“Umat
yang dilanda kebingungan di tengah dunia yang membingungkan”, demikian kalimat
singkat salah seorang pemikir kontemporer menyimpulkan kondisi umat Islam saat
ini.
Siapapun
yang mencermati, akan prihatin menyaksikan platform Arab-Islam yang tengah
bingung dan cemas menentukan langkah. Bermacam arus pemikiran keagamaan bermunculan,
ada yang bermisi menyerukan Umat Islam untuk mundur ke belakang hidup seperti kaum
salaf, tak peduli inovasi yang tak terelakkan. Di saat bersamaan, arus seberang
tak kalah kuat menarik umat agar meninggalkan pijakannya, memusnahkan identitas
dan mencerabutnya dari akar keislaman.
“Bingung”…
Umat
tak boleh berlama-lama dalam titik nadir ini. Dunia Arab-Islam sudah saatnya
melakukan gerakan pencerahan besar-besaran (reinessens), melepas diri
dari kejumudan dan keterbelakangan yang membelenggu sekian lama. Walau tak dipungkiri,
usaha ini tak gampang, butuh perjuangan keras merubah paradigma berpikir
masyarakat Arab-Islam yang terlanjur terhempas kerasnya guncangan ombak
pemikiran dan pola keberagamaan.
Dalam
medan jihad meraih kemajuan ini, para pemikir selaku jenderal perubahan mengajak
untuk menatap masa depan sambil memetik pelajaran dari pencapaian-pencapaian
gemilang pendahulu, namun bukan untuk kembali ke masa itu. Sepantasnya kita
membedah kembali masa-masa emas yang pernah dilalui sejarah peradaban Islam
yang gebrakan pemikiran dan fleksibelitas akalnya menggugah dunia di zaman itu menuju
masa pencerahan.
Model
nyata dari sang pencerah itu misalnya filosof agung Ibnu Rusyd (1126-1198 M).
Sejak delapan abad silam tokoh ini telah mempersembahkan gagasan cemerlang
menuju pencerahan, dari masa ke masa gagasan ini terus dijadikan inspirasi oleh
para ilmuan. Ibnu Rusyd yang berjuang sepanjang hayatnya mematangkan akal untuk
difungsikan sesuai peran besarnya, melecutkan semangat menggali ilmu dan
belajar dari pengalaman orang lain, tak dipungkiri terhitung sebagai jenderal
yang memimpin gerakan rainessens di Timur maupun di Barat.
Pemikirannya
tersebar luas di Eropa, disambut baik dengan penerjemahan besar-besaran dan istifadah
dari karyanya pada abad pertengahan. Pemikirannya ini yang menjadi cikal bakal
kebangkitan negara-negara Eropa. Anehnya, ketika Eropa memanfaatkan gagasan-gagasan
itu dan menghormati Ibnu Rusyd dengan pemberian penghargaan oleh Sinmar atas konstribusinya, Ulama
Kalam yang konservatif pada saat itu justru membenci Ibnu Rusyd dan menuduhnya
Kafir Zindiq. Khalifah juga terpengaruh, keluarlah perintah resmi untuk
membabat habis karya-karyanya. Kekejaman ini yang menjadi permulaan akhir
perjalanan filosofinya.
Bencana
itu menimbulkan shock berat bagi Ibnu Rusyd, tak terbayangkan rasanya karya
yang sudah dihasilkan dengan jerih payah demi umat Islam, malah umat Islam
sendiri yang menyia-nyiakan. Walau sesudah itu khalifah sadar dan meminta maaf,
trauma Ibnu Rusyd sulit untuk pulih sebab kezaliman itu, tak lama setelah itu
ia meninggal.
Term
reinessens kendati mulai booming berabad setelah perginya Ibnu Rusyd,
namun gebrakan rusydian-lah awal mula semuanya dan dunia mengakui. Karna reinessens,
yang dalam Bahasa Arab terambil dari kata nur adalah lawanan dari
kegelapan dan kebodohan.
Pencerahan
Ibnu Rusyd berpijak atas dua pilar: akal dan agama, dua sisi mata uang yang tak
bisa dipisahkan. Bak burung yang tak dapat terbang dengan sebelah sayap saja.
Pencerahan akal itu mesti, demikian pun agama di waktu yang sama. Terutama di
masa kita sekarang ketika simpang siurnya pemahaman keagamaan dan rusaknya
keseimbangan berpikir.
Dalam
knteks yang sama, Syaikh Muhammad Abduh mengatakan: “Akal wajib mendapatkan
hak untuk menghukumi sebagaimana agama, karena agama dapat diketahui melalui
akal. Ijtihad haruslah berpijak pada agama dan akal bersamaan, agar kita selalu
siap menghadapi persoalan-persoalan baru dengan medan yang baru dan memetik
pelajaran dari sana.”
Ibnu
Rusyd selalu haus untuk ‘mengadopsi’ pemikiran-pemikiran kaum yang berbeda
selama pemikiran itu bermanfaat dalam perjalanan peradaban, sampai taraf
menganggap hal ini termasuk kewajiban yang didorong oleh syari’at.
Ibnu
Rusyd dengan pemikirannya yang ciamik tak memahami agama secara jumud, sebaliknya
memahami agama itu sejalan dengan logika. Tidak ada kontradiksi sama sekali
sebenarnya antar agama dan logika, hubungan suci yang ternodai. Kalaupun ada
yang bertentangan, maka wajib mentakwilkan teks agama agar sejalan dengan
logika.
Dalam
pandangan ini, ia sepakat dengan Al-Ghazali yang mengatakan: “Kita punya
standar tertentu untuk mentakwil, yaitu ketika zahir nash kita pahami tidak
masuk akal, maka sebenarnya kita sedang salah memahami.”
Ibnu
Rusyd menggambarkan relasi antar akal atau filsafat yang benar dengan penalaran
agama: “Filsafat itu bersahabat dengan syari’at, atau bisa dibilang saudara
sesusuan.. Makanya secara otomatis dan alami mereka saling mencintai.” Ia juga
berkata: “Kita selaku muslim sepenuhnya meyakini bukti-bukti ilmiah tak mungkin
menyalahi apa yang dibawa syari’at. Karna kebenaran tak mungkin melawan
kebenaran, bahkan akan saling membenarkan dan menguatkan.”
Tak
luput Ibnu Rusyd mengkritik pemikiran agama yang mendominasi di masa itu
Bersambung...
No comments:
Post a Comment