibar. Beliau mengutip fragmen-fragmen menarik dari kisah Rasul dan bagaimana Mu’amalah para sahabat dalam membuktikan cinta mereka kepada sang kekasih.
-
Adalah Sayidna Abu Al-Ayyub Al-Anshori, sahabat yang paling berbahagia di peristiwa penyambutan Rasul SAW di Madinah. Bagaimana tidak, rumahnya yang sangat sederhana terpilih oleh deruman unta yang diilhami oleh Allah memilih tempat tinggal untuk kekasih-Nya. Dan bukanlah kebetulan, ternyata Abu Ayyub memang dari nenek moyangnya telah saling wasiat-mewasiati dari seribu tahun yang lalu menitipkan surat dari Raja Tubba’ dan mengabarkan bahwa tempatnya akan ditempati Rasul. Indahnya skenario Allah.
-
Banyak hikmah yang perlu ditelurusi saat Rasul SAW hidup satu rumah bersama Abu Ayyub dan keluarganya. Betapa Rasul SAW mengerti posisinya sebagai tamu dan sangat menjaga hak-hak tuan rumah. Demikian halnya pihak tuan rumah, melayani tamu istimewa yang didambakan kesinggahannya oleh semua kaum Anshor dengan sangat terhormat layaknya raja yang agung. Hanya saja, di rumah yang berdiri dua lantai, Rasul SAW memilih tinggal di lantai dasar dan tidak berkenan di lantai atas yang lebih bagus walaupun Abu Ayyub telah merayu.
-
Sepanjang 6 bulan dalam keadaan ini, Abu Ayub begitu menjaga adab, ia selalu berjalan sepelan mungkin agar detakan kakinya tidak mengganggu sang kekasih. Ia tidak pernah berjalan di atas tempat duduk sang kekasih semendesak apapun hagah. Pernah suatu malam musim dingin, Abu Ayyub tengah membawa bejana air, tanpa sengaja air itu tumpah dan hampir menetes ke lantai bawah tempat sang kekasih. Dengan sigap ia menggunakan selimutnya yang harus ia gunakan di tengah menggiggilnya suhu untuk mengelap, demi agar tak setetespun jatuh menimpa sang Nabi tercinta. Hatinya sungguh telah dipenuhi oleh kecintaan kepada Nabi. Setiap harinya ia selalu menanti sisa makan Rasul SAW untuk disantap bersama keluarganya, tabarrukan.
-
Radhiyallâhu ‘an Abi Ayyub, ia hanya satu model dari semua sahabat yang hatinya disesaki oleh rasa cinta dan rindu kepada Al-Habib Shallâhu’alaihi wa sallam.
-
Kemudian Syaikh berpesan agar Thullab sungguh-sungguh belajar, karena jauh-jauh datang kesini dari tanah air bukan untuk banyak bermain. Kendati belajar untuk Ujian Universitas itu sifatnya hanyalah wasilah, Ghoyah-nya tetaplah meraih keridhoan Allah Ta’ala. Ibaratnya, ijazah hanyalah sebagai SIM (rukhsoh) yang memang harus dibawa setiap berkenderaan demi sampai ke titik tujuan, maka ijazah adalah perantara untuk dapat memberi manfaat lebih luas kepada umat manusia demi lolos di ujian hakiki kelak di hari kiamat.


Red: Muhammad Zainuddin Ruslan

No comments:

Post a Comment