Sunday, June 26, 2016

Surat Pengantar Titipan

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على خير خلق الله في العالمين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

وبعد...

سادة عائلتي الأحباء (حياكم الله ورعاكم ولكل خير أبقاكم ومن كل شر نجاكم) !

من بُقعَة أرض الكنانة أوجِّه خالص إشتياقي إليكم وحرصي على أن أجتمع بين أيديكم تحت رحاب منزلتنا المباركة كما كنا نفطر ونتسحر سوِيَّا في مائدة واحدة خلال هذا الشهر الكريم.

 فهذه هدية قليلة بسيطة محدودة أتحفها إليكم, نيابة على عودة جسمي إلى الوطن المحبوب, وامتثالا لقول حبيبنا المصطفى صلى الله عليه وسلم: (تهادوا تحابوا). فأرجو أن هذه الهدايا -على رغم بساطتها- تكون مستفزا للمحبة بيننا, لأن العطاء مهما كان شكله إذا أقبل من المحبوب فإنه ذو قيمة عظيمة. كما أرجو بها -على رغم قلتها وتقصيرها- أنها يستوعب الفرح للجميع, بما أُفَضِّلُ في نصيبها أجدادي الكبار الذين هم أولى بنا وأجدر أن نُدخِل في قلبهم السرور.

وجعلت بين هذه البضائع المرسلة كتابين –صغيرين في الحجم, كبيرين في الفائدة- لعلكم تستفيدون منهما, وسيسرني إن أمدَّ الله السبيل سوف أرسل إليكم الأكثر من الكتب المفيدة من شتى الفنون المتوفرة حولي, لما رأيت هذا الترسيل قد أصبح دَيْدَانًا يفعلها زملائي من طلاب العلم إهداءً لشيوخهم أو لخزنة مكتبة معاهدهم.

وأخيرا... ليس هناك أَسْمى حاجتي منكم إلا أن تداوم صالح دعواتكم لهذا الإبن الفقير, ليوفقه الله إلى كل خير أثناء مسيرته في طلب العلم, وأن يغتنم على أوقاته الذهبية وريعان عمره ليستفرغه في نيل المُنى, حتى لا يعود إليكم من هذا البلد خائبا حِرمانا. فصبر جميل على تحمل هذا الإنفصال القصير, فإن مسلك طريق العلم طويل وبعيد, فلا تعجل عليه! كما علمنا الله جل شأنه على لسان نبيه موسى عليه السلام حين يقول: {وإذ قال موسى لفتاه لا أبرح حتى أبلغ مجمع البحرين أو أمضي حقبا}. و"حُقُبًا" جمع حقبة هي مدة بمقدار عشر سنوات, ولهذه المدة الطويلة تهيأ موسى على طلب العلم من حضر -عليهما السلام-.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتة.

Tuesday, May 31, 2016

Doa Merangsang Kecerdasan

Pilihan mengenyam pendidikan di luar negeri seharusnya mendorong kita untuk siap berkompetisi lebih luas. Bukan sebatas kompetesi sesama pelajar Indonesia, tapi dengan semua wafidin dari berbagai penjuru dunia. Ulama Nusantara tempo doeloe itu luar biasa hebatnya, mereka bukan sekedar belajar di Masjidil Haram, tapi juga berhasil menjadi pengajar bahkan imam di kiblat Umat Islam itu, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib Minangkabawi, Syaikh Yasin Fadani dan Syaikh Hasyim Asy’ari misalnya.

Diantara putra Indonesia yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia belajar Internasional, yaitu Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid. Beliau memiliki daya saing yang tinggi dengan rekan-rekan belajarnya yang handal. Semasa belajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah, perguruan tinggi yang bergengsi kala itu di Hijaz, beliau satu kelas dengan Syaikh Zakaria Abdullah Bila.

Syaikh Zakaria Bila sendiri merupakan Ulama besar di Makkah Al-Mukarromah. Pangkat sebagai pengajar di Masjidil Haram, kitab-kitab yang ditelurkan dan murid-murid yang dicetak menjadi saksi kapabilitas keilmuannya. Namun selama belajar di Ash-Shaulatiyah, beliau hanya meraih ranking kedua di bawah mahasiswa asal pelosok Indonesia, bernama Zainuddin Abdul Majid.  Hal ini membuat Syaikh Zakaria menjadi ghibthoh (cemburu) terhadap raihan teman akrabnya itu. Beliaupun mulai men-stalking aktivitas sehari-sehari kawannya. Ternyata prestasi yang diraih Zainuddin memang tak lain berkat kegigihan berkutat dengan kitab-kitab, ia betah berlama-lama mendekam di perpustakaan melahap semua muqorror (diktat kuliah).

Diceritakan, Syaikh Zainuddin kalau sudah tenggelam dalam kenikmatan belajar, ia tidak menghiraukan makan minum atau apapun yang terjadi di sekitarnya. Pernah ketika beliau belajar, lentera belajarnya tersenggol dan menjalar ke pakaian yang dikenakan, tapi ia tetap saja asyik belajar. Bisa gawat kalau insiden itu tidak segera diketahui oleh kawannya. Memang benar keterangan Syaikh Abdul Fatah Abu Gudah dalam kitab “Qimatuzzaman ‘indal Ulama”, tentang bagaimana prestise waktu di mata orang-orang sukses.

Maka Syaikh Zakaria mempunyai ide untuk mengerjai mahasiswa kutu buku itu. Suatu malam menjelang imtihan, ia menyusup ke perpustakaan dan menyembunyikan semua muqorror yang biasa dibaca Zainuddin. Dengan demikian, Syaikh Zakaria menduga prestasi Zainuddin akan down pada imtihan kali ini karena tidak berkesempatan muzakaroh. Tapi ternyata prediksi itu meleset, lagi-lagi Zainuddin mendapat nilai mumtaz seperti biasa.

Artinya rahasia kejeniusan Syaikh Zainuddin tidak hanya diperoleh dari “Study Hard”, melainkan didukung oleh kedekatannya kepada Allah dan juga kekuatan doa. Beliau istiqomah mengamalkan doa-doa dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta doa-doa yang diterima dari para gurunya. Salah satu doa yang istiqomah beliau panjatkan yaitu petikan “Ad-Da’wah Ad-Dimyathiyah”, doa dahsyat berbentuk Qosidah yang disusun oleh Syaikh Nuruddin Ad-Dimyathi, asal Dimyat Mesir, sehingga beliau dianugerahi Allah ingatan yang kuat dan mudah memahami setiap ilmu yang dipelajari.

Rahmat Allah untuk kedua Ulama panutan kita ini. Syaikh Zakaria mengajarkan kita agar memiliki rasa cemburu kepada hamba Allah yang lebih baik ilmunya, sebagai Booster agar lebih semangat belajar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh iri kecuali pada dua tipe orang. Pertama, iri kepada lelaki yang Allah anugerahkan ilmu. Kedua, iri kepada lelaki yang Allah rezekikan harta untuk diinfakkan di jalan Allah.”


Rahmat Allah untuk Syaikh Zainuddin. Beliau memperlihatkan kepada kita kegigihan dalam belajar dan kekuatan hubungan dengan Sang Kholiq yang menjadi kunci mendapatkan ilmu nan luas dan barokah.

Sunday, April 10, 2016

SYAIKH AL-LAHJI DAN UPAYA REVITALISASI TURATS

Prolog

Menelisik perkembangan Bahasa Arab, Maulana Syaikh Fathi Hijazi pernah menyebutkan bahwa kemurnian bahasa ini mulai terdeterminasi 150 tahun sebelum Rasulullah SAW diutus, setelah melalui penyaringan dari sekian lahjah kabilah-kabilah Arab. Dengan turunnya Al-Qur’an, standar keindahan itu semakin memuncak. Puncak kemurnian dan keindahan itu terus berlanjut hingga abad ke-3 Hijriah.
Di samping faktor pergumulan dengan Bangsa ‘Ajam, faktor eksternal juga turut memicu kerusakan media komunikasi Kaum Arab ini. Para pembenci Islam berupaya merusak kefasihan umat Islam demi menjauhkan mereka dari pedomannya, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bangsa Tartar misalnya, setelah membumi-hanguskan Bagdad dan membakar semua kitab peninggalan ilmuan Islam. Mereka menggalakkan penulisan dengan Bahasa Asing. Penulis  yang menjalankan misi ini dibayar mahal. Sementara peredaran tulisan berbahasa Arab dicekal.
Syaikh Fathi menambahkan, karya-karya sastra yang tercipta di atas abad ke-3 H mulai mengalami degradasi. Walau sebenarnya pada era ini muncul banyak penyair handal. Tetapi mi’yar kemunduran yang dimaksud tak semata dinilai dari kualitas uslub dan teknik, tapi mencakup motif penciptaan dan moral value yang dititip. Al-Mutanabbi misalnya, penyair papan atas di Era Abbasiah. Qosidah-qosidahnya yang bombastis kerap dijadikan referensi kaidah Sastra Arab. Sayang, kelihaian ini sampai menjebaknya pada keangkuhan, dengan jumawa dia berkata:

أَنَا الَّذِى نَظَّرَ الْأَعْمَى إِلَى أَدَبِي **** وَأَسْمَعْتُ كَلِمَاتِي مَنْ بِهِ صَمَمُ
الخَيْلُ وَاللَّيْلُ وَالْبَيْدَاءُ تَعْرِفُنِيْ **** وَالسَّيْفُ وَالرُّمْحُ وَالْقِرْطَاسُ وَالَقْلَمُ

“Akulah yang memelekkan orang buta pada bacaan sastra.. Akulah yang memperdengarkan kata-kataku pada orang tuli..
Kuda, malam, padang pasir, pedang, tombak, kertas dan pena.. Semuanya mengenal siapa aku (mengakui kemampuanku dan tunduk padaku)”

Suatu malam ketika ia dan puteranya menyeberangi kesunyian padang pasir, sekawanan perampok bersenjata tajam mencegat mereka dan merampas harta Al-Mutannabbi. Melihat Al-Mutanabbi menyerah, bocah yang menemani berkomentar: “Bukankah kau pernah bilang ‘Pedang, tombak, kertas dan pena semuanya mengenal siapa aku’. Lalu kenapa kau takut pada pedang mereka?”. Tak mau gengsinya runtuh, Al-Mutanabbi mengejar perampok itu. Ironisnya kenekatan itu berujung petaka, ia ditikam dan tewas. Sejarahpun mengecapnya sebagai salah satu penyair yang terbunuh oleh lidahnya sendiri. Rahmatullah ‘alaih wa magfiratuhu lahu.

Perubahan dan perkembangan memang sebuah keniscayaan. Setiap karya yang lahir di suatu masa merupakan representasi inovasi yang terjadi di masa itu, dan kini dunia tulis-menulis tengah berkembang pesat. Kita hidup dimana buku bisa terbit setiap hari, penulis produktif menjamur dengan berbagai nuansa tulisan, ilmiah, dakwah, pengembangan diri, fiksi dan non-fiksi. Potret ini menjadi angin segar yang layak disyukuri dan apresiasi. Namun patut disayangkan apabila tujuan penulisan ternyata untuk komersil, mencari popularitas, atau cuma jiplakan. Tidak heran tulisan tersebar banyak, namun jangkauan manfaat belum jauh membawa umat menuju kemajuan dan memperbaiki moral. Karena semua usaha diukur oleh Allah berdasarkan kadar keikhlasan. “Innama al-A’malu bi an-Niyyat.”
Disinilah letak perbedaan karya masa kini dengan kitab-kitab masa lampau yang kita kenal dengan Turats. Para ulama salaf berkarya berasaskan fithrah salimah, mengharap keridhaan Allah SWT, memenuhi panggilan jiwa untuk menebarkan manfaat dan menjadikannya ladang pahala. Tak ayal bubuhan tinta mereka telah memberi sumbangsing besar bagi kemajuan peradaban di dunia. Tidak dimungkiri, revolusi Eropa dari dark ages menuju renaissance (marhalah an-nahdloh al-Urubiyyah) tidak lepas dari pengaruh kitab Ulama Islam yang mereka kaji dengan mendalam.
Dr. Ahmad Sulaiman dalam artikel di Majalah Bulanan Al-Azhar berpendapat, untuk menggapai kembali kejayaan umat masa lalu, Umat Muslim harus merujuk kitab-kitab turats dan mengembangkannya sesuai tepat guna. Ulama menganalogikan, umat ini sedang mengidap penyakit, para dokter sudah berhasil mendiagnosa jenis penyakitnya, lalu memberikan resep obat. Obatnya ada di depan kita, yaitu menghidupkan peninggalan ulama kita yang terkubur debu-debu di rak perpustakaan. Harta berharga yang diwariskan dari Nabi melalui ulama generasi ke generasi, karena Nabi tidak mewariskan harta berbentuk emas dan perak. Maka ketika berkutat dengan kitab, sejatinya kita sedang menggali harta karun yang masih terpendam.

انَّ الْأنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا٬ وَإِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ٬ فَمَنْ أَخَذَ مِنْهُ أَخَذَ بِحَظَّ وَافِرٍ

“Para Nabi tidak mewariskan harta berupa dinar atau dirham. Mereka mewariskan ilmu yang banyak untuk umatnya. Siapa saja yang mengambil bagian dari warisan itu, sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.”

Syaikh Al-Lahji dan Kitab Turats

Diantara yang mencurahkan perhatian besar kepada Kitab Turats adalah Syaikh Abdullah Al-Lahji. Kedekatannya dengan turats berpengaruh banyak pada pribadinya, bahkan genre dan gaya Bahasa goresan pena beliau persis gaya kitab Turats, sebuah skill yang tidak banyak dimiliki orang di zaman mutakhir.
Al-Magfurulah Syaikh Zainuddin Abdul Majid pernah bertanya kepada salah seorang muridnya, “Menurutmu mana yang lebih baik antara Syaikh Isma’il Utsman Zain dibanding Syaikh Abdullah Al-Lahji?”. Murid yang ditanya tentu kaget. Bagi alumnus Madrasah Ash-Shaulatiyah pertanyaan dilematis tersebut kira-kira setara dengan pertanyaan kepada seorang Al-Azhari, “Mana yang lebih baik, Syaikh Ahmad At-Thayyib ataukah Syaikh Ali Jum’ah?” Dua guru yang mendapat perlabuhan cinta tersendiri di hati semua murid.
Ketika sang murid terpaksa memilih Syaikh Isma’il, Ulama besar Bumi Selaparang itu justru punya penilaian tersendiri, “Menurutku, Syaikh Abdullah Al-Lahji lebih top. Coba kau perhatikan uslub tulisannya! Sangat elegan, bergaya uslub turats yang sangat sulit ditiru oleh penulis di zaman ini.”
Diantara karya yang menjadi saksi keikhlasan dan keluasan ilmunya, yaitu Kitab Muntaha As-Sul yang merupakan syarah Kitab Wasa’ilul Wushul ila Syama-il Ar-Rasul karya Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Yusuf bin Isma’il An-Nabahani. Kitab yang mengajak kita berkenalan lebih dekat dengan kemuliaan akhlak, sifat, syama’il dan keseharian Baginda Rasulullah SAW.
Ketika Syaikh Al-Lahji terbaring sakit menjelang wafat, murid tercintanya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki datang menjenguk. Dengan kondisi lemah, beliau meminta Abuya Sayyid Muhammad membaca sebuah naskah yang beliau simpan. Mata Abuya berbinar membaca tulisan menawan hati yang belum dibaca sebelumnya. Abuya tidak membayangkan itu tulisan milik siapa dan tidak terpintas untuk bertanya. Setelah beliau wafat, barulah beliau tahu itu milik guru tercinta. Beliau mengumpulkan naskah itu dan dicetak atas kemurahan hati beliau lalu dibagikan secara gratis.
Pengarangnya sendiri memang tidak mendapat royalti atas buah jerih payahnya selama bertahun-tahun, namun pahala amal jariyah dengan izin Allah akan terus mengalir kepada ruhnya karena keikhlasan itu.

Mengenal Syaikh Abdullah Al-Lahji
Syaikh Abdullah Sa'id Al-Lahji bersama Syaikh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Syaikh Al-‘Allamah Al-Faqih Al-Muarrikh Abdullah bin Sa’id Al-Lahji Al-Hadhromi lahir di Kampung Lahj, Yaman, 1343 H. Setelah menyisir penjuru Bumi Aulia “Yaman” untuk belajar dari sekian Ulama’nya, beliau menuju Makkah tahun 1374 H, bermukim selama setahun lalu pulang ke Yaman. Beliau kembali ke Tanah kelahiran Nabi SAW itu tahun 1377 H dan menetap disana sampai beliau wafat.
Keilmuannya diakui oleh penduduk Makkah, beliau dijadikan rujukan dalam Fiqih dan diangkat sebagai mufti Madzhab Syafi’iy. Di samping bertugas sebagai pengajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah, Al-Azhar-nya daratan Hijaz, perguruan tinggi tertua dan ternama pada masa itu, beliau juga membentuk halaqah di Masjid Al-Harom. Dari Rahim halaqah ilmiahnya telah lahir banyak Ulama sekaliber Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dan setiap yang berkesempatan mukim di Tanah Suci masa itu tidak ketinggalan kecipratan barokah ilmunya.
Syaikh yang bersahaja ini menjadi guru yang spesial di mata murid. Selain karena ketajaman ilmu, beliau memiliki selera humor yang tinggi untuk menghibur mahasiswanya di Madrasah Ash-Shaulatiyah. Di siang bolong ketika terik panas Arab memuncak, perut murid tengah keroncongan, dan peraturan perkuliahan yang ketat, di waktu ini beliau menutup pelajaran dan mulai berguyon dengan cerita-cerita lucu hingga muridnya terpingkal-pingkal melupakan rasa lapar.
Walaupun hidup di zaman kemajuan teknologi, Syaikh Al-Lahji kurang tertarik menikmati fasilitas canggih, jarang mengendarai mobil dan tidak pernah menggunakan pesawat. Ketika beliau ditanya kenapa tidak mau naik pesawat, dengan santai beliau menjawab: “Saya takut nanti pesawatnya kehabisan bahan bakar ketika terbang, sedangkan di atas sana tidak ada SPBU. Atau jatuh bautnya, sedang di atas sana tidak ada bengkel.” Mendengar jawaban itu, sontak para santri tertawa.
Sejatinya sikap beliau itu bukan karena takut, melainkan cerminan kezuhudan, wara’, ketawadhu’an dan kewaspadaan dari rasa tinggi. Ketinggian berbentuk apapun berpotensi membuat seseorang merasa jumawa. Hal ini beliau singkap dalam Kitab Muntaha As-Sul pada uraian Hadits tentang kebiasaan Rasulullah SAW membaca “Allahu Akbar” menjelang Khotaman Al-Qur’an dan setiap menginjak dataran tinggi.
Sunnah ini menyiratkan pesan, ketika seorang berada di posisi atas, hendaknya dia segera mengikrarkan keagungan Allah agar ia segera menyadari kedhaifannya. Posisi puncak -seperti mendapat predikat mumtaz, menang dalam kompetisi, mendapat ribuan like di facebook, khotam Al-Qur’an dan Kutubussittah- bisa membuka celah menyusupnya rasa ujub dalam diri. Hikmah melafazhkan takbir diharap bisa menge-rem sifat yang berasal dari Iblis laknatullah itu.
Setelah lama mengabdikan hidupnya dengan jihad ilmiah, Syaikh Al-Lahji berpulang ke Rahmatullah pada malam Ahad 26 Jumadal Ula 1410 H, setelah menderita sakit ringan selama 2 atau 3 hari. Jenazahnya digiring ke Ma’la oleh massa besar yang terdiri dari Ulama, thullab dan pencinta beliau.
Syaikh Al-Lahji selalu berpesan kepada murid yang akan pulang ke negerinya usai menuntaskan akademik, “Pulanglah, dan jangan pisahkan dirimu dengan kitab-kitab turats!”
Allah SWT mendorong hamba-Nya agar berlomba meraih manfaat dari warisan yang berupa Kitab Al-Qur’an, Kitab-Kitab himpunan Hadits Nabawi dan Kitab-Kitab ulama salaf. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Fathir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذالِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْر

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”


Monday, April 4, 2016

Tiga Ulama Idola

Mulai dari kemiripan fisik, wajah yang putih bersih memancarkan aura kesucian hati dan pola janggut yang putih tipis melingkari tepi muka. Usia mereka sebaya, 70 tahunan. Penampilan mereka berwibawa dan meyakinkan layaknya ahli ilmu. Sama-sama memiliki ilmu yang luas, juga gigih dan ikhlas dalam menyebarkannya. Akhlak-akhlak terpuji melekat pada pribadi mereka. Teguh berpegang pada credo Ahlussunnah wal Jama’ah, bermanhaj Wasathiy dan tegas membendung paham radikal dan liberal.
Itulah sekilas kesamaan yang saya tangkap dari tiga sosok Ulama yang dicintai, dikagumi dan diidolakan oleh semua pelajar di Mesir. Oleh semua yang mengenal mereka pada umumnya. Ulama Kibar yang membuat tanah Mesir yang gersang ini terasa Surga bagi penuntut ilmu.

·         Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Bai’its Al-Kattani

Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Ba'its Al-Kattani
Ayahanda Sayyid Muhammad Al-Kattani merupakan Ulama besar di Alexandria. Nasabnya bersambung sampai Nabi SAW melalui jalur Imam Husein RA Sayyid Syabab Ahlil Jannnah.
Ibunya wanita yang rajin ibadah, pendiam, giat membaca Al-Qur’an dan melantunkan shalawat, sering menangis karena takut kepada Allah, sangat setia kepada suami, ketaatannya bak seorang murid kepada guru, tidak pernah mengeraskan suara dan tidak pernah meminta macam-macam kepada suami. Dalam penantian kelahiran puteranya, wanita shalehah itu membeli kitab Shahih Bukhori untuk diwakafkan kepada para pelajar Hadis. Sedekah itu mengatas-namakan Muhammad, nama yang akan disematkan untuk puteranya.
Sayyid Muhammad Al-Kattani lahir pada Hari Senin, 27 Rajab 1365 H/1 Juli 1946 M, di Alexandria. Tumbuh di bawah asuhan istimewa orang tuanya. Tidak senang bermain seperti anak-anak kecil pada umumnya. Dari sejak kecil, ia menampakkan kecerdasan yang luar biasa, hafalan yang kuat dan gairah yang tinggi dalam belajar, terlebih dalam bidang Hadits An-Nabawi Asy-Syarif.
Berkat dorongan dan bimbingan ayahnya, di usia muda beliau hafal seluruh matan hadits dalam Shahih Hadits Bukhori (7.397 buah hadits) lengkap dengan sanadnya. Melihat kejeniusan puteranya, sang ayah sangat bangga, diungkapkan kebangganya dalam petikan syair:

أقر الله عيني يا محمدا    بتوفيق لشخصك في الأنام
ودمت بصحة دنيا ودينا    يحالفك النجاح بلا انصرام
ولا زلت المقدم في البرايا  بحب الله والهادي التهامي

Para penuntut ilmu memang layak memburu barokah ilmunya, apalagi beliau memegang sanad keilmuan yang tinggi, karena dapat mengambil sanad hadits dari Syaikh Sayyid Abdullah Shiddiq Al-Gumari, Syaikh Hafizh At-Tijani, Syaikh Shalih Al-Ja’fari dan ulama besar lainnya.
Karya tulis beliau memang tidak banyak, sebab kesibukan beliau yang sangat padat mengajar setiap harinya. Namun sedikit itu sangat luar biasa, bersumber dari pemikiran orisinil dan relevan dengan konteks problema yang muncul di zaman sekarang, serta dibutuhkan untuk membantah syubhat dan kebatilan. Diantara karya beliau, Ibra’u ad-Dzimmah bi tahqiqi al-Qouli haula iftiráqil Ummah dan Naqlu al-a’dha’ bainal hilyati wal hurmah, Raddul Mutasyabihat ilal Muhakkimat fi janibi khotamin nubuwwat  SAW.
Selain sibuk mengajar di kota tempat tinggalnya, beliau biasa menyempatkan waktu menuju Kairo setiap Selasa awal bulan mengobati kerinduan para muridnya . Dr. Shalah Hamid berkata: “Kalau berbicara tentang Hadits, seolah beliau telah meringkas sekian banyak pendapat ulama-ulama Hadits terdahulu. Dan jika berbicara tentang tafsir, beliau menyingkap wajah penafsiran yang belum pernah disebutkan oleh ulama sebelumnya.”

·         Prof. Dr. Syaikh Ahmad Umar Hasyim
Syaikh Ahmad Umar Hasyim

Imam Asy-Syaukani (w. 1255 H) penyusun kitab Nailul Authar, ketika ada yang menyarankan beliau mensyarah Kitab Shahih Bukhori, beliau enggan dan menjawab: “La hijrota ba’dal fathi.” Bahwa setelah adanya Kitab Fathul Bari milik Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), tidak dibutuhkan lagi syarah setelahnya, karena sangat komprehensif dan lengkap.
Kita patut bangga, diantara Masyaikh kita masih ada yang mengerahkan waktu dan tenaga untuk mensyarah kembali Kitab Shahih Bukhori dengan analitik. Beliau adalah Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim, pakar hadits dan ulum hadits di universitas Al-Azhar. Sebelum mulai melaukan proyek Faidhul Bari (16 jilid) yang berlangsung selama 14 tahun ini, beliau telah minta restu ke Makam Rasulullah SAW di Madinah, makam Imam Al-Bukhori di Rusia dan mendapat legitimasi langsung dari Imam Ibnu Hajar. Mengingat perlu adanya tajdid sesuai perkembangan zaman. Berkat kedalaman ilmu di bidang Hadits, juhud dalam mengajar serta getol membantah syubuhat kaum ingkar Sunnah, tidak berlebihan mereka menyematkan gelar Amirul Mukminin fil hadits hadzal ‘ashr.
Murid kesayangan Grand Syaikh Abdul Halim Mahmud ini lahir 6 Februari 1941, di Bani Amir, Zaqaziq. Kafa’ah yang beliau miliki dalam banyak hal, mengantar karir hidupnya dihiasi beberapa kedudukan bergengsi, diantaranya menjabat rektor Universitas Al-Azhar tahun 1995-2003.
Bahasanya sangat indah, fasih dan agitatif. Puluhan karya tulisnya dibukukan, menjadi diktat kuliah dan tersebar di berbagai jurnal. Walaupun kini fisik sudah mulai termakan usia. Beliau masih sibuk membaktikan hayatnya di jalan ilmu. Di samping kesibukan mengajar di beberapa Universitas, beliau juga aktif memberi ceramah di Televisi. Kami biasa menghadiri Majelis Syarah Bukhori di Masjid ‘Asyiroh Muhammadiyah setiap Hari Rabu sore dan setiap Malam Jumat di Masjid Al-Bathowiyah Nuzhah. Juga kerap menjadi Khotib Jumat di Masjid Ar-Rohman Ar-Rohim.

·         Prof. Dr. Syaikh Thaha Dusuqi Al-Hibisyi

Syaikh Thaha Dusuqi Hibisyi
Ajaib! Kata yang tepat untuk menggambarkan pribadi beliau. Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, beliau mampu menguasai berbagai fan keilmuan. Tafsir dan Hadits, aqidah, fiqih, tasawuf, ilmu politik, ilmu filsafat, hafal Al-Qur’an dan hafal banyak kitab, diantaranya kitab Ihya Ulumuddin. Beliau terhitung sebagai pemikir besar umat islam kontemporer. Karya-karya tulis menjadi saksi kredibilitas keilmuannya.
Tidak sekedar mengajar melalui lisan dan tulisan, tapi juga melalui perilaku. Beliau memberi kita teladan dalam spirit belajar dan mengajar. Di Madhyafah Syaikh Isma’il Shadiq Al-‘Adawi, setiap Rabu malam setelah Isya, beliau mengisi majlis syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin. Sementara Sabtu sore, mensyarah kitab Al-Hikam Al-‘Atha-iyyah milik Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Tidak absen kalau bukan karena kondisi yang sangat mendesak.
“Anak-anakku, saya harap kalian istiqomah menghadiri majlis pengajian ini. Jika alasan kalian adalah jarak, maka saya juga datang dari tempat yang jauh (Giza-Darosah). Kalian juga masih dalam nikmat yang sangat berharga, masa muda dan masih segar. (sedangkan usia beliau sendiri sudah cukup lanjut)”. Paparnya dalam suatu kesempatan, menyentil diantara kami yang inkonsisten menghadiri majlis yang penuh barokah itu.
Allah menganugerahkan beliau nikmat yang besar. Jika banyak orang membuat dosa dari nikmat mata, maka beliau terbebas dari pintu dosa ini. Allah berfirman dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Abu Hurairah RA:

مَنِ ابْتُلِيَ بِبَصَرِهِ فَصَبَرَ حَتَّى يَلْقَي اللهَ لَقِيَ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang diuji dengan hilang penglihatan, maka dia bersabar sampai meninggal, dia akan berjumpa dengan Allah ta’ala tanpa dihisab”.

Tidak cukupkah sebagai bukti kesabarannya, beliau tabah dan tetap berjuang fi sabilillah melalui jihad ilmiah.  
Ketua jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar ini hidup dalam kewara’an. Setiap ada donatur yang berniat untuk menghidangkan makanan untuk muridnya, beliau selektif dan harus meyakinkan sajian itu terjamin halal. Beliau khawatir aka nada barang yang tidak terjamin halal masuk ke perut muridnya, bagaimana dengan makanan untuk beliau sendiri dan keluarga. Ajaran tasawuf Imam Al-Ghozali benar-benar meresap dalam pribadinya.

Setelah selesai menguraikan makna-makna Ihya Ulumuddin dalam durasi sekitar 1 jam. Salah satu muridnya men-tarannumkan madh kepada Rasulullah SAW, beliau senang sekali mendengarkan puji-pujian untuk Nabi kecintaan, senyumnya merekah menandakan kalau madh itu telah berhasil mengusir lelahnya berbicara.

Monday, March 14, 2016

AL-AZHAR DAN MODERASI ISLAM

Kalau Al-Azhar hanya sekedar institusi keilmuan, yang dihuni oleh para ulama bintang dan dikelilingi para pelajar yang dahaga akan ilmu. Di belahan negeri manapun, banyak institusi yang lebih hebat dan unggul ketimbang Universitas Al-Azhar.
Kalau Al-Azhar hanya sekedar khazanah literatur-literatur ilmiah. Di luar sana banyak perpustakaan yang jauh lebih besar dan lebih komplit menampung kitab ketimbang Maktabah Al-Azhar.
Kalau Al-Azhar hanya sekedar nama besar dan brand terkenal. Banyak yang bisa menandingi dan lebih bergengsi ketimbang popularitas Al-Azhar.
Lha… Memangnya apa yang membuat Al-Azhar begitu tinggi kedudukannya, berharga nilainya dan tetap berdiri kokoh seiring perguliran masa?
Sir-nya adalah karena keteguhan Al-Azhar berpegang pada manhaj al-I’tidal (Seimbang) dan benar-benar menjiwai Islam Wasathiyah (Moderat). Wasathiyah inilah manhaj yang sesungguhnya paling ampuh untuk menebarkan keindahan Islam dan keanggunan syari’at yang dibaliknya sarat hikmah dan maslahat, yang kebaikannya kembali ke manusia itu sendiri.
Dengan wasathiyah ini, Allah menjaga eksistensi dan kekelan umat Islam. Dengan wasathiyah-nya, umat ini dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla di hari kebangkitan kelak menjadi saksi bagi umat-umat terdahulu. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاس....

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilhan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia….”

Wasathiyah yang selalu dikibarkan Al-Azhar bukanlah omong-kosong belaka, melainkan berupa penerapan nyata yang selalu diaplikasikan dalam memecahkan berbagai persoalan krusial dalam Islam. Dari awal semenjak berperan vital dalam menyumbangkan pemikiran, Al-Azhar selalu berdiri teguh dengan pandangan yang netral. Misalnya dalam menyikapi perpecahan umat pasca al-Fitnah al-Kubro yang menjadi cobaan berat di abad pertama perkembangan Islam. Prinsip Al-Azhar terkait hal ini:
Pertama, Al-Azhar menyuarakan dengan lantang akan kewajiban memuliakan kedudukan para Sahabat -Ridhwanulla’alaihim Jami’a- dan menghukumi bahwa Sahabat semuanya adil, serta membela mereka dari setiap hinaan dan tuduhan keji. Berlandaskan Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam:

لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِي

“Janganlah kalian melempar celaan kepada para Sahabatku!”

أَصْحَابِي كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِم اقْتَدَيْتُمْ اهْتَدَيْتُمْ

“Para Sahabatku seperti bintang-bintang, siapapun mereka yang kalian jadikan panutan, niscaya kalian mendapatkan petunjuk.”

Prinsip kedua, Al-Azhar mengajak kaum muslimin untuk tutup mulut (baca: tidak berkomentar) terkait pertikaian yang terjadi di kalangan Sahabat RA, berdasarkan Qaul bijak yang terkenal dari Ulama as-Salaf ash-Shalih: “Karena Allah telah menjauhkan kita untuk ikut berperang bersama mereka, maka jangan mengotori  mulut kita untuk ikut-ikutan mencampuri permasalahan mereka.”
Prinsip ketiga, senantiasa melakukan pengecekan dan penelitian dalam meluruskan literatur-literatur sejarah yang didistorsi oleh setiap tangan tak bertanggung jawab, yang berusaha mencoreng kehormatan para Sahabat atas dasar kebencian, kedengkian dan fanatisme buta.
Netralitas pendirian juga diperlihatkan Al-Azhar dalam menyikapi perbedaan Madzhab Fiqih. Sejarah membuktikan bagaimana usaha Al-Azhar membangun kerukunan antar-madzhab. Berjuang mewujudkan kekompakan di tengah hantaman badai politik yang menggoncang keutuhan umat. Siasat busuk yang berulang kali mencoba memanfaatkan celah perbedaan madzhab sebagai penyulut permusuhan antar saudara seiman. Jalan persatuan inilah yang sejatinya ditempuh dan diperjuangkan semua madzhab.
Dari awal mengkristalkan pemikirannya, Al-Azhar menentukan konsep dalam mensinkronisasikan antara dalil Naql dan penalaran akal. Berpegang pada konsep Imam Al-Ghazali yang mengatakan:

لا معادة بين مقتضيات الشرائع وموجبات العقول

“Tidak ada kontradiksi antara ketentuan-ketentuan syariat dengan logika yang sehat”.

Hujjatul Islam juga berkonsep yang senada:

العقل كالبصر السليم, والقرآن والسنة كالشمس المنتشرة الضياء, ولا غنى لأحدهما عن الآخر

“Akal bagaikan mata yang sehat. Sedangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bagaikan Matahari yang memancarkan cahaya terang benderang. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.”

Dengan kenetralan ini, Al-Azhar yang melimpah ruah dengan literatur-literatul klasik (turats), sejalan pula dengan penalaran turats yang sistematis. Al-Azhar tidak condong atau berpihak pada arus tertentu, yang rentan menggiring akal secara pelan-pelan kepada batas saling kafir-mengkafirkan; atau kepada pergulatan logika yang berpotensi menjebak kita dalam memahami  keindahan Islam, kepada pemikiran yang tak terkendali bermoduskan gerakan modernisasi atau sekularisme yang fatal.
Semenjak mengkristalkan pemikirannya, Al-Azhar berjuang membentengi Agama dan Syariat dari serangan-serangan yang menerjang dari berbagai penjuru. Pertahanan Al-Azhar begitu kuat dalam meng-counter serangan kaum sekuler terhadap Islam, tehadap aneka upaya memporak-porandakan Islam dengan bermacam permainan dan manuver politik, upaya pengaburan dustur Syari’at yang memicu perang pemikiran di tubuh umat Islam. Walhasil perpecahan ini berefek sikap antipati pada Islam. Menyadari tantangan ini, Al-Azhar menawarkan sikap bijak dan toleransi dalam menyikapi perbedaan.
Deskripsi Moderasi seperti di atas, dalam sejarah panjangnya dipilih dan dipertahankan oleh Al-Azhar Asy-Syarif. Al-Azhar ingin menampakkan wajah Islam yang sebenarnya, yang murni, yang sangat indah, yang harum citranya!!
Al-Azhar dalam menghadapi permasalahan tidak pernah asal-asalan dan rancau, melainkan berdasarkan proses ijtihad yang terarah sehingga menghasilkan konsep yang solutif. Namun perlu diingat, Al-Azhar dalam cita-cita Wasathiyyah ini tidak pernah keras dan ngotot memaksakan konsepnya diterima oleh kelompok yang berseberangan karena merasa paling benar.
Moderasi ini bukan sekedar hasil kompromi dangkal dalam menyatukan kelompok-kelompok yang berseteru, sehingga Al-Azhar tidak mudah dieksploitasi oleh kelompok tertentu sebagai penyokong mencapai misi pribadinya. Justru Moderasi Al-Azhar selamanya berupa pendirian yang jelas dan pandangan yang berlandaskan pada sumber-sumber hukum Islam yang Qath’iy, semata demi mewujudkan kemaslahatan Umat Muslim, dan berharap Wasathiyah ini menjadi solusi yang bisa menuntun umat di kala tersesat jalan atau saat terpecah belah karena hawa nafsu.

======================================
Disadur dari artikel Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhil Al-Qushi
(Anggota Persatuan Ulama Senior dan Mantan Menteri Perwaqafan)
Judul asli: Ru’yah Islamiyyah fii Qadhaya Al-‘Ashr
Publikasi oleh: Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional, Maktabah Darus Salam

Terjemah oleh: M. Zain (Pembelajar Bahasa Arab Tingkat Pemula)

Thursday, March 3, 2016

Ucapan Selamat Ulang Tahun Mamik

بينما أنا أتمتع أمام الفيسبوك في لحظة بعد رجوعي من الدراسة٬ إذ وجدت في الصفحة متوافرا من التهنئات٬ يلقيها زملائي لمناسبة ذكرى ميلاد مولانا وتاج رؤوسنا فضيلة الإمام علي جمعة حفظه الله٬  من أبرز علماء المسلمين المعاصر٬ حامل ميراث النبوة المحمدي٬ ناصر أهل السنة والجماعة٬ صاحب المألفات العديدة النافعة٬.

فكم تفاجئت لما لفت نظري إلى تاريخ ميلاد هذا الإمام –الذي ولد في الثالث من مارس- حيث يوافق وقوعه بتاريخ ميلاد أحب رجل إليّ٬ وأعظم أبطال في حياتي٬ ألا وهو أبي الحبيب الكريم٬ الذي لا يزال فخري بشخصيته يزداد كلما تغيرت الأيام. وأصبح ما وجدت هذا لأول مرة مزيدا على هذا الافتخار الطبيعي.

فوقفت متحيرا بعد ما وعيت عن تصادف ميلاده اليوم٬ فماذا أفعل؟ الحفلة والتهنئة في يوم الميلاد ليست من عادة أسرتنا٬ بل هي أمر ينسى على الدوام.

بيد أني الآن٬ أودّ أن أوجّه كلمات قصيرة بَسِيطَة بصدد هذه الكتابة٬ تحفة له وإبرادا على شدة شوقي بعد لم أراه منذ نصف سنة. رغم أني لست من أصحاب الموهبة في مجال الكتابة٬ ولست من أهل البلاغة٬ ولست بارعا في دقة اختيار الكلمة الرائعة. ولكن ذرني أكتب حسبما ينبع من أعمق فؤاد الولد الحقير تلقاء والده الجليل.

يا أبتِ...

أولا٬ أشكر ربنا تبارك وتعالى على فضله و مَنِّه العظيم٬ إذ أذن لي أن أُنجب من الوالدين المسلمين المطيعين لله ورسوله والمشفقين للأبناء٬ ونشأت في كنفهما فرسَّخ في قلبي حب الله وحب حبيبه المصطفى صلى الله عليه وسلم٬ وتربيت تحت أحضانهما بالتربية الحسنة والشفقة الخالصة والرعاية الفائقة.

و أشكر أباك -جدي حفظه الله- وأمك –جدتي طيب الله ثراها-٬ إذ جهزاك أن تكون أبا متفوقا لأبنائه.

يا أبتِ...

ما أحلى الحبّ الذي ذقته منك منذ نعومة أظفاري حتى الآن٬ أينما كنتُ و لو أيّ مدَى مسافة كانت تفرق جسدنا٬ لا ينفك قلبي من شعور قربك وقوة محبتك وعجائب دعائك

*أنت كالشمس مجراها بعيد*
*وضَوْؤُها قريب وقلبي بالبعيد موكّل*

عذرا على قصري في جزاء حبك وعلى عجزي أن أكون ولدا بارّا وقرة عين لك. و ما أنا بقادر على أن أقول أشياء كثيرة. كفى العينين التين ذرفتا بالدموع شهيدا على عشقي٬ وكفى الدعاء مكافئة على كل القصر..

اللهم اغفر لي ولوالدي وارحمها كما ربياني صغيرا..

اللهم إنك تعلم أنه الآن قد بلغ سنّ انتقال رسولك صلى الله عليه وسلم إلى جوارك٬ بفضلك وكرمك أطل له بقاءً بجورانا٬ فإننا لانزال في شدة الحاجة إلى الإستفادة منه ولا نستغني من أنشاطه. وأَلْبِسْه الصحة والعافية في طاعتك٬ واملأ قلبه بالإيمان والتقوى٬ وزيِّن أخلاقه٬ واحفظه من جميع الآفات والمكروه٬ واحرسه في كل خطوة تخطها في خدمة الأمة المحمدية٬ ويسر له في قياد زمام معهد دار الكمال٬ ووفقه إلى كل خير في وظائفه مصلحا ومنهضا للشباب..

إنك على ما تشاء قدير وبالإجابة جدير. وصلى الله على صفوة الخلق نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين.



Monday, January 18, 2016

Strategi Tahfizh ala Strategi Sepak Bola


القُرْآنُ نُزِلَ فِي مَكَّةَ وَقُرِأَ فِي مِصْرَ
“Al-Qur’an diturunkan di Makkah dan dibaca di Mesir”.

Entah benar atau tidak, setidaknya adagium di atas teramini dengan eksistensi talaqqi-talaqi Al-Qur’an yang tersebar luas pada Masjid-Masjid di atas muka Bumi Kinanah. Tahsin cara membaca dan menyetorkan hafalan face to face di hadapan para Masyaikh Mesir yang handal dalam ketajaman hafalan dan Qira’at dengan rantai sanad bersambung sampai Rasulullah SAW.
Konon para masyaikh ini sangat baik dalam memperlakukan para muta’allim Al-Qur’an. Dengan sabar membenarkan bacaan yang tidak tepat, menyalakan pijar api semangat muridnya dalam jihad tahfizh, tak jarang bahkan memberi fasilitas berupa makanan dan uang saku. Dengan potret Bi’ah (lingkungan) kondusif seperti ini, rugilah Masisir yang tidak memanfaatkan keberadaannya disini untuk berakrab ria dengan Kitab Suci, yang merupakan pesan cinta dari Tuhan yang Maha Cinta.
Bagi yang tinggal di Darosah, bisa memilih ikut program tahfiz di Imam-Imam Masjid Al-Azhar, Masjid Sayidina Husein RA, Masjid Shaleh Al-Ja’fari atau tempat-tempat lainnya. Kendati demikian, Si Ujang lebih memilih belajar ngaji sama Syaikh yang Andunisiy dulu. Selain agar mempermudah komunikasi, ujang juga malu dengan bacaan yang masih sangat buruk dan tabungan hafalan yang sedikit.
Setelah maju mundur, Senin 26 Oktober 2015 Ujang menuju Sahah Indonesia tempat Ustadz Ali Irham setia duduk dari pukul 8 pagi sampai Magrib menyimak satu persatu yang datang sorogan. Program ini berjalan dua kali dalam sepekan, Senin dan Rabu.
Tak dinyana, dalam sorogan perdana itu, Ujang bagai anak yang baru belajar ngaji. Seratusan kali Ustadz El membenarkan bacaannya dalam kekeliruan Makhorijul Huruf, Tajwid dan Waqaf wal Ibtida’ sesuai pen-tathbiqan Qira’ah riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim, jalur Imam Syatibi. Saat itu Ujang masih belum tuntas menghafal Juz 1, sementara 10 juz terakhir yang pernah dihafal sudah 2 bulan tak dimuroja’ah.
Setelah Shadaqallah, sebelum Ujang melenggang pulang, Ustadz El berpesan kepada Ujang agar mengatur strategi yang jitu dalam menghafal Al-Qur’an. Dimana menambah hafalan (Al-Hifz) dan mengulang (Al-Muroja’ah) harus berjalan serasi. Bahkan Muroja’ah muqoddamun ‘ala at-tahfiz. “Nambah hafalan itu sunnah, Mas. Muroja’ahnya yang wajib.” Kata Ustadz El yang biasa memanggil muridnya Mas Fulan.
Soal mengatur strategi, hati Ujang tiba-tiba membayangkan, mengatur strategi dalam menghafal Al-Qur’an seperti memasang taktik dalam permainan sepak bola saja. Dalam permainan sepak bola, pelatih memiliki tiga opsi taktik yang bisa dipilih demi kemenangan tim besutannya:
1.      Starategi Ofensiv (Menyerang)
Melancarkan serangan, habis-habisan menggempur lawan demi mencetak gol yang banyak. Sedangkan kekuatan lini pertahanan diabaikan. Kelemahan strategi ini, saat lengah, musuh bisa leluasa membobol gawangnya. Alih-alih menang besar, kelemahan perhatanan justru menjadi petaka kekalahan. Kecuali tim yang memang dihuni pemain berkelas.
Ini mengacu kepada penghafal Al-Qur’an yang terlalu bersemangat menambah hafalan dan mengabaikan urgensi muroja’ah. Merasakan kesuburannya ia kian bersemangat terus-menerus menambah. Alih-alih cepat hafal 30 juz, setelah menyadari kekalutan hafalan yang tak pernah dimuroja’ah, justru itu menjadi bumerang yang membawa keputus-asaan. Kecuali penghafal dengan daya ingat yang memang kuat. Nas-alullah al-istiqomah wal mudawamah.
2.      Strategi Defensif (Bertahan)
Sebaliknya dari ofensif. Para pemain setia berdiri di garis pertahanan, bak parkiran Bus. Tidak berani mengambil risiko dengan menyerang. Terlepas dari Counter-Attack, walaupun penganut Defensifisme ini tidak kebobolan, tapi susah juga untuk mendapat kemenangan.
Mengacu kepada penghafal Al-Qur’an yang takut beralih ke hafalan baru dan hanya bertahan dengan terus mengulang hafalan lama. Berarti ga nambah-nambah dong.
3.      Strategi Balance
Inilah totalistas yang sesungguhnya. Penghafal Al-Qur’an bisa menyeimbangkan waktu untuk hifzh dan muroja’ah. Metode inilah yang seharusnya diterapkan bagi penghafal dengan daya otak standar. “Sebaik-baik perkara adalah yang seimbang”.
Tak dimungkiri, sulit memang menerapkan Balansis dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Butuh keseriusan menyediakan waktu khusus bersama Al-Qur’an. Dalam hal ini, Ust El bilang “Satu hari 4 jam, itu minimal yang tidak bisa ditawar-tawar.” Waktunya bisa diatur fleksibel sesuai kesibukan harian yang lain. Adapun Ujang membaginya seperti ini;
a.      Satu jam setelah shalat subuh untuk menambah 1 halaman
b.      Satu jam setelah zuhur menambah 1 halaman lagi
c.       Satu jam setelah Ashar mengokohkan yang tadinya ditambahkan
d.     Satu jam setelah Isya untuk muroja’ah satu juz
Kalau yang dihabiskan untuk Al-Qur’an hanya 4 jam saja dalam sehari, masih ada waktu merdeka sepanjang 20 jam. Sebenarnya masih bisa ditambah.
Ujang sendiri pada awal mula tiba di Mesir biasa mengikuti banyak talaqqi Kitab di samping kewajiban Darul Lughoh. Mau tidak mau, kesibukan-kesibukan lain harus dipangkas (bukan membabat habis). Karena bagi Ujang, menghafal Al-Qur’an adalah prioritas utama untuk tahun pertama di Mesir. Apalagi setelah mendengar pendapat Ulama muda Maroko, Syaikh Sa’id Al-Kamali mengatakan “Syarat minimum untuk menjadi Ulama adalah harus hafal Al-Qur’an, tidak bisa ditawar.”
Singkat cerita, dalam kurun 3 bulan, berkat ketegasan Ust El menerapkan taktik Balance pada setiap muridnya, Ujang sudah bisa menambah 5 juz pertama. Sambil sesekali masih bisa mereparasi hafalan lama.
Adapun masalah proses, memang butuh waktu. Nikmati saja kelezatan sejati yang didapat saat bercengkrama dengan Tuhan melalui pembacaan Kalam-Nya. Lupakan langkah cepat, metode 3 bulan hafal 30 juz dan tajuk buru-buru sejenisnya. Yang Allah nilai dari hamba-Nya bukan hasil, tapi bagaimana proses ia berjuang menggapai hasil. Allah berfirman:
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى. (النجم: 40-41)

Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk meraih cita-cita mulia ini dan memohon kepada-Nya untuk meluruskan niat, Al-Qur’an bukan untuk orientasi (Aghrod) duniawi, bukan untuk menjadi kebanggaan, atau untuk mencari harta. Akan tetapi semata agar menjadi Hamba yang istimewa di Mata Allah. Sebagaimana bisyarah yang dikhabarkan oleh Rasul-Nya:
أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُه
“Ahlul Qur’an (yang menghafal, membaca, mentadabburi, mengamalkan dan mengajarkannya) mereka adalah para wali Allah dan orang-orang special di sisi-Nya.” ~HR. Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah~

اللّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَشِفَاءَ صُدُوْرِنَا وَنُوْرَ أَبْصَارِنَا وَذهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا, وَقَائِدَنَا وَدَلِيْلَنَا إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيْم, ذكر منه ما نسينا, علمنا منه ماجهلنا.

اللهم وَفِّقْنَا لِحِفْظِ القرآن وأن نَتْلُوَهُ آناءَ الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا, واجعلنا ممن يقيم حروفه وحدوده, نعوذ بك أن نكون ممن يقيمون حروفه ويضيعون حدوده.