(Kairo, 9/12) Acara
Peringatan Maulid Nabi SAW yang dirangkaikan Penutupan Kegiatan Termin I KMNTB
Mesir dihadiri oleh Fadhilatus Syaikh Abdul Karim Basyarhil Al-Yamani, Musyrif
Sahah Yamaniah di Kawasan Husein. Acara ini diisi dengan pembacaan Maulid
Ad-Diba’i, kitab yang memuat siroh ringkas dan manaqib Nabi SAW yang disajikan
dalam bentuk natsr menawan oleh Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Ali Ad-Diba’. Setiap
perpindahan fasal disela lantunan madih yang diiringi tabuhan rebana oleh Tim
Hadroh NW Mesir.
-
Di penghujung acara,
Syaikh menyampaikan pesan-pesan berharga mengenai Mahabbah kepada Rasul dan
nasihat menjelang Pagelaran Ikhtibar. Beliau mengutip fragmen-fragmen menarik
dari kisah Rasul dan bagaimana Mu’amalah para sahabat dalam membuktikan cinta
mereka kepada sang kekasih.
-
Adalah Sayidna Abu
Al-Ayyub Al-Anshori, sahabat yang paling berbahagia di peristiwa penyambutan
Rasul SAW di Madinah. Bagaimana tidak, rumahnya yang sangat sederhana terpilih
oleh deruman unta yang diilhami oleh Allah memilih tempat tinggal untuk
kekasih-Nya. Dan bukanlah kebetulan, ternyata Abu Ayyub memang dari nenek
moyangnya telah saling wasiat-mewasiati dari seribu tahun yang lalu menitipkan
surat dari Raja Tubba’ dan mengabarkan bahwa tempatnya akan ditempati Rasul.
Indahnya skenario Allah.
-
Banyak hikmah yang
perlu ditelurusi saat Rasul SAW hidup satu rumah bersama Abu Ayyub dan
keluarganya. Betapa Rasul SAW mengerti posisinya sebagai tamu dan sangat
menjaga hak-hak tuan rumah. Demikian halnya pihak tuan rumah, melayani tamu
istimewa yang didambakan kesinggahannya oleh semua kaum Anshor dengan sangat
terhormat layaknya raja yang agung. Hanya saja, di rumah yang berdiri dua
lantai, Rasul SAW memilih tinggal di lantai dasar dan tidak berkenan di lantai atas
yang lebih bagus walaupun Abu Ayyub telah merayu.
-
Sepanjang 6 bulan
dalam keadaan ini, Abu Ayub begitu menjaga adab, ia selalu berjalan sepelan
mungkin agar detakan kakinya tidak mengganggu sang kekasih. Ia tidak pernah berjalan
di atas tempat duduk sang kekasih semendesak apapun hagah. Pernah suatu malam
musim dingin, Abu Ayyub tengah membawa bejana air, tanpa sengaja air itu tumpah
dan hampir menetes ke lantai bawah tempat sang kekasih. Dengan sigap ia
menggunakan selimutnya yang harus ia gunakan di tengah menggiggilnya suhu untuk
mengelap, demi agar tak setetespun jatuh menimpa sang Nabi tercinta. Hatinya
sungguh telah dipenuhi oleh kecintaan kepada Nabi. Setiap harinya ia selalu
menanti sisa makan Rasul SAW untuk disantap bersama keluarganya, tabarrukan.
-
Radhiyallâhu ‘an Abi Ayyub,
ia hanya satu model dari semua sahabat yang hatinya disesaki oleh rasa cinta
dan rindu kepada Al-Habib Shallâhu’alaihi wa sallam.
-
Kemudian Syaikh
berpesan agar Thullab sungguh-sungguh belajar, karena jauh-jauh datang kesini
dari tanah air bukan untuk banyak bermain. Kendati belajar untuk Ujian
Universitas itu sifatnya hanyalah wasilah, Ghoyah-nya tetaplah meraih keridhoan
Allah Ta’ala. Ibaratnya, ijazah hanyalah sebagai SIM (rukhsoh) yang memang
harus dibawa setiap berkenderaan demi sampai ke titik tujuan, maka ijazah
adalah perantara untuk dapat memberi manfaat lebih luas kepada umat manusia
demi lolos di ujian hakiki kelak di hari kiamat.
Red: Muhammad
Zainuddin Ruslan
No comments:
Post a Comment